Ke Atas untuk Turun ke Bawah

Pernahkah anda merasa bahwa anda kurang berkompeten ? kurang mempunyai sumber daya kemampuan? atau kurang mengusai bidang tertentu dimana anda saat ini berada, atau sepertinya terjebak oleh waktu. Meski kita tahu Allah tidak pernah keliru menempatkan kita selalu ada yang ingin disampaikan-Nya, entah anda mengerti  atau tidak, tapi Allah punya cara terbaik untuk membuat anda paham pada waktunya. Pengetahuan saja tidak membuat kita sadar, ternyata cahaya tidak selalu membuat mata kita bisa melihat, atau mata yang terbuka tidak selalu melihat dengan tepat. Mata mungkin melambangkan pengetahuan, tapi tidak berarti kesadaran, dan kegelapan tidak selamanya membutakan, hanya menunggu waktu datangnya sinar pencerahan.

Sumber gambar: asianefficiency.com

Kita mungkin bukan apa-apa.. anda jangan takut mengakuinya jika memang itu yang terjadi, jika anda sedang tidak baik-baik saja jangan sungkan untuk mengatakannya. Kita sama-sama tidak berkompeten, kita sama-sama sedang belajar, merangkak untuk bisa berjalan, terjatuh untuk bisa bangkit lagi, atau mungkin anda menyerah, tidak apa-apa, anda mungkin sedang lelah, berhenti saja lah jangan lanjutkan, mungkin anda perlu waktu untuk mencobanya sekali lagi. Jangan berharap pada apapun, bahwa impian akan terwujud, bahwa kesuksesan akan datang, lupakan saja, dan terimalah kenyataan dengan lapang dada.

Faktanya kita jatuh, kita terluka, kita berdarah, dan kita perlu obat. Faktanya, kita kurang berkompeten, kita kurang pintar, kita bodoh, dan kita miskin, kekurangan finansial untuk membiayai revolusi diri. Bahkan anda mungkin akan sukar percaya, sekalipun Allah mengatakannya langsung pada Anda, "Besok engkau akan berubah maka jadilah apapun yang engkau mau, Aku berikan bumi ini untukmu. Aku ridhoi semuanya untuk apa yang engkau lakukan, apapun itu Aku bebaskan, silahkan pilih sesukanya. Aku yang menciptakanmu, Aku yang paling mengerti tentang dirimu, Aku yang telah memberimu segalanya sampai detik ini, Aku yang memberimu kesulitan sejauh ini, dan Aku juga yang pada akhirnya akan membebaskanmu, maka dengarkanlah Aku dan ikutilah Aku. Selama engkau mengikuti-Ku, Aku jamin semuanya untukmu, dan jika engkau mengkhianati Aku, berpaling dariku, Aku punya kesabaran untuk menunggumu kembali datang kepada-Ku selama nafasmu masih Ku-berikan"

Apakah anda percaya bahwa Allah mengatakan hal tersebut kepada anda ditengah keputusasaan anda pada hari ini ? tentu anda tidak percaya, anda terlalu melihat ke atas, kepada puncak gunung emas, anda berharap ingin menaikinya, untuk sampai ke puncak-nya dan mendapatkan harta karun impian anda. Lalu anda berputus asa karena mengasumsikan bahwa hal itu "MUSTAHIL" untuk anda gapai ditengah keterbatasan saat ini yang sedang "sepertinya" mengunci diri anda. Terpasung oleh asumsi anda, pandangan anda, penilaian anda, dan pikiran anda.

Allah memperlakukan sang hamba sesuai dengan prasangka hamba-Nya itu. Prasangka itu meski 99% persen adalah kedustaan, tapi banyak orang yang lebih cenderung untuk mengikutinya, dan anehnya yang lebih banyak diikuti itu adalah prasangka buruk bukan prasangka yang baik. Berprasangkalah yang baik-baik, meski itu tidak terjadi, tapi akan terjadi. Tidak pada menit ini, atau menit selanjutnya, atau ribuan hari setelahnya. Allah tidak bisa diprediksi, dan tidak bisa didikte. Keputusan-Nya absolut, murni dari kehendak-Nya.

"Saya sepertinya akan sulit untuk sukses, tidak akan mungkin berhasil, seolah saya sudah melihat masa depan saya sendiri menjadi orang yang gagal, tidak berguna, pecundang besar, saya dipenuhi oleh banyak kekurangan. Lihat saya, apakah ada hal yang membuat saya terlihat sebagai orang yang akan berhasil ?, nilailah saya, kemampuan saya masih nol besar, kekurangan saya bertumpuk-tumpuk, kalau saya coba pasti saya akan gagal, dan gagalnya tidak pernah habis, waktu tidak cukup untuk saya, secara kalkulasi untuk orang seperti saya butuh ratusan tahun untuk bisa berhasil, butuh berpuluh-puluh generasi.. saya begitu menyedihkan".

Oke, anggap saja itu benar, fakta memang demikian adanya. Anda jelek, anda miskin, anda bodoh, anda lugu, anda polos, gampang dibohongi, gampang ditipu, diejek, dibully, direndahkan, dipandang sebelah mata, diacuhkan, anda tidak cukup berpendidikan, bahkan anda tampak begitu menyedihkan jadi lupakan saja soal kesuksesan, dapat pekerjaan kantoran atau pekerjaan idaman, kedudukan, jabatan, dan mungkin kisah-kisah romansa yang pernah anda bayangkan. Diatas kertas, anda sudah gagal total, fisik anda tidak menunjang, tampang anda tidak mendukung, dan terlebih lagi nasib anda kurang beruntung. Hanya mereka yang pintar, berpendidikan tinggi, kelas berada, tampang dan fisik keren, didukung dengan uang, materi, yang bisa memenangkan kompetisi, menjadi pemenang, dan sukses menggapai hasil, dan jika pun gagal, mereka masih berbahagia menikmati hidup sesuai dengan stereotip banyak orang, fisik punya, uang ada, dipenuhi pujian, apalagi ? hanya tinggal menunggu waktu untuk bahagia.. Benarkah begitu ?

Ingat tidak semua prasangka itu benar, hidup bukan seperti garis lurus, lurus-lurus saja seperti pikiran anda, bahkan jujur saya sendiri pun tidak bisa menulis, tidak bisa menyampaikan gagasan ke publik dalam bentuk lisan, bahkan kas kepercayaan diri mungkin selalu "defisit" setiap kali saya melangkah ke "dunia luar".. saya sama seperti anda, punya se-Himalaya kelemahan, dan mungkin hanya punya sebutir debu kebaikan, kelebihan saya ? jangan ditanya, hanya seujung kuku, itu yang saya pikirkan jika dipikir-pikir dan dianalisis kelemahan dan kekurangan saya jauh lebih banyak daripada kelebihan (bukan maksud saya meremehkan nikmat Allah). Jika saya menulis hal ini karena saya lebih baik daripada anda, itu keliru, saya sama seperti anda dan menginginkan seperti yang anda ingin hanya saja dalam versi saya.

Tiap orang itu unik, nikmatilah keunikan anda. Daripada berusaha untuk menyamai orang lain atau bahkan melebihinya, lebih baik berusaha untuk mengenal dan menjadi diri anda sendiri yang lebih baik lagi. Sukses tidak selalu diukur dengan materi, memang terdengar klise, tapi itu benar. Fakta kalau punya banyak uang bisa memenuhi kebutuhan, bisa membeli apa saja yang diinginkan, bisa membeli kesenangan, dan menyenangkan orang-orang yang diperhatikan.. itu memang fakta, tapi apakah bisa membeli kebahagiaan ? jawabannya sudah diketahui bersama, tidak bisa. Kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang, uang tidak bisa memuaskan kita, tapi cukup untuk bisa memenuhi sebagian dari keinginan kita. Saya katakan sebagian karena manusia punya keinginan tanpa batas dan tak akan pernah terpuaskan, justru keterbatasan untuk menyelamatkan kita dari jurang kehancuran. Jangan selalu menyalahkan keterbatasan dan kekurangan karena bisa jadi Allah memberikannya untuk menyelamatkan kita dari hal lain yang hanya Allah saja yang mengetahuinya, "syukuri saja apa yang ada" kata D’Masiv.

Tapi, apakah kita akan menyerah begitu saja ?

Jangan.. kita harus tetap berjuang.. kita harus tangguh.. kita harus menjadi sesuatu yang bernilai, jangan defisit. Kita mungkin tidak bisa menjadi seperti matahari yang menyinari seluruh galaksi, cukup jadilah bintang kecil. Kita mungkin akan dipandang kecil oleh orang lain, sama sekali tidak dianggap, banyak bintang-bintang yang bertebaran di langit, tapi orang hanya memperhatikan yang besar-besar saja, seperti matahari. Jangan berkecil hati, orang tidak tahu siapa anda, mereka lupa matahari adalah bintang juga yang dipandang kecil di galakasi "sebelah".

Jangan meributkan apa yang orang lain pikirkan. Cukup selaraskan diri dan kehidupan sesuai dengan pandangan Allah, bukan dengan mengikuti pandangan manusia. Keberhasilan akan datang pada waktunya jika anda sudah siap (maka siapkan diri anda, jangan ragu). Keberhasilan itu akan diberikan oleh anda jika hal itu baik untuk anda. Anda diberi kekurangan, kelemahan, itu ada tujuannya. Tidak mungkin ada tanpa ada maksud.

Ada yang lebih berarti daripada sekedar puncak gunung emas, yaitu saat kita melihat wujud bumi itu seperti apa di bawah kita, orang susah payah ke atas sana untuk merasakan puncak dunia dan pada akhirnya akan memandang ke bawah. Kita yang tidak punya apa-apa selalu memandang ke atas, sementara mereka yang punya segalanya memandang ke bawah mengagumi keindahannya.

Comments