Ketika Ketidaktahuan Itu Baik

Saat memilih menjadi “Orang Tahu” atau menjadi “Orang Tidak Tahu”, dipastikan semua orang memilih menjadi “Orang Tahu”. “Orang Tahu” dianggap sebagai orang pintar, pandai, gemar membaca, gemar mencari tahu, uptodate dengan perkembangan situasi terkini, dan mendapatkan informasi yang aktual.

Sumber gambar: lewinkler.com

Menjadi aktual tidak salah, sudah menjadi kebutuhan pada era informasi saat ini. Informasi mengalir cepat dengan berjuta-juta informasi setiap menitnya, di seluruh dunia. Saya tidak menghitung, saya tidak punya data, saya bilang “berjuta-juta” hanya sebagai gambaran kalau setiap menit selalu ada informasi terbaru yang mudah kita akses dan kita peroleh dari seluruh dunia. Informasi melimpah ruah tak terbatas bak air bah, diperoleh tanpa harus bergerak kemana-mana, datang sendiri menghampiri kita jika dibuka “kran”-nya.

Menjadi masalah, saat informasi yang kita peroleh adalah “sampah”, dan kita “kebauan” oleh sampah tersebut, akibatnya jiwa kita sakit, dan akal kita kurang sehat. Tidak semua informasi yang kita peroleh lewat mata dan telinga itu “sehat” dan “halal”. Kita tidak bisa memilah-milah, informasi mana saja yang akan kita peroleh, selama kita mengikuti arus yang ada, kita harus menyantap semua informasi tersebut. Celakanya Media memiliki keyakinan kalau “Bad News itu Good News”, padahal “Bad News” itu buruk bagi kita, dan “Bad News” itu selalu diulang-ulang demi mendulang “uang”.

Berita baik itu tidak “menjual” karena tidak menarik, tidak membuat konfrontasi diantara kelompok Pro dan Kontra, tidak bisa mendatangkan banyak orang untuk datang saling mendebat, perang kata, saling menghujat, menjatuhkan, dan akhirnya suasana damai tidak pernah kita rasakan. Setiap bangun dari tidur, setiap kali buka “gadget”, atau hanya “mengintip” sesaat, sudah tercium bau teramat  menyengat. Terkadang informasi tersebut seperti tidak wajar, sengaja dibuat buat “ramai” atau sengaja “diramai-ramaikan” agar ramai. Semua tidak lepas dari kepentingan, dan semua kepentingan itu sifatnya politis, dan politik tidak bisa dijalankan tanpa uang dan massa. Uang untuk kekuasaan, dan kekuasaan untuk uang. Media adalah senjatanya, dan karena “suara” rakyat adalah “Suara Tuhan” di alam demokrasi, Media pun menghimpun “suara”nya dan mengalirkannya ke kubu yang didukung dengan informasi yang dikemas sedemikian rupa sehingga tercipta kesan dan “citra” tertentu. Media tidak pernah steril selama media tersebut berorientasi pada binis dagang “jualan informasi”. Media bisa “menghancurkan” imej seseorang atau kelompok tertentu, atau media bisa melejitkannya sebagai sosok-sosok penuh kebaikan, pahlawan, dan dicintai oleh banyak orang, dan semua tergantung “bayaran” dan pihak yang “membayar”, mungkin tidak dengan uang tapi kepentingan, mungkin tidak oleh Sang “Tuan” tapi para pembantu dan pendukungnya.

Media tidak bisa diam untuk sesaat, suaranya harus mutlak terdengar, terkadang “bising” di telinga kita, karena semua orang lepas dari apapun profesi, keahlian, pendidikan, kaya atau miskin, selama mereka punya gadget dan “kuota” mereka bisa “bersuara”, bernyanyi di dunia maya. “Orang Tahu” mungkin tidak bisa dibodohi, tapi bisa “dibohongi”, sebagai penganut “mainstream” mereka hanya “tahu”-nya lewat media tersebut. Informasi menjadi satu arah, bagi yang berlawanan arah dipandang salah, tidak kredibel, dan sangat “Anti”.  

Lupakan saja “tulisan” ini, ketidaktahuan terkadang itu baik. Saya tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Namun, kita punya naluri untuk mengikuti nurani, mengikuti “Suara Tuhan” di hati kita, bukan media, bukan banyak orang. Kebijakan tidak terburu-buru mengambil keputusan, terkadang tidak perlu disuarakan jika tidak dimintai, melainkan dilakukan dengan penuh kesadaran. Kita sudah ramai dengan hiruk pikuk dunia, tidak perlu dibuat lebih “berisik” lagi.

Kita hidup di zaman penuh kepalsuan. Keamanan dan kedamaian itu tidak pernah ada. Jika kita hari ini merasakannya, Tuhan hanya sedang melindungi kita. Kita hidup dalam suatu ekosistem yang rentan, kapan saja dan dimana saja, kita bisa kolaps. Apa pun keputusan pihak-pihak paling punya pengaruh di dunia, pengaruh tersebut akan kita rasakan. Cepat atau lambat mengubah hidup kita dan dunia hari ini.

Comments