Merayakan Kehidupan

Hari-hari kita sebagai manusia sangat terbatas. Hidup ini pada waktunya akan berakhir. Pada suatu ketika, kita akan berpisah dengan semua ini. Saat kita dilahirkan, kita tidak pernah merasakan apa-apa, tahu-tahu kita sudah mengalami proses secara perlahan-lahan, membentuk diri kita, kepribadian kita, sifat kita, watak kita, emosi kita, apa yang kita suka dan yang tidak kita suka. Apakah itu suatu kebetulan ? atau hal ini merupakan suatu rancangan Tuhan ? atau sebetulnya kita sudah sedari awal diciptakan sebagai diri kita sebelum diturunkan ke dunia ? kemudian kehidupan ini secara perlahan-lahan menyusun diri kita kembali ? atau mungkin diri kita yang sesungguhnya adalah entitas akherat sementara di dunia ini kita hanyalah diri yang lain yang sedang diuji atau mendapatkan ujian, Wallahu A’lam.

Dokumentasi pribadi

Tuhan yang membentuk diri kita lewat proses kehidupan, atau kita sendiri yang menentukan menjadi siapa kita di dalam kehidupan ini? apakah itu berarti Tuhan menyiapkan dua skenario atas kehidupan kita ? sebagaimana Allah menciptakan dua jenis takdir: fixed (tetap) dan custom (bisa berubah) ? rasanya tidak mungkin Allah SWT tidak tahu, sebagaimana Allah mengambil sebagian besar dari keturunan Adam menjadi golongan kiri, dan sebagian kecil sisanya menjadi golongan kanan. Lalu masuk manakah kita, golongan kiri atau kanan ?

Kita seperti dibius dalam hidup ini, dilupakan akan satu kenangan fundamental, memori pra kehidupan di dunia kita dihapus, lalu memori itu dikembalikan paska kehidupan di dunia. Saat kita ingat, kita hanya akan mengutuk dan melaknat diri sendiri karena satu hal saja: tidak beriman atau kurang beramal. Ya, kita pernah pada suatu masa berdiri di hadapan Allah SWT sebagai Rabb yang kita akui sepenuhnya, lalu kemudian Allah mengambil kesaksian kita, lalu diturunkanlah kita ke dunia, dimasukkan ke dalam rahim sebagai jiwa, jiwa yang dibungkus oleh tulang dan daging, diciptakanlah rupa dan fisik kita. Hakikatnya, semuanya yang ada pada diri kita bersifat temporari, sementara.

Kita tidak merasakan apapun dari proses pembentukan jasad kita di dunia rahim, bahkan saat kita dilahirkan, ibu kita merasakan sakit yang luar biasa hebatnya, kita pun menangis, tapi apakah kita pernah mengingatnya saat itu ? tentu saja tidak, kita tidak punya memori apapun, kita hidup saat itu, bernafas, bergerak, menggeliat, minum ASI, tapi tidak pernah ingat. Bahkan pada saat kita melihat, kita tidak pernah ingat apa yang dulu pernah kita lihat. Berangsur-angsur, tahun demi tahun, kita pun mulai merasakan diri kita, mulai mengingat sepotong dua potong waktu, menangkap momen demi momen.

Sampai akhirnya inilah diri kita saat ini sedang duduk, berbaring, berdiri, berjalan, atau sedang diam, pada detik ini, semua itu terasa seperti baru saja kita lewati pada satu detik sebelumnya. Masa lalu itu sangat dekat sekali rasanya, meski sebenarnya sudah belasan dan mungkin puluhan tahun lalu. Sejak saat kita sudah mulai bisa mengingat, sampai hari ini, semua terasa segar diingatan, semua itu seperti baru saja terjadi. Tumpukan demi tumpukan memori seperti sebuah slide, slide yang sedang terbuka itulah yang kita lihat, apa yang kita lihat di pikiran kita itulah kita yang akan terlintas di hati kita. Perasaan itu tak pernah kenal dengan yang namanya ukuran, tak pernah dibatasi oleh waktu dan ruang. Kita sedang hidup saat ini di dunia ini, dunia yang akan terus mengajak kita pada kesedihan atau pun kesenangan. Dunia tidak pernah mengenal keabadian, semua yang kita alami, rasakan, miliki.. semua itu akan terus berganti. Kenyamanan hanya ada pada satu momen dalam kurun waktu tertentu, momen berikutnya mungkin muncul kebosanan, momen selanjutnya mungkin ada perasaan sedih, dan lain sebagainya. Kita dipenjara oleh keadaan yang dipertemukan antara waktu dan ruang. Sebuah skenario yang sungguh sempurna. Jika saja ada satu hal kecil yang berubah, maka perubahan itu akan sanggup mengubah semuanya, bukan hanya soal diri kita, tapi juga semua orang di dunia, tidak hanya tempat saat ini kita berada, tapi semua tempat di permukaan bumi. Bukan hanya bumi ini saja, tapi seluruh semesta, karena kita terikat pada satu dimensi sebagai satu kesatuan, maka apakah kita menganggap remeh dan kecil diri kita ? padahal kita adalah suatu unit yang turut bersama dan menjadi bagian dari seluruh unit kehidupan seluruhnya. Penciptaan langit dan bumi serta diri kita sendiri bukanlah sesuatu yang kecil, remeh, apalagi sia-sia. Kalau kita tidak berharga, kita tidak mungkin pernah ada menjadi sesuatu, menginjak bumi ini sebagai keturunan dari makhluk yang sangat dimuliakan oleh Allah SWT, malaikat, dan makhluk lainnya. Maka jagalah kemuliaan itu dengan mengikuti ajaran yang diturunkan Allah kepada kita, ajaran itu tidak hanya akan menambah kemuliaan kita, tapi juga akan memberi kita perlindungan, dan akan membawa kita pada keselamatan selama hidup di dunia, melewati berbagai macam bentuk ujian sebagai sunnatullah.

Sepahit-pahitnya ujian akan datang masa manisnya, karena ujian datang bukan untuk menyiksa diri kita karena kehidupan dunia bukanlah tempat siksaan. Ujian itu hanya untuk mengevaluasi diri kita dan sudah sampai sejauh mana tingkatan evolusi ruhani, iman, atau pengalaman hidup kita, dan kebijaksanaan yang kita punya. Ujian itu tidak hanya melulu disajikan Tuhan dengan penderitaan, kesusahan, kesedihan, ketakutan, kemiskinan, direndahkan dan dilecehkan orang tapi bisa berupa “hidangan” yang lezat, manisnya hidup, suka cita, canda tawa, banyak uang, harta, punya kedudukan, kesenangan dan kebahagiaan yang tiada tara, atau sangat perfect bahkan menjadi impian bagi semua orang.

Apapun yang datang menghampiri diri kita, memancing reaksi kita, menerpa hati meski hanya selintas saja muncul, itulah ujian. Kita hidup di tengah-tengah ujian, apa pun dan bagaimana pun keadaan kita saat ini, inilah ujian. Ujian datang dengan variasi soal, mulai dari hal paling ringan sampai paling berat. Bahkan, ujian-ujian itu akan membekas di benak kita, reaksi jelek akan menjadi cap stempel gelap di hati kita, degradasi diri (penurunan kualitas diri), lebih parahnya membuat kita tergelincir, tersandung, terjungkal oleh bongkahan batu “dosa” atau kerikil-kerikil “kesalahan”, dan sebaliknya apabila ujian disikapi dengan patut akan menjadi basuhan yang membawa kesejukan dan obat, bahkan mendatangkan reward dari Tuhan. Bisa jadi saat kita punya masalah, itulah cara Allah menyiapkan diri kita untuk memberi kita gift, bingkisan dan kado terindah, hanya saja kita sering lalai, alpa, lupa, pikun, lemahnya hati, kurang kebijaksanaan, yang membuat kita tidak bisa seperti yang diinginkan oleh-Nya.

Banyak contoh kesabaran yang mendatangkan kemuliaan, bahkan terwujudnya impian. Kebaikan sekecil apapun yang dilakukan akan tetap diperhitungkan dan akan menambah ‘kas’ keberuntungan. Sukses yang mengandung berkah itu hanyalah saat Allah mempertemukan antara usaha dengan keberuntungan, keberuntungan disinilah bukanlah kemujuran tapi merupakan hasil akumulasi dari semua kebaikan, entah itu untuk diri, orang lain, maupun kepada Tuhannya.

Ukuran sukses dilihat dari seberapa banyak manfaatnya yang bisa diambil bukan dari seberapa banyak harta dan uangnya yang dimiliki. Perkara cukup itu relatif, dengan yang sedikit saja bila disyukuri itu sudah luar biasa. Masalahnya manusia selalu ingin lebih, perkara hati adalah hal paling runyam di dunia, lebih rumit dari “lalu lintas” pikiran manusia. “Keinginan” adalah sesuatu yang halus, yang bisa menjadi bencana apabila tidak disikapi dengan bijaksana. Keinginan harus dikontrol, tetap terjaga dalam koridor-nya, mampu menyuplai roda-roda pikiran dan gerak tubuh menuju pada satu tujuan yang diinginkan. Keinginan yang terlalu besar dalam satu waktu sama buruknya dengan keinginan yang terlalu rendah, keinginan yang mempunyai besaran yang pas, akan membuat kita lebih terkontrol dalam mengambil keputusan dan tindakan. Lalu bagaimana caranya agar keinginan kita memiliki besaran yang pas sesuai kebutuhan kita ? kita harus memegang kendali keinginan tersebut, bukan dikendalikan oleh keinginan itu sendiri. Kita memang tidak bisa mengendalikan sepenuhnya hati kita, yang bisa kita kendalikan adalah pikiran kita. Keinginan bisa datang dan pergi begitu saja selayaknya tiupan angin, yang akhirnya keinginan itu bisa menetap dan bersarang di hati kita adalah karena “ulah” pikiran kita sendiri. Kita memikirkan sesuatu lalu terciptalah gambaran, angan, keinginan, atau suasana hati, yang memicu kita mengambil tindakan atau suatu sikap, bahkan dengan pikiran kita yang sudah dirasuki dengan perasaan tertentu, kita bisa menjadi tidak realistis.

Kembali pada judul “Merayakan Kehidupan”, apa yang harus dirayakan ? karena kehidupan di dunia ini hanya ada sekali saja, umur kita mungkin tidak sampai 1 abad, bahkan kita mungkin tidak merasa yakin kalau besok kita masih ada di dunia ini. Siapa yang bisa menjamin, satu detik lagi kita masih hidup ? tidak ada. Jika satu detik lagi kita masih hidup, itu artinya kita beruntung masih diberi kesempatan melanjutkan hidup. Kita hadir di kehidupan saat ini pun adalah hal yang luar biasa dan patut dirayakan karena eksistensi kita yang diciptakan oleh Tuhan bukan hal yang main-main. Diberinya kita hidup adalah karunia, tidak bisa dibayangkan bagaimana jika saat ini eksistensi kita tidak pernah ada. Kita tidak diciptakan sebagai salah satu malaikat, atau salah satu jin, tapi Allah SWT menjadikan kita sebagai MANUSIA, anak keturunan ADAM, makhluk yang Allah muliakan satu-satunya yang diberi “sujud penghormatan” dari seluruh malaikat dan bangsa jin. Setinggi-tingginya kemuliaan malaikat, tidak bisa menyamai kemuliaan manusia, tapi serendah-rendahnya manusia lebih rendah dari bangsa jin yang paling rendah karena mampu ‘ditipu’ dan ‘disesatkan’ oleh jin dari tingkatan paling rendah. Manusia memang sangat istimewa meski tidak memiliki kemampuan yang ‘fantastis’ seperti halnya malaikat atau jin. Manusia hanyalah makhluk melata, yang berjalan dengan dua kaki, menapak di atas permukaan bumi. Kita tidak bisa terbang atau bergerak dalam kecepatan cahaya, atau berubah wujud menjadi sesuatu yang lain. Kita ini diciptakan Tuhan biasa-biasa saja, tapi justru mendapatkan predikat “makhluk paling dimuliakan”. Ada apa, mengapa, dan kenapa ? kita mungkin bisa menanyakan kapan-kapan saat berjumpa dengan Tuhan kita, tentang semua ini, maka “janganlah sampai masuk Neraka”, masuklah ke dalam Surga agar kita bisa bertemu dengan-Nya, berbicara dengan-Nya, melihat dan memandang wajah-Nya, yang telah menciptakan kita dan menciptakan kehidupan yang saat ini sedang kita jalani, dan suatu hari nanti, pada suatu masa setelah semua ini berakhir, kita akan kehilangan hal yang paling besar, yaitu kesempatan hidup di dunia untuk mengumpulkan amal baik, maka rayakanlah kehidupan ini dengan sebaik-baiknya, jalani dan lakukan yang terbaik. Satu detik di dunia ini sangat berharga karena seharga nafas kehidupan kita, sebuah kesempatan yang tidak lagi dimiliki oleh orang-orang yang sudah pergi, mereka pasti ingin lagi bisa hidup meski hanya satu detik untuk berbuat baik, satu detik yang saat ini masih kita miliki.

Comments