Agustus

Karya tidak bisa lahir hanya dari motivasi “pikiran” untuk menjadi nomor satu. Karya yang menjadi “mahakarya” haruslah datang dari “Hati” dengan panggilan jiwa, seperti pecinta yang melepaskan sebagian besar “Pikiran”nya untuk datang memenuhi seruan yang dicinta.

Sumber gambar: minitime.com

Pikiran membuat kita terbelenggu, maka tidurkanlah, baringkan di atas bantal “keyakinan”, sementara pikiran kita tidur, Hati kita terbangun dengan hebatnya, memegang kendali,  menerobos segala dinding ketidakmungkinan, menghilangkan batas-batas, dan jarak-jarak.

Saat menemui kenyataan, hati selalu merasa dikorbankan, suaranya selalu diabaikan karena mengganggapnya fiktif, keberadaannya selalu disalahkan karena membuat pemiliknya galau. Bicara tentangnya seolah dunia berubah menjadi drama, kisahnya menjadi romansa, segalanya dalam hidup ini menjadi “penting” bahkan pada saat “adegan” dedaunan bergoyang tertiup semilir angin sekalipun.

Hati memang sanggup membuat segala sesuatu sesuai dengan apa yang kita kehendaki dalam alam bawah sadar kita saat pikiran sadar kita dibius perlahan. Membuat kita menjadi “tokoh sentral” dalam film drama “kehidupan” kita. Membuat kita menjalani “Takdir” berdasarkan skrip skenario yang tanpa sadar kita ciptakan sejak masa-masa awal kehidupan kita. Seringkali mempertemukan kita dengan orang-orang serupa yang pernah singgah dalam kehidupan kita, meski dengan wajah yang berbeda. Seringkali menghadirkan “kebetulan-kebetulan” yang sulit dipercaya bahwa hal tersebut bukanlah kebetulan belaka, membuat kita seolah berada dekat dalam jangkauan Tuhan, hingga apa yang terpikir dan terasa, itu benar-benar terjadi.

“Timur” mengajarkan kita banyak hal tentang rasa, bisa kita tengok banyak contohnya di “Joseon”, negeri semenanjung yang dipisahkan dengan Jepang oleh selat Korea, dan daratan China oleh saudara “jahatnya” Gojoseon. Joseon, atau “Negeri Ginseng”, atau nama yang telah dikenal dunia sejak kedigdayaan Jepang atas Asia diruntuhkan Sekutu, pada bulan yang sama dengan kemerdekaan Indonesia: Korea Selatan. Film-film drama “Seoul” menjanjikan “keunikan” rasa, kesedihan membara, atau kebahagiaan yang membungbung jiwa. Saya bukan penikmat drama “Korea” hanya saja sesekali saja menengok jika “logika” saya telah tumpul. Saya tidak tahu persis kenapa drama dari negeri semenanjung yang terus menerus dibayangi dengan teror “Pyongyang” itu  seperti masakan “nasi padang”, sangat nikmat terasa jika perut sedang lapar. Dramanya bukan sekedar drama, ada permainan logis disana, disatukan dengan kisah apik, bahasa dan budayanya memang cantik, mereka elok tanpa meninggalkan budaya. Tak hanya Seoul, ada Beijing, Tokyo, dan New Delhi, dan lainya lagi, mereka selalu meninggalkan kesan dalam karya-karyanya. Tak semua bagus, tapi yang “tak semua” itu tidak bisa menggeser yang bagus-bagus.

Berbicara tentang Timur, kita bicara tentang budaya dan bahasa. Indonesia, negara kita, masuk dalam negeri-negeri elok dengan budaya dan bahasa. Hanya saja kurang tersaji dengan baik di layar kaca, meski terpublish dunia sejak dulu kala. Beramai-ramai bangsa mencoba menjamah Indonesia, hanya Belanda yang sanggup bertahan ratusan tahun lamanya hingga mampu menelurkan sifat-sifat “kolonial”, sifat yang telah menenggelamkan VOC, sifat yang sudah menahun di tubuh bangsa kita, penyakit yang sukar hilang meski sudah berganti banyak Presiden:  Korupsi.

Comments