Cara Awam: Pembunuhan Ubuntu Demi Mendapatkan Boot Windows

Kemarin saya masih menggunakan Linux Ubuntu 16.04 LTS, dan mencoba untuk memperbaiki boot loader Windows 10. Saya penasaran kenapa saya selalu gagal repair boot-nya, padahal berbagai cara sudah saya lakukan. Ada cara-cara dari lain biasanya, karena hampir rata-rata saya baca caranya selalu sama, dan nyaris berhasil. Saya mengekstrak ISO Windows 10 ke dalam flashdisk di Ubuntu, kemudian saya restart. Saat hidup, tidak ada penampakan GRUB Loader Linux, tampillah lingkaran yang terus berputar yang menandakan sedang terjadi proses loading dan akhirnya tibalah saya pada tampilan biru jendela instalasi Windows. Saya pilih "Next" dan kemudian memilih opsi untuk repair. Banyak sekali pilihan yang ditawarkan, saya pilih menggunakan Command Prompt. Menu lain seperti melakukan repair otomatis tidak mempan, karena berakhir error. Pada jendela Command Prompt saya mengikuti instruksi yang saya dapatkan dari internet. Memang membuahkan hasil, saya bisa masuk Windows 10 saya, tapi.. jika flashdisk tertancap di port USB saya lepas, Windows 10 akan hang (berhenti bekerja). Jadi perintah repair saya gagal memperbaiki boot loader asli Windows saya, tapi justru membuatkan boot loader di flashdisk, artinya saya hanya akan bisa masuk Windows 10 via flashdisk.

Sumber gambar: i1-news.softpedia-static.com

Saya ingat, pernah menghapus boot loader asli Windows-nya, hal ini saya lakukan agar saya dapat booting ke Linux saat berhasil melakukan instalasi Linux Ubuntu 16.04 LTS, mungkin itulah penyakitnya. Saya menemukan artikel yang pas dengan masalah saya, tapi gagal, gagalnya tidak bisa membuatkan boot efi karena partisi Harddisk saya berjenis MBR. Kemudian hari ini, saya coba hapus Linux Ubuntu saya dengan memformat partisinya di Windows. Apa yang terjadi ? setelah saya restart, error. Ada apa lagi ini ? bukankah saya sudah membuang Ubuntu ? akhirnya saya tahu masalahnya bukan karena terhalang Ubuntu. Ada misteri lain tersembunyi di balik semua perkara ini. Saya kemudian ambil keputusan untuk melakukan instalasi ulang Windows 10 64 bit saya. Saya akan tempatkan calon Windows baru itu di partisi bekas Linux. Ketika saya coba untuk "Next" untuk melakukan langkah penginstalan setelah memilih partisi yang diinginkan, saya menemui kegagalan kembali. Apa lagi masalahnya ? format partisi MBR tidak didukung untuk melakukan instalasi Windows. Semua partisi yang ada dicoba dan tidak berhasil karena memang Harddisk saya berjenis MBR, saya disuruh untuk mengubahnya ke GPT. Jika saya ubah ke GPT, artinya semua partisi harus saya satukan kembali. Sama saja dengan melakukan format ulang, padahal saya menghindari hal tersebut. Saya menemui jalan buntu, saya tidak mungkin untuk mempartisi ulang dengan risiko kehilangan data. Saya hanya ingin Windows saya dapat booting lagi, itu saja.

 Ada satu fenomena kenapa flashdisk saya bisa melakukan booting masuk ke Windows, berarti ada "sesuatu" di dalamnya yang membuat netbook saya bisa booting. Saya yang hanya perlu Windows bisa booting tanpa colok flashdisk membuat saya terpikr untuk menyalin isi flashdisk tersebut ke dalam partisi C: tempat dimana Windows saya tertanam. Celakanya, isi dalam flashdisk tidak bisa saya buka, karena saya sedang berada di Windows dengan hasil boot dari flashdisk tersebut. Kemudian karena saya tidak bisa menyalin isi dalam flashdisk, saya buka ISO Windows 10 saya, kemudian saya salin semua isinya ke dalam partisi C. (Awalnya, saya hanya menyalin folder boot dan beberapa file, hasilnya error namun saya suka karena ada efeknya, akhirnya semua folder dan file saya salin semua, menyebabkan partisi C sedikit lebih gemuk, untunglah masih ada spasi yang cukup). 

 Saat saya restart, yes akhirnya masuk ke jendela instalan Windows tanpa flashdisk tercolok, lho kenapa masuk jendela instalasi ? bukankah saat saya boot dengan flashdisk awalnya juga masuk Windows Instalasi ? karena itulah selangkah lagi lebih dekat, saya cukup menggunakan kembali jurus repair saya dengan perintah command prompt:

Bootrec /fixmbr
Bootrec /fixboot
Bootrec /ScanOs
Bootrec /rebuildBcd

Kemudian saya close dan restart, hasil akhirnya saya bisa booting masuk ke Windows 10. Cara ini tentu bukan rekomendasi yang tepat, kenapa ? karena saya hanya ingin memaksa netbook saya agar masuk ke Windows dengan menyalin isi file ISO ke partisi C. Saya tidak tahu apakah jika file dan folder dari ISO tersebut saya hapus, maka saya akan kembali gagal booting ? tenang saja, ini hanya sementara, saya akan coba normalisasikan Windows plus Ubuntu saya jika ada waktu yang cukup tenang dan lapang.

Masalahnya, saya mungkin perlu untuk mempartisi ulang harddisk saya dari MBR ke GPT agar saya bisa menginstal ulang Windows 10 saya dan itu berarti saya harus Backup besar-besaran seluruh data saya ke media penyimpanan Backup. Saat ini hal ini sukar dilakukan karena saya tidak punya Harddisk eksternal, sementara DVDROOM External saya sudah tidak bertenaga lagi, perlu waktu yang tidak bisa diselesaikan dalam sehari sementara saya harus bermanuver untuk menyelesaikan pekerjaan dan tugas saya.

Kenapa saya beralih dari Ubuntu ke Windows ? sebenarnya bukan beralih saya hanya ingin kembali masuk ke Windows 10 sebelumnya dengan normal Berbagai cara sudah saya coba dan hasilnya tidak memuaskan, hasil rasa frustasi menyebabkan saya harus ‘membunuh’ Ubuntu saya sementara hanya agar saya dapat kembali booting dengan Windows (meski saya bisa kembali ke Windows dengan flashdisk tapi sangat merepotkan dan terbatas). Hasil uji coba tersebut gagal, karena lagi-lagi saya tidak bisa melakukan booting. Kenapa saya mau ke Windows kembali ? Ada beberapa hal yang tidak friendly di Ubuntu, dan itu bisa dilakukan di Windows dengan mudah. Sebenarnya, saya ingin bisa melakukan dual boot: Windows dan Ubuntu. Saya ingin menggunakan kedua-duanya, sebab melakukan coding enaknya pakai Linux, sementara pembuatan dokumentasi, graphic design lebih mudah pakai Windows. Soal Dokumentasi misalnya, karena jumlah pengguna Windows lebih banyak dari jumlah pengguna Linux apalagi OS X, maka saya ingin dokumentasi itu dibikin berdasarkan lingkungan sistem operasi Windows, Linux hanya tinggal menyesuaikan. Alangkah lebih baiknya lagi, jika saya bisa membuat untuk kedua-duanya: Windows dan Linux (Ubuntu). 

Mengapa saya tidak install Linux dengan virtual machine ? menjalankan virtual machine itu perlu memori yang besar, dengan keadaan memori netbook saya yang hanya 2 giga tentu akan menguras resource. Lagian, saya ingin menggunakan Linux dan Windows secara langsung tanpa virtual-virtualan, rasanya kurang puas saja. 

Hasil dari penggunaan Linux, saya jadi tahu beberapa hal. Windows dan Linux memang berbeda, ada kelebihan, ada kekurangan. Jika saya bisa memilih, saya ingin memilih yang open source dan free, yaitu Linux. Namun, karena saya menginginkan sesuatu yang tidak bisa diwujudkan jika saya menggunakan Linux, akhirnya saya kembali ke Windows.  Jangan tanya apa Windows 10 Pro saya berlisensi legal atau tidak, jawabannya kembali kepada budget. Bisa saja saya pakai versi Windows Insider dengan segala risiko ketidaknyamanan karena tidak stabil namun saya pakai yang Pro karena kembali pada budget. OS X, kadang saya ada keinginan untuk bisa mencicipinya, bukan untuk gaya, tapi ingin tahu kenapa Programmer rata-rata pakai OS X setelah Linux, tapi kembali pada budget. Akhirnya terancang di benak saya untuk memakai ketiga-tiganya di masa yang akan datang jika ada budget. Saat ini saya hanya perlu dua saja: Windows dan Linux. Tidak, untuk detik ini saya perlu Windows, dan mencoba keduanya setelah selesai.

Comments