Gebuk dan Api: Pelecehan Hukum dan Kemanusiaan

Sangat miris kita mendengar ada orang yang dituduh mencuri kemudian dibakar oleh massa. Kita memang tidak tahu persis bagaimana kejadian yang sebenarnya, namun menghukum dengan membakar orang hidup-hidup adalah tindakan yang sangat-sangat melecehkan hukum dan kemanusiaan. Kita yang mendengarnya sangat terluka. Api itu pedih, sangat pedih terasa jika mengenai kulit kita. Bayangkan bagaimana rasanya jika api yang pedih itu yang lebih pedih dari sayatan silet itu mengenai sekujur tubuh kita. Rasanya kita ingin menangis, membayangkan bagaimana kalau orang tersebut adalah saudara kita, kerabat dekat kita, teman kita, kekasih kita, atau mungkin diri kita sendiri. Apakah orang sudah kehilangan akal sehat dan hati manusianya, sehingga tega melakukan hal sekejam itu. Jangankan manusia, membakar ayam dalam kondisi hidup pun rasanya tidak tega, karena masih ada nyawa di dalamnya.
 
Sumber gambar: Fist on Fire - Youtube.com

Islam tidak mengajarkan hal demikian, lalu ajaran apa sebenarnya yang mereka ikuti sehingga tega melakukan tindakan semacam itu ? Darimana dalilnya mereka boleh membakar pencuri jika benar memang pencuri? Hukuman  paling keras sekali pun dalam Islam, pencuri itu dipotong tangannya, bukannya dibakar sampai mati. Jelas yang mereka ikuti, adalah hawa nafsu, Tuhan mereka bukanlah Allah, melainkan Iblis laknatullah. Tidak boleh menghukum dengan cara-cara Allah seperti dengan api. Hanya Allah yang berhak menghukum dengan api, yaitu api neraka di akherat nanti. Allah sudah menentukan hukuman apa yang boleh dilakukan, paling ekstrem adalah dirajam sampai mati, hukuman itu diberikan tentu tidak dengan tujuan untuk menyiksa, melainkan untuk menebus dosa. (masalah ini tanyakan lebih lanjut pada Ulama, Ustadz, atau guru agama yang berkompeten) 

Kasus pembakaran hingga mengakibatkan kematian tidak hanya sekali dua kali saja terjadi. Sudah sering kita dengar, menimbulkan kengerian tersendiri. Lalu apa faedahnya ? Sama sekali tidak mengurangi kejahatan, justru menyuburkan angka kekerasan. Ada hukum saja, masih ada pelanggaran. Malam-malam sunyi yang tenang, menjadi rawan begal. Ketika di sekolah, kita diajarkan seribu kebaikan, tapi di masyarakat kita mendapatkan tontonan sejuta keburukan. Mulai dari miras, kekerasan verbal, tayangan tv super tidak mendidik, lelucon yang dipenuhi kata-kata hinaan, gunjing menggunjing, bulli membulli, premanisme, tempat remang-remang, dan masih banyak lagi yang lainnya yang mengindikasikan moral di titik nadir.

Pada kalangan mana pun, di tingkat elit sekali pun, penjahat selalu ada. Negeri maju atau negeri terbelakang, kejahatan selalu menampakkan diri meski dengan baju yang berbeda namun hakikatnya sama saja. Sudah sedemikian parahkah kehidupan kita saat ini ? Belum lagi dengan isu Terorisme dimana Teroris digambarkan dengan gambaran yang persis dengan kaum tertentu, dan digambarkan secara umum kalau Teroris itu tidak suka bergaul dengan masyakat luas, jelas ini menjadi semacam persepsi yang merugikan orang-orang tertentu yang kehidupannya introvert, pendiam, atau yang lebih senang menyendiri. Orang-orang akan curiga dengan orang-orang yang hampir sesuai dengan sifat-sifat semacam itu, padahal Teroris itu harusnya lebih pintar menyesuaikan diri di tengah-tengah masyarakat seperti bunglon, mereka berusaha seminimal mungkin untuk tidak dicurigai, mereka pintar melakukan rekayasa sosial, mungkin seharusnya demikian karena penjahat yang go internasional dan sudah terkenal dan terpublikasi secara luas oleh media dalam dan luar negeri dengan sebutan canggih “Teroris” itu bukanlah sekumpulan orang-orang bodoh yang “bau” nya mudah terendus oleh polisi biasa sekali pun apalagi oleh masyarakat awam biasa. Masyarakat diminta untuk saling menjaga bukan saling curiga dan akhirnya dipenuhi prasangka yang tidak-tidak.

Lalu bagaimana dengan para pembakar orang hidup-hidup itu ? Apa sebutan yang pas untuk mereka ? Mungkin mereka adalah para pengikut hawa nafsu yang mudah sekali melakukan tindak kekerasan tanpa berpikir dan berhati. Apa solusi untuk mencegah kekerasan semacam itu terjadi lagi ? Masyarakat harus diedukasi, bangku sekolah nampaknya tidak cukup untuk memberi mereka pelajaran moral dan hukum. Kita tahu masyarakat Indonesia tidak seagamis yang kita kira. Mereka mayoritas adalah Islam, tapi tidak terintegrasi dengan baik dalam keseharian kehidupan mereka. Mereka juga tidak takut denga Allah dan Rasul-Nya karena minimnya keimanan. Mereka Islam, tapi tidak benar-benar Islami. Tanggung jawab umat ini dibebankan kepada para Ulama, para Ustadz, para guru agama, para tokoh-tokoh spiritual, tokoh budaya, pejabat-pejabat daerah dan pusat, dan tentu saja instansi POLRI yang punya wewenang mutlak soal kemanan dan hukum.

Berikan hukum yang adil, setimpal sesuai kesalahan. Allah tidak suka dengan hal berlebihan, dan lebih parahnya jika hukuman itu diberikan karena tuduhan, fitnah keji. Mereka yang melakukannya, sudah berdosa besar. Fitnah, membunuh, dan membakar dengan Api. Jika itu benar bukan fitnah, meski hanya terjadi pemukulan yang berakibat lecet-lecet dan lebam-lebam di kulit, apakah dibenarkan melakuka tindak kekerasan ? Tetap tidak boleh, meski segeram apa pun, orang lain tidak boleh membalas kejahatannya dengan keburukan yang tidak sepadan. Jika kita adalah korban dari kejahatan itu mungkin bisa saja membalasnya, seperti kita dipukul orang kita boleh membalas memukul, tapi tidak boleh berlebihan sampai bawa temen satu geng lalu terjadilah aksi sekumpulan primata terhadap seorang manusia.

Balas kejahatan sesuai dengan kejahatannya, jika ada pasal yang dilanggar, seret baik-baik ke kantor polisi, jika tidak mau diseret baik-baik, seret paksa tanpa aksi pemukulan. Sangat jarang sekali terjadi seseorang yang ditangkap massa karena kejahatannya itu, kemudian dibawa ke kantor polisi dalam kondisi mulus tanpa luka. Minimal sudah bonyok, pakaian robek-robek, atau sudah ada luka sana sini. Ya, inilah masyarakat kita. Apakah ini benar ? Bagi saya pribadi, ini tidak benar, dan menurut saya sangat berisiko. Bagaimana kalau dia bukan pencuri ? Bagaimana kalau dia bukan perampok ? Bagaimana kalau dia bukan tersangka ? Bagaimana kalau dia bukan penipu ? Bagaimana kalau dia bukan koruptor ? Bagaimana kalau dia bukan pezina ? Bagaimana kalau dia punya alasan dibalik dari perbuatannya yang melanggar hukum ? Bagaimana kalau dia punya anak dan istri di rumah ? Bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu ? Pernahkah kita menimbang-nimbang ? Pernahkah kita berpikir sebelum mengambil tindakan ?

Kejahatan harus diberantas, bukan memberantas orangnya, tapi sumber kejahatan dan penyebabnya, orangnya yang melakukan kejahatan harus ditangkap, dihukum sesuai hukum yang ada, dan direhabilitasi moralnya agar ketika dia kembali ke masyarakat dia sudah menjadi orang yang sadar hukum, mengerti hukum, dan ikut berkontribusi menjaga kedamaian di lingkungan masing-masing. Hukum harus ditegakkan dengan adil, masyarakat harus mendukung keadilan tersebut, jangan hanya bilang hukum tidak adil padahal mereka sendiri menghukum orang tidak secara adil bahkan jauh melebihi rasa kemanusiaan itu sendiri.

Semoga masyarakat kita sudah semakin sadar, sudah semakin mengerti, menyadari tentang hukum. Semoga di masa-masa yang akan datang tidak terjadi lagi perkara semacam ini. Semoga negara kita semakin damai, tenang, dan kondusif, sehingga segala kesulitan yang dialami lebih mudah diatasi, membuat negara kita menjadi lebih maju tidak hanya soal ekonomi, tapi pendidikan, teknologi, hukum, budaya, dan tentu saja moralitas, serta mentalitas. Lebih penting dari itu bagaimana Rakyat Indonesia menjadi orang baik-baik, tidak suka maen gebuk.

Comments