Akreditas C Tidak Usah Berkecil Hati

Lulusan berakreditasi C memang dipandang sebelah mata. Namun bagaimana realita memang seperti itu adanya. Jargon-jargon idealisme tidak bisa membungkam kenyataan. Kenyataan pada akhirnya bersuara. Ketidakadilan itu memang nyata. 

Sumber gambar: fatoni.ig

Hal ini terkait dengan penyelenggaraan CPNS Tahun 2017 periode ke II dimana dari 60 instansi tidak ada satu pun yang mengakomodasi lulusan akreditasi C. Hanya Pemprov Kalimantan Utara yang masih memungkin untuk semua lulusan berakreditasi bersaing merebutkan kursi.
 
Lulusan berakreditasi C memang seharusnya bisa mandiri. Tidak melulu berharap pada dunia lapangan kerja yang prestisius atau memberikan kemapanan dan jaminan hari tua yang baik. Mereka seharusnya bisa menciptakan sendiri lapangan kerja untuk diri mereka, karena lulusan akreditasi C ternyata masih menjadi anak tiri di Republik tercinta ini. 

Bukan berarti lulusan dari akreditasi C tidak bisa bekerja dimana pun, masih banyak yang menerima lulusan akreditasi C, dan tidak mempersoalkan masalah akreditasi, yang terpenting adalah anda mau bekerja atau tidak, dan apakah anda punya kemampuan sesuai yang mereka butuhkan atau tidak.

Banyak perusahaan merekrut orang-orang yang  tidak sesuai dengan jalur pendidikannya, jika anda tidak punya kolega di dalam perusahaan tersebut mungkin anda tidak akan pernah bisa masuk karena jatah anda diambil alih oleh lulusan dari akreditas A dan B meski pun itu bukan jurusan mereka. Pekerjaan yang sifatnya umum, memang bisa dimasuki dari latar pendidikan mana pun, kecuali pekerjaan-pekerjaan spesifik yang membutuhkan keahlian tertentu. Namun, perusahaan terkadang tidak adil karena lebih menganak emaskan mereka yang berasal dari kampus ternama dan terakreditasi A dan B.

Anda merasa suram karena memiliki ijazah berakreditas C ? berterima kasih kepada almamatermu, ilmu yang mereka kasih lebih berharga daripada selembar ijazah. Ijazah hanya sebentuk pengakuan formalitas, terperangkap pada nilai, bukanlah kehidupan yang sebenarnya. Ada yang lebih tinggi dari sekedar nilai 100, atau IPK 4, yaitu sebuah ide. Ide adalah nilai tanpa batas yang memberimu inspirasi lebih untuk mewujudkan impian secara nyata meski harus berjuang 100 kali lipat.

Jangan pernah berkecil hati, masa depan adalah milik semua orang. Masih banyak orang-orang tidak kuliah, tidak punya selembar Ijazah perguruan tinggi. Kita harus bersyukur dapat kuliah, punya ijazah meski ya kadang ada perasaan ingin sama-sama diakui sebagai diploma dan sarjana seperti lulusan dari akreditasi A dan B, bersaing secara jantan.

Lho memangnya mereka tidak diakui ? 

Buktinya yang boleh bersaing secara umum hanya A dan B, C tidak disertakan, seolah tidak pernah ada. Kalau tidak dianggap ngapain kampus C masih diberi ijin untuk berdiri ? seharusnya kan ada syarat standar pendirian sebuah lembaga pendidikan atau sebuah fakultas, kalau tidak memenuhi syaratnya ijin tidak akan diberikan. Maka kita tidak akan mengenal istilah akreditasi C, yang ada hanya A dan B. 

Bila masih ada akreditasi C, sama saja memberi mereka mimpi setinggi langit untuk bisa bekerja di perusahaan berkelas, atau menjadi pegawai pemerintah, dan pada kenyataannya ketika mereka lulus, ijazah mereka tidak terpakai. Jika begitu, untuk apa ada akreditasi C ? 

Tidak usah berkecil hati, jika anda punya skill maka anda bisa bekerja di mana pun, meski bukan diperusahaan atau di lembaga pemerintahan. Anda bisa bangun usaha anda sendiri, teknologi akan selalu berkembang, yang unggul adalah mereka yang selalu update dan aktual. Anda hanya buka mata dan telinga selebarnya, ambil sebanyak mungkin kesempatan yang ada, dan terus belajar dan belajar.

Belajar, belajar terus, kapan suksesnya ?

Belajar itu kebutuhan hidup sepanjang hayat, dan masalah bagaimana anda membiayai hidup anda, maka carilah bentuk usaha apapun yang anda bisa. Maka jika anda masih kuliah, jangan menunggu lulus baru action, tapi dari bangku kuliah anda seharusnya bisa memulainya. 

Banyak CEO dari perusahaan teknologi terkemuka dunia tidak punya ijazah sarjana atau diploma, toh mereka sukses. Meski tidak bisa digeneralkan untuk semua orang, tapi pada kenyataannya sarjana tidak diperlukan untuk merebut kesuksesan. Saat anda berada di dunia luar (bukan di dunia kerja), anda yang tidak sekolah dan yang bersekolah, anda yang hanya tamatan SD, SMP, SMA, Diploma, Sarjana, Doktor punya peluang yang sama untuk sukses atau berhasil di bidangnya. 

Anda hanya perlu fokus menekuni satu bidang, dan tonjolkan kemampuan anda di bidang tersebut. Saat anda berhasil menelurkan maha karya, orang tidak perlu bertanya lagi tentang pendidikan anda, tidak ada pertanyaan apakah anda lulusan akreditasi A, B, atau C. Akreditasi hanyalah bentuk legitimasi, pengakuan, stempel kampus/fakultas, tapi pada saat anda berkarya anda tidak butuh akreditasi. 

Bekerja dengan orang lain yang menempatkan anda sebagai pegawai, pekerja memang butuh pengakuan atas skill anda. Jika anda lulusan dari fakultas berakreditasi A dengan perolehan nilai yang bagus tentu tidak bisa disamakan dengan fakultas dari akreditasi B dan C dengan nilai yang sama. Namun, tentu kita bertanya-tanya, untuk apa ada pembagian kelas-kelas A, B, dan C. Kenapa tidak dibuat standar saja sehingga adil untuk semua orang. Kenyataan memang tak seindah angan, kita yang awam, ya sudahlah itu urusan orang tinggi di atas sana yang memegang kebijakan. Namun, jika kenyataannya berbicara seperti ini, anda harus berubah pikiran. 

Saya pribadi menganggapnya menarik. Ini adalah jalur yang istimewa, jalur yang tidak biasa. Ini adalah jalan yang sulit, berliku, namun untuk menuju ke satu puncak yang sama rasanya tidak adil jika harus menggunakan kendaraan yang sama. Jika anda berada di posisi yang fleksibel, anda bisa berada di mana saja, menggunakan apapun, kecuali jangan menyentuh area dimana hanya ada orang-orang yang punya pengakuan saja. Walau bagaimana pun juga A, B, dan C tidak bisa disamakan, meski bidang mereka sama, dan nilai mereka sama, namun secara kualitas memang berbeda, begitu pun dengan biaya yang dikeluarkan. Jika anda menginginkan keadilan, maka sudah cukup adil saya rasa, karena akreditasi C membayar lebih murah daripada A dan B.

Sebagian besar orang kecewa dengan adanya pembatasan akreditasi pada saat pendaftaran CPNS jalur umum. Kenapa akreditasi C tidak diakomodasi ? kalau bicara soal keadilan, memang tidak adil. Melukai para lulusan berakreditasi C, atau yang akreditas jurusannya turun dari B ke C. Ya sudahlah, mau bagaimana lagi, toh CPNS itu untuk orang-orang tertentu saja, tidak punya ruang untuk sebagian yang lain. Pancasila kelima masih menggantung di langit-langit impian..

Masih banyak yang bisa dilakukan daripada mengeluhkan nasib atau menuntut keadaan supaya berlaku adil untuk semua golongan, meski suara-suara tuntutan itu sendiri memang sangat layak untuk digemakan agar membangunkan orang dan menyadarkan mereka kalau “kami” ada dan jumlah “kami” banyak. 

Daripada mengharapkan hal yang tidak jelas, lebih baik mulai membangun kejelasan akan jalan menuju masa depan yang lebih baik. Negara ini mungkin belum memfasilitasi masa depan itu, tapi kenapa tidak kita yang memfasilitasinya untuk diri kita, dan syukur-syukur untuk orang lain. Masa depan adalah milik semua orang, tidak ada diskriminasi, nasib akan memilih, siapa yang berjuang dan penuh kreatifitas, dialah yang akan terpilih. Karyalah yang akan berbicara, bukan lagi akreditasi.

Jadi lulusan akreditasi C mau apa ?

Comments