Mari Menulis Tanpa Menyinggung

Menulis merupakan salah satu cara mengekspresikan diri, sama halnya dengan bemusik, bernyanyi, atau melukis. Menulis merupakan suatu seni merangkai kata, mengail ide dan mengejawantahkannya ke dalam bentuk tulisan. Menulis itu sehat dan menyehatkan karena dapat menyalurkan pikiran. Selain itu, menulis bukanlah ajang sebatas curhat, melainkan juga untuk mengasah kreatifitas, terutama saat menulis cerita, memaparkan kisah yang apik untuk dapat dinikmati minimal untuk diri sendiri. Bermain dengan imajinasi atau daya khayal, mempertemukan antara realitas dan imajinasi, atau untuk menyuarakan suara-suara idealisme. Berangkat dari nilai kehidupan realita, dituangkan, dan kemudian disuguhkan untuk dicicipi dan dirasakan. 

Sumber gambar: unsplash.com

Menulis adalah bagaimana kita dapat meramu seuntai pikiran, sebongkah rasa, keinginan dan harapan, dengan bumbu kata-kata, kemudian bagaimana cara kita menghidangkannya dengan susunan-susunan kalimat sehingga renyah saat disantap. Masalah rasa tulisan dikembalikan pada selera masing-masing, yang terpenting bagaimana ide dan gagasan kita dapat tersampaikan dengan baik. 

Karya adalah jembatan paling baik yang menghubungkan kita dengan dunia yang luas, ekspresi yang paling baik yang dapat bersifat abadi meski kita sudah tiada. Tersimpan sebagai bentuk amaliah jika karya tersebut bermanfaat untuk orang lain. Karya itu tidak hanya dalam bentuk tulisan, bisa berupa apapun, karya yang mendapat apresiasi dari-Nya, yang diridhoi, hal yang baik pastinya.

Namun, di era digital saat ini, tidak banyak orang menulis untuk suatu kebaikan. Mereka yang tergiur dengan uang, mudah dibeli untuk membuat tulisan yang menguntungkan atau merugikan pihak tertentu. Mereka adalah orang-orang bayaran, yang kebanyakan penyebar berita bohong, fitnah, adu domba, para buzzer. Ulah mereka tentu meresahkan dan membuat geram. Kita bahkan tidak tahu lagi mana yang benar-benar murni menyuarakan nurani dan mana yang hanya menyuarakan suara demi kepentingan materi.

Banyak aktivis saat ini yang tersandung masalah karena tidak hati-hati menyebar konten atau membuat konten. Konten dibuat sedemikian rupa dalam bentuk meme, gambar, atau tulisan dengan kata-kata provokatif yang sifatnya menyudutkan pihak lain entah individu atau pun kelompok. Konten-konten yang sifatnya penghinaan dan amat merendahkan orang lain memang sudah seharusnya dilaporkan karena tidak etis dan tidak bermoralitas. Dalam budaya manapun, agama apapun pasti melarang perbuatan semacam ini.

Lalu bagaimana dengan konten yang bersifat kritikan ?

Hampir banyak orang yang nyinyir bilang dia sedang mengkritik, padahal kritikan dengan nyinyiran sangat berbeda. Kritikan itu positif demi kemajuan, sedang nyinyiran sifatnya menyudutkan dan menjatuhkan orang. Kritikan itu mengarah kepada kinerja bukan menyasar kepada pribadi secara personal.

Sekarang ini semenejak ada UU ITE, kita sebagai orang awam kudu hati-hati jangan sembarang posting konten atau menyebarkan sembarang konten,  salah-salah nanti dilaporkan. Orang tidak suka dengan kita, mungkin bakal melaporkan dengan dalih apapun meski dengan hal sepele sekalipun. Hal apapun yang masih abu-abu jangan sembarang posting apalagi bila hal tersebut dapat ditafsirkan "hinaan" oleh orang yang berbeda pandangan. Si C yang menghina si A, mungkin si A tidak merasa tersinggung, tapi si B sebagai fans si A mungkin bakal melaporkan si C ke Polisi karena si B tidak suka dengan si C yang menghina si A. Polisi pun memanggil si C dan si B untuk dimintai keterangan, namun kenapa Polisi juga tidak memanggil si A untuk dimintai keterangan ? apakah si A merasa terhina dan mempermasalahkan atau tidak dengan kata-kata si B. Hinaan sendiri sangat subjektif tergantung dari sudut mana kita mengambilnya, tapi secara mutlak yang merasakan hinaan itu adalah si A, dia yang lebih tahu mana yang menghinakannya dan mana yang menurutnya biasa saja.

Kalau sudah bicara fitnah itu jelas salah, fitnah alias tuduhan palsu, kebohongan atau bahasa kerennya sekarang hoaks adalah satu paket kemungkaran yang membuat seseorang keluar dari kebaikan. Banyak sekali konten-konten seperti itu, bahkan judul-judul berita pun kadang menyesatkan pembacanya. Lain judul, lain isi. Namun nampaknya meski banyak orang kesal dengan judul berita semacam itu, tidak pernah ada laporan. Rasulullah Shallallau 'alaihi wassallam sudah jauh-jauh hari berpesan kepada umatnya untuk hati-hati menerima suatu kabar berita. Berita harus divalidasi tentang kebenarannya tidak peduli datangnya darimana. Fitnah itu amat berbahaya, karena dari fitnah itu, dapat memunculkan bencana dan malapetaka.

Masih banyak hal bermanfat lain yang bisa dilakukan dengan tulisan terutama di bidang yang kita kuasai atau yang saat ini tengah kita pelajari. Jauhilah dari polemik atau perseturuan yang tidak perlu di dunia maya. Manfaatkan media sosial untuk belajar, bisnis, mengembangkan diri, aktualisasi diri,  atau kembali pada fungsi sebenarnya yaitu membangun relasi, tempat untuk berinteraksi, dan membagi informasi yang bermanfaat.

Mari menulis dengan lebih bijak karena kebebasan menulis kita dibatasi oleh kebebasan orang lain  untuk mendapatkan tulisan yang tidak menyinggung siapapun dalam arti negatif. Jika ingin mengkritik secara personal lakukanlah melalui pesan pribadi karena hal tersebut jauh lebih beretika.

Comments