Arti Gagal dan Berhasil dalam Perspektif Kebaikan

Tumbuhlah engkau sebagaimana usia saat ini. Jika engkau masih duduk di bangku sekolah maka gunakan waktu untuk belajar mengisi amunisi dan alat tempurmu untuk masa muda. Sebabnya, masa mudamu adalah medan perang yang sulit. Jika masih kuliah belajarlah yang benar dan sungguh-sungguh, kecuali engkau orang berada yang mendapat jaminan untuk hari esok, dimana cangkul dan alat perangmu telah tersedia, engkau hanya tinggal menggarap lahan, dan berperang sahaja. 

Ilustrasi: pixabay.com

Masa kecil untuk menyongsong masa muda, masa muda untuk merebut kemenangan di hari tua, dan masa tua menyambut kematian. Dunia untuk akherat, akherat kehidupan sebenarnya selepas masa percobaan pembukti lisan.

Tidak ada yang tahu nasibmu, kecuali Allah. Meski dapat dirumuskan, namun rumus tak selalu menampakkan hasil yang sama setiap waktu dan pada setiap orang. Nasib sebagiannya mungkin dapat diperhitungkan, namun sebagian lainnya adalah kebijaksanaan dan kehendak bebas-Nya. Engkau bisa berkata:

“Aku hanya perlu berjuang 100 kali, karena aku telah berjuang 99 kali, sekali lagi aku pasti berhasil, jika gagal aku akan terus, terus, terus hingga gagal, dan gagal, serta gagal hingga sejuta kali atau .. entahlah, yang aku tahu aku hanya perlu berjuang dan berjuang, karena itulah yang aku dengar dari para motivator dan telah terbukti nyata dalam biographi seratus tokoh sukses dunia.”

Persiapan gagalmu sungguh banyak, persiapan berhasilmu sangat menyakinkan. Namun jalanmu belum tentu diridhoi Tuhan. Dia mengizinkanmu tapi belum tentu meridhoimu, Dia ridho pada usahamu, namun belum tentu mengizinkanmu untuk berhasil. Dia ingin melihat kesungguhan imanmu untuk merebut akherat melalui dunia, bukan kesungguhan usahamu untuk merebut dunia dan melalaikan akherat. Dunia tunduk pada orang yang mencampakkan dunia dari hatinya dan mengejar kebaikan akherat siang dan malam, dan Dunia berkuasa mencampakkan orang yang tergila-gila dan mengejarnya sepanjang waktu. Sebagiannya berhasil memilikinya namun dibuat sibuk hingga lupa menengok tempatnya kelak di Akherat, sebagian yang lain dibuat gagal, gagal, dan gagal, hingga frustasi dan bunuh diri, sebagian kecil sisanya akhirnya tersadar dan meminta bantuan Tuhan untuk mencintai Akherat sepenuh cinta sepenuh rindu.

Tak ada yang tahu nasibmu seperti apa, pun para motivator itu, pekerjaan mereka memang memotivasi orang, jika kamu gagal, mereka berdalih kamu masih kurang berusaha, ayo berusaha lagi pasti berhasil, tinggal selangkah lagi pasti sukses, ayo berjuang terus jangan menyerah. Habis sudah usia, engkau pun mati tak kunjung berhasil, lupa ibadah pula, neraka sudah menunggu sejak lama.
Namun, tidak bagi mereka yang surga merindukannya. Hidup untuk niat ibadah tak peduli sukses atau gagal. Hidup adalah kemenangan bagi orang beriman, meski dunia adalah neraka bagi mereka, karena dunia telah mengekang seluruh kesenangan mereka. Hidup bagi mereka adalah di akherat kelak, sementara di dunia hanyalah sebatas lewat dipinggir jalan. Mereka adalah musafir tulen, rela meninggalkan banyak “jajanan” enak-enak, hanya untuk dinikmati di akherat, mereka menyimpan “nafsu” mereka, semangat menyala-nyala karena tidak pernah memikirkan dunia, rindu mereka berdarah-darah pada surga, pada-Nya, dan pada kekasih-Nya.

Dunia ini akan terasa seperti apa yang terasa di hatimu. Apa yang terasa di hati kita, itulah yang kita pikirkan. Apa yang kita pikirkan, membekas di hati, meninggalkan jejak-nya di jiwa. Jangan pikirkan tentang keberhasilan dan kegagalan. Untuk apa ? pikirkan hal yang lebih produktif dan bermanfaat, yaitu kebaikan. Entah untuk diri, entah itu untuk orang lain. Kebaikan tidak pernah mengenal kosakata “keberhasilan” dan “kegagalan”. Kebaikan akan selalu menjadi kebaikan, akan selalu menjadi keuntungan, apalagi jika kebaikan itu menjadi mata rantai, menjadi gelombang, berlipat-lipat, menerjang daratan, mengguncang dunia.

Kebaikan tidak mengenal kerugian, jika engkau rugi karena berbuat kebaikan, ingatlah kerugianmu itu adalah kebaikanmu nantinya ditambah dengan hasil dari berbuat baik. Surga tidak bisa dibeli dengan uang, dengan materi, tapi bisa dibeli dengan kebaikan (dengan catatan menurut keyakinan Muslim adalah terlebih dahulu memiliki kunci untuk masuk ke Surga). Kebaikan dapat menarik apapun termasuk rizki yang kita selama ini kita cari-cari namun tak kunjung mendapatkan, siapa tahu kita lupa berbuat baik.

Sekaya dan semiskin apapun, kebaikan itu tetap berarti. Menolak kebaikan orang lain sebetulnya bisa salah karena kebaikan itu adalah kesempatan bagi orang tersebut untuk mengisi kas kebaikan mereka dan mengurangi kas keburukan mereka. Namun, kita pun tentu tidak ingin terus menerima kebaikan sehingga kas keburukan kita bertambah dan kas kebaikan kita berkurang, sehingga hal baiknya adalah balance, keseimbangan. Saat kita menerima kebaikan, maka sebarkanlah jua kebaikan. Saat kita menerima keburukan, terima dengan legowo dan masukkan itu ke dalam kas kebaikan sehingga dapat bertambah. Menjadi plus jika kita dapat membalasnya dengan kebaikan, keburukan kita berkurang. Sungguh menguntungkan berbisnis kebaikan.

Praktiknya sulit, sangat sulit,.. kita lebih cenderung mengikuti keinginan sesat nafsu. Tidak mengikuti sepenuhnya logika akal sehat. Tidak berpikir dengan kepala dingin saat menemui masalah yang membuat hati panas. Maklum saja, kita memang manusia. Kita bukan robot yang dapat diprogram untuk berbuat baik, namun secara basic kita adalah pelupa, dan tidak pandai bersyukur. 

Sabtu sore yang gelap..

Comments