Demi Masa: Saat Tuhan Bersumpah dengannya

Waktu berjalan sangat cepat. Tidak terasa kita berada di penghujung Oktober dan sebentar lagi memasuki awal November, setelah itu Desember, dan kemudian Januari 2018. Tahun itu Indonesia akan menjadi Tuan Rumah ASIAN Games ke 18, dan tahun itu pula akan dimulainya tahun politik nasional persiapan Pilpres 2019. Sungguh waktu berjalan sangat cepat hingga tak terasa perjalanan selama setahun ini, meski kita baru berada di pekan terakhir Oktober 2017.

Sumber gambar: Pixabay

Seyogyanya waktu amatlah menarik untuk dijalani, diselami, dirasakan, dihirup, diamati, dinikmati.. karena waktu adalah keajaiban tak kasat mata namun amat terasa. Jika ada yang hal yang paling ajaib di dunia ini saat ini itulah sang waktu yang melingkupi kita semua, yang saat ini menggerakkan jarum jam, menggerakkan alam, menggerakkan matahari dan bulan (karena begitulah waktu yang telah di desain Tuhan). Pergerakkan waktu, menggerakkan kita semua, menumbuhkan usia, kerutan wajah, rambut, tubuh.. Waktu sanggup mengubah semuanya termasuk apa yang ada dalam diri kita: pikiran dan hati kita. Mengadakan apa yang tidak ada dan menghilangkan apa yang telah ada. Mempertemukan dan juga dapat memisahkan.

Saat ini dalam detik ini, saat kita menghirup nafas, apa yang terjadi ? kita melihat dan mendengar, dan merasakan apa yang kita rasakan. Kita hanya mampu memikirkan apa yang kita lihat dan dengar dengan panca indera. Kita hanya mampu merasakan apa yang pernah kita rasakan dalam beragam kondisi yang pernah kita lewati untuk mengungkapkan apa yang kita rasakan saat ini ditambah dengan campuran rasa dari yang bisa kita tangkap dengan batin kita.

Waktu tidak pernah dapat diduga. Tidak pernah dapat dikontrol sepenuhnya, karena yang bisa kita kontrol hanyalah diri kita bagaimana memperlakukan waktu tersebut, namun waktu selalu otonom dan punya cara kerjanya sendiri. Apa yang datang pada kita sangatlah benar adalah dampak dari apa yang sebelumnya kita kerjakan, bak pantulan gema suara, atau gelombang air.. pada suatu saat akan datang kembali pada kita tergantung jauh dekatnya dinding gua atau pinggiran kolam air. Waktu mengenal keberuntungan sebagai energi yang mampu mengubah ritme-nya.

Ada yang dengan bersedekah dan berbuat kebaikan, kemudian keran rizky-nya tiba-tiba saja terbuka dan mengucurkan banyak air yang sebelumnya tersumbat. Ada yang berbuat satu dua kesalahan dan dosa, kemudian hidupnya tiba-tiba saja jatuh dalam kemalangan dan dirudung duka, dijepit masalah hingga tak tak bisa menikmati hidup. Hidup ditentukan waktu yang mengatur apa yang datang dan pergi dari kita. Namun waktu dapat dipengaruhi oleh medan energi “positif” dan “negatif” yang berasal dari diri kita sehingga menimbulkan apa yang kita sebut sebagai “keberuntungan” dan “kesialan”.

Manusia selalu memikirkan masa depan, meski ada beberapa diantara kita yang tenggelam asyik menjalani “waktu saat ini”, sisanya mengurung diri di masa lalu: memikirkan masa lalu.
Bagi yang merasa bahwa dia belum memiliki apa yang seharusnya dimiliki saat ini selalu memikirkan tentang perencanaan, dan strategi atau cara bagaimana memiliki hal itu dalam waktu dekat. Bisa dikatakan bahwa dia sedang memikirkan masa depan, memperlakukan waktunya saat ini untuk meraih waktu yang lebih baik di hari esok.

Bagi manusia, hal primer yang perlu didapatkan sehingga akan menimbulkan ketenangan dalam hidup adalah: rumah, kendaraan, pernikahan, penghasilan yang stabil, lingkungan tempat tinggal yang nyaman dan aman, dan hubungan antara sesama manusia yang baik, sehat, dan menyenangkan, begitu pun hubungan antara ia dan Tuhannya .

Jika orang dewasa belum memiliki rumah sendiri, kendaraan sendiri, atau belum menikah atau pun memiliki pasangan, apalagi belum memiliki penghasilan yang ideal, bisa dikatakan hidupnya sangat labil dan berada di garis warning. Hal ini jika dibiarkan larut akan berbahaya untuk hidupnya.
Apabila seseorang sudah memiliki apa yang sepatutnya dimiliki artinya sudah memenuhi tuntutan diri dan keluarga maka orang ini memiliki warna hidup yang hijau. Menyenangkan untuk dijalani namun tetap fokus untuk menatap hari esok.

Bagi mereka yang tidak bisa move on dari masa lalu, harus disadarkan bahwa waktu akan terus berjalan. Mereka akan menyesal jika hanya karena sepotong memori, membutakan hidup mereka, dan menghilangkan banyak kesempatan yang seharusnya mereka raih untuk hidup lebih baik di masa yang akan datang, waktu yang akan datang dan akan mereka rasakan.

Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga nilainya, kita semua tentu ingat hal itu dan bagaimana Tuhan mengatakan bahwa manusia amat merugi jika melalaikan waktu dengan perbuatan tak berguna dan mendatangkan faedah untuk dirinya. Tidak hanya merugi di dunia namun kelak di akherat.

Tafakkuri-lah waktu saat ini, istirahatkanlah jiwa dari kesibukan urusan duniawi barang sejenak. Kita melakukan itu bukan untuk membuang waktu, namun mendapatkan intisari waktu untuk membersihkan “cache” yang terkadang mengganggu kinerja hidup kita, dan untuk melegakkan memory sehingga mampu berpikir lebih jernih dan kuat memandang persoalan hidup. Tentu tidak ada manusia yang sempurna, namun kita ingin menyelami waktu yang baik dan mengakhiri waktu di dunia dengan cara yang baik sehingga memperoleh apa yang Tuhan telah janjikan bagi pemilik keberuntungan tersebut, Surga yang dibawahnya sungai-sungai.

Bacalah buku yang di dalamnya terdapat pesan orang-orang shalih dari generasi terdahulu, bacalah Al-Qur’an karena di dalamnya ada pesan-pesan Allah untuk kita yang saat ini sedang berada di dunia, tegakkan Shalat karena merupakan tiangnya agama, agama yang tetap tegak akan menjadi jalan hidup yang membawa kita kepada tujuan yang hakiki, sementara agama yang runtuh dan rusak akan membuat hidup kita sesat terombang-ambing dalam ketidakpastian arah dan tujuan akhir kehidupan. Bacalah Al Hadist yang menuntun kita pada perilaku Rosulullah karena Rosulullah Muhammad SAW adalah contoh terbaik untuk diikuti meski pun kita tahu bahwa kita tidak mungkin bisa sesempurna beliau namun setidaknya kita tahu bahwa dengan mencontohinya akan banyak kebaikan dan keberuntungan yang akan kita rasakan dalam kehidupan ini menambah kas keimanan, pahala, derajat, dan amalan yang membawa kita ke tingkat Surga yang terbaik.

Mengikuti model kehidupan yang populer di kalangan generasi muda seperti model berpakaian, life style yang ‘Western’ memang lebih disukai karena jemaah-nya banyak, namanya juga kehidupan global yang dimotori dari dunia barat. Teknologi yang ada saat ini pun berasal dari perkembangan teknologi yang berhasil dicapai oleh dunia barat dan sebagian Asia, terutama dari negara-negara maju seperti Inggris, Amerika, Jepang, China, dan Korea. Kita tidak harus mengikuti model mereka namun mengikuti ala kadanya pada titik temu universal, yang harus kita miliki adalah mentalitas islami. Sebagian saudara-saudara kita dari bumi Nusantara alergi dengan style kearab-araban, dan menyebut sebagian kelompoknya sebagai kaum radikalis, ekstrimis, dan kaum yang ingin mengubah Pancasila dengan ideologi khilafah. Kita yang sadar, tidak ingin ikut-ikutan berpandangan seperti mereka, atau berdiri diantara pro dan kontra. Biarkan sajalah karena waktu akan menunjukkan kepada kita pada akhirnya, yang salah itu dan benar itu. Omongan tidak bisa menjadi landasan, tapi peristiwa dan kejadian yang dibentuk oleh sang waktu akan mampu menghasilkan karya akhir dari dinamika hidup, menjadi bukti nyata.

Waktu merupakan bagian dari eksistensi diri kita, keadannya merupakan wujud dari kehidupan kita. Kehilangannya kita sudah berganti dimensi ke alam barzah. Waktu yang berhenti, binasalah segala sesuatu kecuali sang Pemilik Waktu itu sendiri. Demi masa ! ya Tuhan sendiri pun bersumpah dengannya bahwa eksistensi kita yang ada di dalam waktu itu penuh dengan kelalaian dan kesia-siaan kecuali bagi mereka yang mengimani yang Allah sampaikan dan yang beramal didasarkan dari keimanannya, serta saling memberi pesan nasihat untuk kebenaran dan selalu berada dalam kesabaran. Selain itu, nothing, hanya kesia-siaan dimana faedahnya hanya sebatas pada sebab akibat di dunia selebihnya menguap tak bersisa di akherat, atau menjadi satu catatan di sisi Tuhan untuk meringankan siksa neraka yang seringan-ringannya siksa tetaplah tidak menyenangkan untuk dirasakan. 

Waktu jelas bukan Tuhan, namun Tuhan telah melimpahkan kekuatan pada sang waktu hingga begitu sangat berkuasa. Hayati satu detikmu untuk menemukan titik ketenangan. Berdoalah di kala tenang, semoga Allah memberi bimbingan untuk menjalani hidup sesuai dengan perintah-Nya sehingga dapat menggapai keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akherat.



Aamiin..

Comments

Post a Comment