Hanya Ada Hari Ini dan Esok

Saya suka dengan kemudahan dan kebebasan, keamanan dan ketenangan. Saya pikir orang lain pun pasti menyukainya. Siapa yang tidak ingin segala urusannya menjadi mudah? Siapa yang tidak ingin menjalani hidup dengan bebas? Siapa yang tidak ingin keamanan dirinya terjamin dan menjalani hari-hari hidup dengan tenang? Apakah negara sudah memberikan semua itu? Apakah kota tempat dimana kita tinggal sudah menyediakan itu?

Sumber: pixabay.com

Kemudahan dan kebebasan, keduanya ada di dalam kosakata yang bernama kesederhanaan. Sederhana identik dengan sesuatu yang biasa-biasa saja sehingga tidak terlalu menarik perhatian banyak orang, biasanya lekat dengan hal yang berbau materi. Hal sederhana memang memudahkan, kemudahan akan menimbulkan percikan kebebasan. Bebas dari kerumitan dan kesulitan karena tidak ada ikatan yang mengikat kencang dan himpitan tekanan yang tidak terlalu menekan kuat.

Keamanan dan ketenangan. Kalau sudah merasa aman pasti akan merasa tenang dan damai. Mau kemana saja tenang rasanya karena aman. Tidak takut dengan situasi dan keadaan tertentu. Mau siang, atau malam, bebas bebas saja melakukan apapun tanpa merasa was-was. Asalkan apa yang dilakukan tidak melanggar hukum, norma, moral, agama, dan adat istiadat. Peraturan tetap diperlukan bukan mengikat namun menuntun perilaku dan ucapan agar selaras dengan bumi tempat kita berpijak.

Apa yang paling banyak dikhawatirkan orang banyak di negeri ini atau orang-orang di sekitar kita yang notabene sudah dewasa ?

Ekonomi dan keamanan.. mungkin,

Ekonomi kurang tentu menimbulkan keresahan dan menjadi bahan pikiran, apalagi jika ada hutang makin dibuat hidup tak tenang sementara keamanan tidak menentu. Saban waktu, bisa saja kena begal di jalan, atau ketemu tukang palak di sudut gang.  Lalu bagaimana jika ekonomi mapan ? senang mungkin iya, tenang bisa jadi, tapi bisa jadi sibuk sendiri, memikirkan kesenangan hedonisme, terjebak dalam tren gaya hidup. Keamanan terjamin ? lebih banyak amannya karena tidak pernah bertemu dengan preman kampung, atau pelaku onar yang biasanya meneror orang-orang susah. Sudah susah ditambah susah dengan perilaku premanisme makin dibuat hidup orang miskin dan tak berpunya bak di neraka durjana. Orang kaya tidak pernah merasakan itu tapi keamanan mereka belum terjamin penuh: perampok bersenjata, penipu berpenampilan eksekutif, perebutan harta, perselingkuhan, sampai pembunuhan tingkat tinggi dengan racun oleh teman sendiri, kerabat dekat, keluarga, atau tetangga sebelah.

Apakah kehidupan saat ini sudah segawat itu? tentu tidak semua orang merasakan, pun saya sendiri. Saya pernah memiliki pengalaman yang cukup mengusik soal keamanan di dalam angkutan kota: kecopetan. Pengalaman pertama dan semoga untuk yang terakhir kalinya, karena bukan soal uang yang harus hilang melainkan soal surat-surat dan kartu berharga yang berada di dalamnya seperti KTP-EL contohnya. Uang yang hilang bisa dicari, tapi kalau sudah kartu yang hilang, ini urusannya adalah birokrasi yang rumit, bertele-tele, dan lambat.

Bicara tentang KTP-EL memang tidak ada habisnya. Ada yang lancar-lancar saja mendapatkannya, namun ada yang bisa dibuat frustasi dan depresi, kehilangan waktu berharga sepanjang hari hanya karena mengantri tapi hasilnya disuruh datang lagi minggu depan. Begitu terus sampai tidak ada penjelasan. Ini bukan hanya soal blanko kosong karena dikorupsi, tapi persoalan sistem, dan petugas pelayanan yang masih kurang memenuhi harapan. Bicara tentang sistem, bangsa kita dikenal memiliki budaya “Antisipasi” yang rendah. Kurang berantisipasi jika terjadi persoalan. Membuat keputusan itu mudah, tapi bagaimana membuat sistem dari hilir ke hulu yang dapat men-cover setiap persoalan yang terjadi itu yang sulit. E-KTP belum complete, datang  ‘kekagetan’ baru, beli nomor harus diregistrasi dengan NIK dan KK. Alasannya untuk mengurangi tindakan kriminalitas dengan menggunakan nomor Handphone. Saya rasa penggunanaannya jelas lebih besar dari sekedar mengurangi kejahatan, yaitu soal data identitas pemilik nomor.

Peregistrasian nomor kartu Handphone merupakan langkah yang bagus untuk mengurangi tindak kejahatan salah satunya penipuan. Langkah ini juga dapat membantu untuk mengetahui data pribadi sang pengguna nomor. Namun, di satu sisi, kita merasa enggan data pribadi kita yang sensitif itu “diintip” oleh sembarang orang yang tidak bertanggung jawab kemudian menyalahgunakannya untuk suatu kepentingan tertentu. Namun, kebanyakan kita memang sudah terbiasa tidak menganggap serius masalah privacy, toh kita sering memfoto copy KK dan KTP di tempat foto copy.

Teknologi yang konon memudahkan kehidupan kita, padahal pada kenyataannya ternyata tidak. Pada satu sisi memang memudahkan, namun di sisi lain menyulitkan dan menambah ancaman keamanan. “Mainan” macam Facebook ternyata mampu mendatangkan “bala” maupun  “rezeki nomplok”. Internet di satu sisi merusak, di satu sisi lain menumbuhkan, di satu sisi membuat kebodohan moral massal, di sisi lainnya mencerdaskan akal karena bisa dipakai untuk belajar, bekerja, dan bersosial. Jadi mau di zaman apa pun semuanya pasti ada kemudahan dan kesulitan yang hampir seimbang. Saat ini kita yang lahir sebelum tahun 2000-an hidup diantara dua zaman, zaman antara tahun 1990-an dan tahun 2000-an, tak heran kita masih terkaget-kaget, dan merasa panas dingin menghadapi kemelut persoalan. Orang-orang tua kita harus dipaksa mengubah pola pikirnya, orang-orang dewasa menyesuaikan perubahan dari tahun ke tahun, digiring oleh keadaan, anak-anak kecil belajar menggunakan teknologi, dan terterpa hawa digitalisasi.

Lalu kapan kemudahan dan kebebasan, keamanan dan ketenangan itu akan dirasakan ? mungkin pada masanya akan datang, saat Negara ini sudah maju, warga negaranya memiliki pola pikir yang maju, mental dan moral yang baik berdasarkan falsafah leluhur dan ajaran keyakinan sesuai agamanya. Saat Sumatra, Jawa, Kalimantan, Papua terkoneksi dengan baik. Saat jurang pemisah antara kaya dan miskin menjadi mitos, ketika korupsi hanya menjadi cerita lama yang terkubur. Apa yang kita rasakan saat ini mungkin pada suatu saat hanya menjadi riwayat tempo dulu Indonesia masa 2000 – 2100. Saat kita semua yang hidup di dunia saat ini sudah berada di alam kubur, berharap anak cucu cicit hidup bahagia di bumi Indonesia, tidak lupa mendoakan kakek moyangnya itu jika mereka masih ingat siapa kita yang hidup pada hari ini. Maka alangkah bahagianya jika cicit masih ingat siapa buyutnya jika si buyut adalah tokoh yang dikenal pada masa nya.

Itulah masa depan. Datang atau tidak. Terjadi atau tidak. Kita tidak pernah tahu itu. Satu hal yang pasti. Bagi kita: hanya ada hari ini dan esok.

Comments