Kejahatan Tidak Pernah Takut Tuhan

Dunia luar itu kejam jika kita tidak mempunyai apa-apa, terasing, dan jauh dari ketidakpedulian. Harapan satu-satunya hanya pada Yang di Atas, dan itu menumbuhkan harapan yang kekuatannya sebanding dengan keimanan kita pada-Nya. Jangan berharap bahwa harapan kita kepada-Nya sangat kuat jika iman kita lemah karena lemahnya pengetahuan kita tentang-Nya. Ketika kita tidak punya apa-apa, apakah kita akan berharap pada-Nya ? atau berharap pada orang lain ? atau berharap pada-Nya sambil berikhtiar dengan mencari kebaikan pada orang lain untuk kita.

Ilustrasi: pixabay.com

Sebagai bangsa yang penuh kultur dan mengenal Tuhan dan ajaran Agama atau keyakinan pada sesuatu yang meletakkan dirinya pada kelemahan sehingga butuh pada Yang Maha Meliputi Segalanya, harusnya bangsa kita menjadi lebih budiman, baik hati, gemar menolong sesama, beramah tamah, tidak menyukai kekerasan dan kerusakan, teratur, tidak suka melanggar aturan karena takut salah dan taat pada hukum, apalagi mencuri, merampok, begal, korupsi, main hakim sendiri, dan lain-lain lagi. Namun, kenyataannya bersuara lain, bangsa ini sedang sakit dengan banyakya masalah, dan dari sekian banyak masalah itu adalah karena bobroknya mentalitas, moralitas, dan intelektualitas warganya. Hal ini diperparah karena ternyata Agama hanya kedok KTP semata, tapi tidak pernah dijadikan tuntutan dalam kehidupan. Minimal menjadi orang baik, sudah cukup. Jika Anda muslim, cukup penuhi rukun Islam dan rukun Iman serta beramaliahlah yang baik, lain-lainnya bonus, jika Anda melakukan tambahannya, tentu akan semakin baik dan baik. Minimal Anda benci dengan keburukan dan kejahatan sehingga Anda mencintai keteraturan, kebersihan, keindahan, keadilan, kebaikan, dan nasihat-nasihat yang baik. Jaga lidah, tangan, dan kaki Anda dari menyakiti orang lain, termasuk mengurangi keburukan terhadap diri Anda sendiri akan sangat membantu untuk meningkatkan sisi baik yang terpancar untuk orang lain. Jika hati dan pikiran Anda buruk, jiwa akan resah, dan jiwa yang gundah memperburuk pikiran dan hati Anda, serta membuat output dari lidah, tangan, dan kaki pun menjadi buruk serta.

Keyakinan religi sangat besar kas-nya untuk  kebaikan bangsa dengan catatan keyakinan tersebut tetap berada di wilayahnya, jika menyeberang ke wilayah lain maka diperlukan sifat tambahan untuk bangsa ini yaitu rasa saling percaya, saling menghargai, saling menghormati, tidak memaksakan kehendak, turut memperhatikan, dan tidak suka dengan hujatan, cacian, makian, nyinyiran, ya pokoknya ekstra doble baiknya. Jika hari ini, saat ini kita merasakan negeri ini seperti ini, bangsa ini seperti saat ini, ya karena bangsa kita yang sedemikian besar majemuk-nya kurang terawat dan bahkan lepas kendali. Tengok saja generasi muda bangsa kita yang masih duduk di bangku sekolah itu, tanyakan pada guru-gurunya lebih banyak yang mana, siswa yang patuh atau siswa yang beringas ? jika generasi muda kita saja sudah sedemikian parahnya, sudah ditebak bagaimana nanti sulitnya bangsa ini berjalan menjadi negara maju yang maju juga manusianya dari semua dimensi.


Salam Indonesia Merdeka (dari kebodohan, kemiskinan, kejahatan, premanisme, korupsi….. ~), saya ingin melihat berita yang baik di semua media, mendengar komentar yang baik-baik di semua berita itu, acara yang baik-baik di semua stasiun televisi, dan penjara-penjara yang kosong karena malasnya orang berbuat kejahatan. 

Jika tidak berbuat jahat membuat aman, berbuat baik menyenangkan, lalu kenapa orang suka dengan melakukan kejahatan ? merugikan orang lain, dan membuat hidup makin sulit dan susah untuk menemukan ruang suka cita bagi mereka atau bagi kita: rakyat kecil yang lemah tidak punya apa-apa. 

Logikanya dimana ? Jelas logis karena kejahatan tidak pernah takut dengan Tuhan apalagi dengan hukum, adanya hukuman mati sekali pun, masih banyak orang yang berani menantang meski harus sembunyi-sembunyi takut ketahuan, tapi tetap saja mereka bernyali melakukannya. Kejahatan tidak pernah bisa kita usir pergi, hanya bisa dibendung dengan memperbanyak jumlah orang baik sehingga jumlah orang jahat makin berkurang, dan akhirnya seperti satwa di kandang kebun binatang yang dipelihara karena takut punah, kejahatan itu akan terus eksis selama manusia bebas berkhendak yang dengan nalarnya dapat membolak-balikkan apapun, yang salah dianggap benar, yang benar dianggap salah.

Itulah manusia, yang punya sifat dasar suka melanggar aturan seperti moyang kita dulu melanggar larangan-Nya, karena kejahatan tidak pernah takut Tuhan, jika masih punya rasa takut, mereka berharap bahwa Dia Maha Mengampuni. 

Comments