Cinta dan Obatnya

Cinta merupakan salah satu bentuk kesenangan dunia jika ditujukan kepada segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia, dan biasanya jika perasaan cinta terhadapnya berlebihan akan mendatangkan keburukan dan penyakit yang berlebihan. Kebalikan dari dunia adalah akherat, dan cinta yang ditujukan kepada urusan-urusan akherat menjadi obat dari penyakit yang ditimbulkan dari perasaan cinta kepada dunia.

sumber: pexels.com

Rasa takut mati adalah salah satu perasaan yang timbul karena cinta pada kehidupan dunia, kebalikannya adalah rasa rindu berjumpa dengan kematian karena cinta pada akherat. Tentu saja bukan berarti karena rindu itu membuat seseorang akhirnya memilih bunuh diri, melainkan kematian itu sendiri tidak ditakutinya jika pun akhirnya datang kepadanya.

Cinta kepada harta benda membuat seseorang terus terobsesi mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, dan pelit atau bakhil mengeluarkan sebagian hartanya untuk bersedekah atau membayar zakat harta jika sudah terpenuhi hisabnya. Kebalikannya bila seseorang itu cinta kepada akherat, maka ia akan lebih bersungguh-sungguh bersedekah, ber-qurban, dan membelanjakan hartanya di jalan Allah, serta untuk kepentingan ibadah lainnya.

Sekarang ini, anak-anak muda kita secara umumnya, bahkan sudah tidak aneh lagi berbicara tentang cinta kepada lawan jenis. Mulai dari celana merah, biru, apalagi abu-abu, dan sewaktu bercelana bebas di bangku kuliah. Islam secara tegas melarang pacaran, bahkan mengharamkannya. Siapa yang melakukannya maka ia akan terus dirudung dengan problematika kehidupan yang menerpa hatinya. Galau terus dan terpikirkan terus. Mencabut rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, mencabut keindahan dari berkumpulnya sesama kaum Muslimin, dan mencabut manisnya ibadah, serta ghirrah atau semangat keislaman.

Masa-masa muda yang seharusnya dihabiskan dengan menuntut ilmu setinggi-tingginya, berkiprah dengan terjun langsung ke ummat, atau sembari bekerja untuk kemandirian hidup malah dihabiskan dengan urusan percintaan yang tidak jelas arahnya mau kemana selain hawa nafsu yang bicara. Ada kaidah yang berbunyi jika engkau tidak disibukkan dengan kebaikan maka engkau akan disibukkan oleh keburukan. Ada masa-masanya dimana kita harus belajar, bekerja, dan kemudian menikah. Cinta kepada lawan jenis tentu akan menjadi sesuatu yang baik dan menjadi power untuk membangun rumah tangga yang positif penuh dengan bumbu-bumbu cinta manakala dilakukan pada waktu yang tepat.

Janganlah mengikuti kehidupan ala Western yang menjadikan cinta itu sesuatu yang dikejar, menjadi salah satu bentuk kesenangan yang dicari anak-anak muda secara bebas dan akhirnya melakukan bentuk perzinahan sampai kepada hal yang berat. Musik dan lagu-lagu yang kita dengar selama ini dan hampir sebagian besarnya adalah lagu-lagu bertema cinta, dari kata-kata biasa sampai kata-kata yang sebenarnya tidak pantas untuk ditujukan kepada manusia tapi selayaknya ditujukan kepada Tuhan. Bagaimana akhirnya anak-anak muda itu tidak rindu dengan cinta terutama dari seseorang yang amat didambanya dan dirindukannya untuk hadir dalam hidupnya jika mereka terus dikepung dengan lagu-lagu semacam itu dan sinetron-sinetron percintaan anak muda.

Jika kamu bersabar dan bersabar, Allah akan datangkan, jika tidak tentu tidak akan datang-datang. Bersabar pun jangan berpangku tangan, diam terus di tempat. Namun, coba langkah kan kaki ke luar ke tempat-tempat yang baik, siapa tahu kamu akan bertemu dengan seseorang. Jika tiba waktunya, pasti akan datang padamu seseorang yang akan menjadi teman hidupmu. Seorang yang mengenalmu luar dan dalam, lahir dan batin. Menerima setiap kekuranganmu, tidak hanya apa yang disukainya darimu.

Untuk kaum Adam, sebaiknya kamu mampukan dirimu secara ekonomi. Kalau sudah mapan, barulah kamu bisa mencari dimana pun. Sebenarnya tidak sulit, hanya masalah waktu. Hal sulitnya terletak pada dirimu sendiri. Kamu sudah mapan atau belum ? atau jangan menunggu mapan sempurna, setengah mapan saja sudah cukup asalkan kamu bisa cukup menafkahi lahir dan batin.

Urusan cinta terhadap lawan jenis adalah urusan pelik yang menguras hati sehingga ada baiknya untuk tidak berurusan dengan cinta jenis ini jika kamu belum siap untuk menikah. Sebaiknya bagi yang Muslim arahkan cintamu kepada Allah dan Rasul-Nya, kepada agama ini, kepada urusan kaum Muslimin. Bekerjalah dan beribadahlah dengan penuh disiplin, bangkitkan dirimu, dan bangunlah menjadi pribadi yang menjadi presentasi agama ini. Minimal, kamu berdayakan dirimu sendiri sebelum menemukan pasangan, bukan berarti selama itu kamu tidak punya cinta atau tidak bisa merasakan cinta, hanya saja cinta yang kamu punya adalah cinta yang tak bertuan.

Jagalah hati dari adanya rasa cinta kepada lawan jenis. Sibukkan dirimu dengan aktifitas-aktifitas positif yang membangun dirimu. Bila kamu menyukai seseorang, cobalah menyimpan rasa suka itu di sisi-Nya. Katakan kepada Allah “Ya Tuhan, sesungguhnya aku menyukai salah satu hamba-mu yang bernama fulanah, karena aku belum siap, maka aku menyimpannya di sisi-Mu, jika ia baik untukku dan Engkau telah menetapkan dia sebagai jodohku, maka jagalah ia untukku dan berilah aku rezeki untuk segera menghalalkannya untukku, dan jika ternyata ia bukan untukku dan tidak Engkau takdirkan dia denganku, melainkan dengan yang lain maka hilangkanlah dariku perasaan-perasaan selain perasaan-perasaan bersaudara sebagai hamba-hamba-Mu.”

Akan menjadi lebih rumit, ketika si dia pun ternyata menyukaimu. Kamu mungkin akan bimbang, apa yang akan kamu lakukan ? apakah kamu akan mengungkapkan perasaanmu, atau mengabaikannya dan memilih bungkam, serta bersikap biasa dengannya ? pasti kamu akan merasa dilema. Pada satu sisi kamu tidak ingin pacaran, di satu sisi lain kamu memiliki perasaan kepadanya, mempunyai keinginan untuk menjadikan dia sebagai kekasihmu, sebagai cinta sejatimu. Ok, masalah ini benar-benar rumit. Kenapa rumit ? karena dibuat rumit. Kalau mengikuti rumusan agama, ya sudah "cut" saja. Tidak ada hubungan spesial diantara pria dan wanita selain menikah, hanya hubungan biasa aja selayaknya manusia dengan manusia lainnya. Jika kamu benar-benar menyukainya, katakan saja terus terang, dan bagaiman soal menjalaninya, jalanilah dengan perasaan yang tenang tanpa menggebu-gebu karena bisa jadi itu hanya nafsu. Ubahlah kegebuan di dadamu menjadi kekuatan tekad untuk segera melangsungkan pernikahan segera. Bagaimana dengan perkenalan? bukankah kita harus saling kenal mengenal? itulah yang namanya silaturahmi, kepada keluarganya, untuk lebih mengenal dekat. Bukan hanya kepada dirinya saja, kalau hanya kepada dirinya dan kamu tidak berani untuk mengenal keluarganya, bukan perkenalan namanya, tapi kamu hanya ingin menjalin hubungan dengannya secara dekat dan bila disetujui olehnya maka bila terjadi pertukaran kata "suka" dan "cinta" jadilah hubungan diantara dua insan di luar pernikahan (menjalin asmara atau pacaran) tanpa adanya pertanggungjawaban.

Cinta perlu komitmen, sebaik-baik komitmen adalah menikah. Urusan menjalani rumah tangga bisa belakangan, yang penting halalkan dulu hubungan atas dasar cinta dan iman. Menikah di usia muda jangan berharap lebih dari pesta pernikahan yang mewah. Menikah adalah menghalalkan hubungan, jangan dipersulit soal materi, jika yang dipikirkan adalah memenuhi kebutuhan keluarga pasca pernikahan, ya itulah yang perlu dimatangkan baik-baik. Jangan sampai menikah hanya modal cinta, saat cinta usai, usai juga pernikahan. 

Menikah di usia muda dalam pandangan agama sangatlah baik karena akan menjaga diri dari segala godaan syahwat sekaligus menyempurnakan separuh agama. Namun, di sisi lain membuat kita harus ekstra berjuang, karena di usia muda kita harus dihadapkan pada urusan rumah tangga dan urusan membesarkan anak-anak di saat teman-tema yang lain sedang menikmati masa-masa muda mereka dengan kuliah, bekerja meniti karir, atau mengikuti kegiatan-kegiatan lain. Bukan berarti dengan menikah akhirnya "stop" tidak bisa melakukan hal-hal lain terutama bagi kaum wanita. Saat sudah menjadi status isteri, saat itu harus datang kesadaran dalam diri bahwa dirinya sudah memegang kewajiban tambahan yaitu memperhatikan suaminya disamping urusan pribadinya. Pun dengan sang suami, harus punya kesadaran untuk memperhatikan isterinya disamping bekerja dan kehidupan personalnya. Suami dan isteri ibarat satu tubuh, satu jiwa, satu hati yang memiliki kehidupan bersama untuk dijalani bersama-sama --idealnya sih.

Bicara soal lain, 

Kehidupan kita saat ini dibenturkan pada dua bentuk gaya hidup yaitu style western (kebarat-baratan) dan agama. Gaya hidup western bersifat bebas dan seperti yang umumnya kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yang mempunyai pandangan western akan heran dengan pernikahan dini, pasti anggapannya jelek, dan mengikat. Bagi mereka pacaran adalah hal umum, dan menikah adalah tidak lazim. Kalau bisa pacaran dulu kenapa harus menikah, dengan pacaran kita bisa mengenal satu sama lain, mendewasakan diri sebelum memutuskan untuk menikah jika sudah mapan, itu kata mereka. Sementara dalam agama, pacaran itu mendekati zina karena tidak lepas dari saling pandang, berpegangan tangan, berpelukan, berduaan, dan hal-hal lain yang membangkitkan syahwat atau kesenangan semata. Menikah adalah menghalalkan suatu hubungan antara laki-laki dengan perempuan sehingga lebih intens. Dalam pernikahanlah, kita bisa berpacaran, berduaan, dan belajar satu sama lain untuk saling mengenal. Pacaran setelah menikah memerlukan komitmen kuat yang berlandaskan pada keimanan kepada Allah SWT dan menjalankan sunnah Rasul-Nya. Artinya, yang dikejar adalah ibadah bukan hanya semata kesenangan melampiaskan syahwat.

Setiap muslim pasti punya hal yang ideal, begitu pun saya yang kadangkala hal yang ideal itu harus ditelan mentah-mentah oleh realita. Maka tugas kita adalah membangun dan menata realita agar pas dengan hal ideal yang ingin kita capai.

Cinta kepada lawan jenis harus ditopang dari adanya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, tanpa adanya pondasi ini, maka rasa cinta itu siapa tahu akan memudar atau berubah menjadi petaka. Cinta harus diletakkan setinggi bintang di langit, agar tidak termakan dengan realita dunia. Si dia dalam hidup kita hanya representasi dari adanya cinta untuk kita, bukan sosok tunggal yang mengalahkan cinta Allah, tapi merupakan sebuah karunia. Maka hentikanlah segala omong kosong dengan mengekspresikan cintamu kepada dia dengan kata-kata yang berlebihan yang tidak perlu seperti membawa “hidup dan mati” dan lain sebagainya, yang sangat mengganggu keimanan kepada Allah SWT. Perhatikan lirikmu, perhatikan syairmu, perhatikan kata-katamu, sebab musik bisa dibuat seindah mungkin tapi kata-kata harus dipertanggung jawabkan kepada manusia dan Allah SWT.

Cinta kepada lawan jenis yang berlebihan adalah penyakit, obatnya adalah menikah. Jika datang padamu kerinduan dan angan untuk memiliki seseorang di hidup ini, maka larilah kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Perbaikilah diri sebelum menuntut hak. Penuhi apa yang belum mampu kamu lakukan jika seandainya kamu menikah. Jika kamu merasa sudah mampu, maka tunggulah, jelajahi ruang-ruang bumi, dan telusuri waktu-waktunya. Kau tahu apa yang paling membahagiakan itu dalam persoalan cinta? kamu berjumpa dengannya di waktu dan tempat yang tidak pernah disangka-sangka dalam sekali pandang dalam sekali rasa, bukan hanya kamu yang merasakan, melainkan juga dia. Mungkin tak setiap orang bisa mengalami, tapi apapun yang kamu alami, itulah yang terbaik untuk kamu jalani. 

Inilah sekelumit tulisan tentang cinta dan obatnya yang mungkin kurang mengobati hati yang resah karena cinta yang datang tiba-tiba dalam sekali sapa. 

Comments