Tuliskan Hidupmu Itu cara menjadikanmu Hidup Dalam Sejarah

Menulis itu penting, sama pentingnya dengan membaca. Apa artinya jika para imam madzhab tidak menulis ? maka tidak akan ada kitab-kitab madzhab. Apa jadinya jika Al-Qur’an tidak ditulis (dibukukan) ? maka Al-Qur’an tidak akan menjadi sebuah kitab yang dikenal dunia pada hari ini. Apa jadinya jika para pemikir tidak menuliskan buah pemikirannya ? maka tidak akan ada warisan yang ditinggalkan mereka bagi peradaban dunia, dan orang yang hidup pada masa saat ini tidak akan mengenal mereka yang hidup jauh di masa ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Mereka ada karena mereka pernah hidup dan meninggalkan catatan sehingga kita  mengenal siapa mereka sehingga kita dapat berkata mereka pernah ada. 

Sumber: Pexels.com

Seandainya mereka tidak meninggalkan tulisan, maka kita tidak akan pernah tahu tentang apa saja yang pernah terjadi di masa lalu, siapa yang membangun sebuah bangunan yang kini tinggal reruntuhan itu. Seandainya tidak ada catatan tertulis hanya berupa cerita saja secara turun temurun dari generasi ke generasi, maka cerita itu tidak ada landasan apakah cerita itu fakta atau hanya legenda, dan apakah cerita itu asli atau terjadi perubahan berupa penambahan atau pengurangan. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi seratus tahun lalu di suatu tempat kalau tidak ada catatan tertulis sama sekali, sementara orang-orang yang hidup di masa itu mungkin sudah meninggal dunia. Jadi apakah anda masih menganggap remeh sebuah tulisan ? menganggapnya hanya catatan harian biasa, atau tulisan lebay yang tidak penting untuk orang lain baca. Bagi orang lain yang tidak mengenal kita dengan baik, tulisan mampu menjadi sarana meski tidak seutuhnya. Saat ini tulisan kita mungkin akan biasa-biasa saja, namun di masa yang akan datang akan memiliki faedah karena menjadi jembatan yang menghubungkan diri kita saat itu dengan masa lalu terutama pada peristiwa-peristiwa yang terlupakan. Menjadi alat memorial yang memiliki arti dan pesan bagi diri kita di masa depan. Selain sebagai alat rekam peristiwa, tulisan pun bisa menjadi karya intelektual yang berharga.

Bila anda suka membaca buku, mungkin anda juga akan senang menulis. Jika anda suka berbicara, kecil kemungkinan anda suka menulis dan menikmati menjadi pendengar, karena orang yang suka berbicara lebih senang menjadi pembicara dengan vokal-nya ketimbang mengambil pena dan berucap dengan pena-nya. Seorang yang piawai dalam menulis belum tentu pandai berucap, dan seorang yang pandai berucap belum tentu lincah menulis. Namun, tentu yang terbaik dan sempurna adalah seorang itu pandai bicara dengan lidahnya, dan pandai jua menulis dengan tangannya. Hingga apa yang dituliskan bisa dipertanggung jawabkan, dan apa yang diucapkan bisa dituliskan menjadi catatan-catatan. Seorang yang cerdas tidak akan kesulitan untuk menjadi pembicara ulung sekaligus penulis sejati, namun bagi kita yang biasa-biasa saja, punya salah satu keahlian tersebut, berbicara atau bisa menulis (meski biasa-biasa saja) sudah patut disyukuri.

Menulis perlu menghadirkan hati dan pikiran pada saat bersamaan. Maka seorang yang sedang “jatuh cinta”, ketika ia menulis, kata-katanya memikat, penuh perasaan. Berbeda dengan orang yang sedang dilanda masalah seperti stres atau depresi, ia akan kesulitan dalam menulis, karena antara pikiran dan hatinya sedang tidak harmoni. Hatinya kacau hingga pikirannya “bubar”, pikirannya tak tentu arah hingga membuat hatinya galau. Maka pentingnya seseorang memiliki prinsip dan tujuan yang kuat, dan pijakan langkah kaki yang mantap, menghilangkan segala keraguan, rasa sungkan untuk mengambil keputusan.

Menulis yang paling baik menurut saya (meski saya bukan penulis yang baik dan tidak punya bobot sebagai penulis yang berbakat) adalah dituliskan langsung dengan goyangan jari-jemari dengan menggenggam pena dan menggoreskanya di atas kertas. Hal ini akan membuat interaksi langsung antara otak dengan aktifitas tangan dalam membuat rangkaian kata. Menulis di atas kertas juga memiliki keunggulan dapat dibaca kapan saja, dapat digenggam langsung, tanpa adanya listrik. Meski kelemahannya harus disimpan di tempat-tempat tertentu, dan harus di bawa manual. Berbeda dengan menulis melalui komputer atau alat elektronik lainnya, kemudian disimpan di media penyimpanan online, atau menulis di situs, blog, atau media sosial, yang dapat dibaca kapan saja dan dimana saja, tapi dengan catatan harus menggunakan listrik dan koneksi internet. Bisa tanpa internet kalau disimpan saja di lokal drive, tapi tetap saja harus pakai listrik. Apa masalahnya dengan listrik ? bukankah listrik ada dimana-mana ? kita tidak tahu tentang masa depan akan menjadi seperti apa, mempersiapkan satu kemungkinan “tanpa listrik” perlu juga dipikirkan. Semua memang ada risiko, baik yang manual maupun yang praktis.

Tulislah.. tulislah.. tulislah.. maka dengan menulis, kamu telah merekam peristiwa yang terjadi di sekitarmu, merekam apa yang pernah kamu alami dan rasakan, mencatat apa yang pernah ada di dalam pikiranmu. Maka saya sangat menyesali ketika beberapa episode dalam kehidupan saya yang terekam dalam tulisan lenyap di drive komputer, maka itulah yang membuat saya berpikir bahwa memang sangat perlu sekali menulis dengan tangan, atau mencetaknya ke dalam kertas (print out), dan menyimpannya juga di media penyimpanan secara online sehingga apabila drive dalam kondisi bermasalah maka kita bisa mengunduh ulang dari media penyimpanan online tersebut, dan seandainya terjadi “bencana global” yang membuat internet tidak bisa diakses, dan listrik mati total, setidaknya di saat-saat itu kita punya salinan di atas kertas yang bisa kita baca di saat-saat kita merenungkannya untuk sekali lagi melihat ke dalam masa lalu hidup kita.

Jangan berhenti menulis bagi yang sudah biasa menulis, dan mulailah menulis bagi yang belum pernah menulis, karena tulisanmu apa pun itu akan berarti bagi dirimu dan mungkin juga orang lain.

Comments