Berubah Total Dengan Radikal Tanpa Self Destruction

Tidak ada yang salah menjadi seorang yang pendiam, tapi menjadi masalah krusial saat seorang pendiam tidak mampu mengkomunikasikan apa yang ada di dalam benaknya yang sebenarnya. Dia hanya manut-manut saja mengikuti perkataan orang lain tanpa pernah bisa mengutarakan apa yang sesungguhnya dia inginkan karena keinginannya bisa jadi akan membuat semacam perasaan “tidak enak” untuk diutarakan. Benar orang bilang jujurlah terhadap dirimu sendiri, jujurlah terhadap orang lain, meski itu pahit, tapi pahit itu obat, daripada manis tapi lama-lama menjadi racun bagi tubuh dan akhirnya menjadi penyakit.


Sumber: Pixabay.com
Inilah yang terjadi dalam kenyataan hidup seseorang yang sebenarnya, tidak berani menjadi dirinya sendiri, dikuasai oleh kelemahan dan ketakutan. Saya sangat yakin bahwa setiap orang memiliki tujuan pribadi yang berbeda-beda, hanya orang-orang tertentu yang berjiwa solidaritas dan berjiwa keluarga yang mau mengorbankan atau menunda hasrat pribadinya demi membantu atau menolong orang lain. Umunya tidak mungkin bagi orang lain mau menolong seseorang jika mereka sendiri tidak punya apa-apa, jika mereka sendiri sebenarnya sedang membutuhkan apa yang juga dibutuhkan orang lain. Umumnya mereka akan mengutamakan kepentingan dirinya sendiri sebelum orang lain, kecuali atas darah dan cinta: darah yaitu keluarga, dan cinta yaitu kekasih yang dicintai atau pasangan hidupnya atau anak-anaknya.

Saya tidak tahu kenapa saya tidak berani memutuskan satu keputusan yang kuat demi sebuah tujuan pribadi, demi memenuhi keinginan yang paling diinginkan. Sebagaimana keinginan terpendam pada seseorang dahulu kala di saat masih mengenakan seragam putih abu-abu. Terlalu dikuasai oleh kelemahan dan tidak pernah dapat keluar secara utuh menjadi sebuah pribadi yang sebenarnya yang mencerminkan kehendak dan pikirannya. Pikiran saya letakkan dalam kertas, dalam huruf-huruf, dalam kalimat-kalimat, itu pun jika pikiran saya mampu menggali sedalam-dalamnya, mengeluarkan diri sendiri dalam “bungkus” kelemahan. Sementara, kehendak saya sendiri yang tersimpan dalam relung hati berada jauh sekali di dasar jiwa, sulit tergapai kecuali terhadap orang-orang tertentu yang diterima oleh jiwa tersebut secara terbuka.

Saya berbasis pikiran, pada arah tujuan. Ketika itu “kabur” dan tidak jelas, maka akan menjadi limbung dan goyang. Saat arah tujuan itu jelas, pikiran kemudian menemukan jalan, dan kemudian saya coba tapaki pelan-pelan, mempelajari dengan tartil. Saya lebih menyukai proses dari suatu tujuan, bukan pada hasil. Sementara ada orang yang berorientasi pada uang dan lebih menginginkan hasil sehingga segala cara ditempuh kalau bisa dalam waktu sesingkat-singkatnya. Saya lebih suka “menggali” dengan dalam untuk menemukan akar yang kuat sehingga bisa tumbuh ke atas. Saya tidak suka pada kemuslihatan, pada cara-cara yang dilakukan secara “instan” dan tidak ada dasarnya karena saya menolak itu karena bertentangan dengan keyakinan saya. Sementara jiwa saya berbasis pada nilai kehidupan, mudah berempati dengan orang lain, memiliki moralitas, penilaian yang didasarkan pada “benar” dan “salah”, dan terkadang saya tidak bisa mentolerir suatu kesalahan yang fundamental dengan alasan kondisional atau sudah menjadi “budaya”, saya memang tidak tumbuh dari realita melainkan dari idealisme yang terkadang hal tersebut memang tidak terlalu menyenangkan karena bisa berakibat pada jiwa yang terlalu sentimental.

Saya memang “lemah” dalam usaha menggapai tujuan yang satu, butuh waktu. Tujuan dikatakan berhasil atau gagal ketika usaha itu membuahkan hasil entah itu keberhasilan atau kegagalan. Kegagalan dalam hasil adalah keberhasilan usaha, keberhasilan tujuan adalah keberhasilan dalam melakukan eksekusi rencana. Kebiasaan saya adalah selalu mempunyai poin-poin rencana, dan tidak semua point-poin yang saya buat bisa saya eksekusi karena faktor “kelemahan”. Seorang eksekutor rencana haruslah orang yang “kuat”, membumi, dan tahan banting. Sementara saya adalah seorang perencana yang cenderung tidak realistis.

Dalam mode normal, Saya mungkin ingin memiliki: rumah, kendaraan, istri, anak, status sosial dalam pekerjaan, dan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan fundamental dan selebihnya adalah bonus. Status sosial dalam pekerjaan dibutuhkan untuk memberikan identitas detail pada diri sehingga dapat menjadi pengakuan “resmi” dan bisa memberikan semacam nilai yang dibutuhkan oleh diri. Pekerjaan sendiri tentu setiap orang ingin lepas dari semacam ikatan dan ingin bebas menjadi “bos” untuk dirinya sendiri. Saya ingin mempekerjakan diri saya sendiri dalam sebuah pelayanan atas kebutuhan orang lain dan membuat sesuatu dimana uang mengalir dengan sendirinya. Saya ingin melakukan apa yang saya sukai dan itu bukan dibentuk oleh “uang” (dimana karena uang kamu melakukan sesuatu) tapi yang benar-benar saya cintai. Saya ingin menjadikan pekerjaan active income sebagai dasar untuk memenuhi kebutuhan fundamental sehari-hari, sementara untuk kebutuhan selanjutnya dipenuhi oleh passive income. Realitanya memang tidak mudah, orang harus melakukan hal yang tidak disukainya dahulu untuk membuat semacam pondasi awal, baru setelah terbentuk pondasi tersebut barulah kita dapat melepaskan diri dari pekerjaan tersebut dan akhirnya bisa melakukan apa yang benar-benar disukainya.

2018 dengan usia 29 tahun.. benar-benar menyeramkan dengan kondisi realita yang “weakness” dan sekaligus menjadi “the Sickman”. Ini harus diubah total dengan suatu gerakan yang sangat radikal. Tapi bagaimana caranya berubah cepat tanpa “Self destruction” ? terbukalah untuk menjadi diri sendiri, belajarlah untuk mengatakan “tidak” (menolak) pada keinginan orang lain jika itu tidak sesuai dengan keinginanmu sendiri. Dan jika kamu ingin sendiri, maka sampaikan itu, dan teruslah “berkomunikasi” mendekatkan diri pada Tuhan itu adalah cara terbaik untuk menguatkan diri dan sekaligus membuka jalan untuk menembus kabut pekat pada jalan yang membawa pada tujuan dalam hidup ini. Dan terakhir: Hijrah, temukan lingkungan baru, orang-orang baru, suasana baru, yang mendukungmu dan lebih mendekatkan diri pada tujuan dengan langkah-langkah yang membumi dan cara-cara yang realistis.

Comments