Cerita Januari 2018

Tanpa terasa kita sudah memasuki pekan keempat di akhir bulan namun belum benar-benar menjadi pekan terakhir karena masih ada senin berikutnya di bulan Januari. Ada apa dengan Januari? bulan pertama di awal tahun 2018 ini?

Sumber: dokumentasi pribadi

Saya mengakhiri tahun dan mengawali tahun baru dengan satu kesibukan mengerjakan project. Targetnya sebulan selesai dengan harapan lain project ini tidak selesai hanya sampai disitu saja, tapi akan berkelanjutan. Sementara sebelum adanya project ini, saya sendiri berharap bisa mempelajari materi baru seperti Javascript, atau mungkin mencoba-coba “belajar” membuat aplikasi Android (sudah saya coba lakukan dan akhirnya menyadari bahwa saya belum bisa memulainya karena terkendala dengan spek netbook yang kurang cocok men-develop aplikasi Android), sebelumnya saya ingin membuat sebuah buku tutorial yang syukur-syukur bisa diterbitkan (namun akhirnya belum bisa saya eksekusi). Sementara belajar Javascript sendiri seperti React.Js, belum bisa saya lakukan karena terkendala datangnya project ini, begitu pun dengan keinginan untuk belajar membuat template Wordpress. Mengerjakan project di satu sisi jika selesai akan menghasilkan fee, di sisi lain, justru membuat waktu berjalan tanpa ada upgrade skill. Lagian, ini adalah pekerjaan tim, dimana tidak hanya saya yang mengerjakan, namun ada orang lain juga yang turut mengerjakan setiap bagiannya, sehingga fee akan ter-shared ke masing-masing orang. Remahan-remahan ini memang cukup besar untuk saya sendiri jika diukur dengan angka nomimal uang, tapi waktu sebulan atau dua bulan adalah sebuah ukuran waktu yang memakan usia, kesempatan, dan daya fokus yang tidak bisa disepelekan yaitu kepentingan akan masa depan. Project ini  Dikerjakan dengan menggunakan git pada setiap hasil codingan, aplikasi todo berbasis web untuk merumuskan apa saja yang akan, sedang, dan apa yang sudah selesai dikerjakan, kemudian hasilnya untuk melihat (demo) di unggah ke CPanel melalui FTP, sebelum akhirnya benar-benar jatuh ke tangan sang client.

Selain Javascript dalam bentuk framework seperti React, saya tertarik mempelajari Web Design, atau membuat antarmuka atau tampilan website dimana saya harus menguasai HTML, CSS, dan Javascript native atau Jquery. HTML dan CSS, ditambah Javascript adalah kemampuan standard “tradisional” yang harus dimiliki developer web “front end”. Memiliki tiga materi itu saja sudah cukup untuk bisa membuat web, namun ada satu hal yang tidak semua orang bisa melakukannya selain yang benar-benar memiliki imajinasi dan kreatifitas sehingga antarmuka web benar-benar unik, berbeda, dan tentunya menarik yaitu kemampuan mendesain web. Semenjak ada Bootstrap, atau framework CSS lainnya yang bermunculan, membuat web menjadi lebih instan, namun hasilnya menjadi seragam dan tidak unik lagi jika tidak melakukan sedikit modifikasi dengan membuat gaya stylesheet sendiri.

Sebelum kuliah, saya memang ingin sekali bisa membuat tampilan web (theme) untuk blog yang saya buat, entah itu di Blogger (Blogspot) atau di Wordpress (sebab saya menginginkan tampilan blog yang personal dan bukan tampilan yang sama seperti pada blog lain). Saya juga sudah mengenal CPanel, tapi tidak terlalu mengenal dengan baik untuk memanage website yang kita hosting di server karena tidak pernah praktik langsung. Barulah semenjak saya menghosting sebuah website dengan menyewa hosting dan domain, saya mulai mengenalnya. Mengenal hanya sebatas kenal dengan fitur-fitur yang ingin saya gunakan, tidak semuanya. Selama kuliah, saya mempelajari Web Design: HTML dan CSS, tapi ya hanya sebatas kita dikenalkan dengan layout: ada header, navbar, content, footer pada antarmuka. Kita dikenalkan dengan struktur HTML, dan juga bagaimana kita memberinya warna, ukuran, posisi dengan CSS. Selama kuliah, pembelajaran dilakukan biasa saja, sama seperti gaya belajar waktu sekolah, tidak benar-benar mendalam. Tak heran, kebanyakan mahasiswa atau siswa yang belajar secara reguler tidak terlalu memiliki kemampuan Web Design dengan baik atau tidak terlalu jago membuat Web yang benar-benar standard dan memiliki nilai jual. Kalau mau lebih lagi ilmunya, memang harus kursus khusus Web Design, atau belajar sendiri melalui buku-buku dan internet. Saya rasa internet menyumbang lebih banyak ilmu yang bisa dipelajari secara otodidak, dan sisanya melalui buku-buku.

Hanya sekolah yang benar-benar bagus yang bisa mencetak orang-orang yang punya kemampuan standar yang diakui di bidangnya, dan di antara mereka, pasti akan ada orang-orang yang tampil dengan kemampuan cemerlang. Orang bilang itu karena adanya bakat dan passion, serta adanya dukungan atau jalan dimana kemampuan tersebut akhirnya diberi ruang untuk berkembang. Dan saya kuliah di akademi swasta dengan “rasa” yang bisa dikatakan kurang (sedikit merasa kecewa dengan akreditasinya yang dulu saya abaikan, sehingga berdampak pada “kebijakan” karier, sementara untuk memperbaikinya diperlukan waktu tidak sedikit dan biaya yang cukup besar, sementara masa expired saya semakin mendekat), saya tidak diberi ruang untuk melakukannya, tapi diberi “ruang lain” untuk pemrograman PHP. Faktor teman menjadi penyumbang terbesar kenapa kemudian saya berkenalan dengan pemrograman PHP yang juga diajarkan di perkuliahan pada semester berikutnya dengan seorang dosen yang inspiratif. Motivasi awal adalah “uang”, karena semua orang butuh “uang”, dan uang itu sulit datang tanpa bekerja keras, namun tak semua kerja keras bisa menghasilkan uang banyak, salah satu pekerjaan yang bisa dilakukan secara personal atau tim sehingga mengucurkan nominal uang minimal 5 digit dan maksimal bisa mencapai 7 bahkan 8 digit jika dalam bentuk korporasi adalah dengan mengerjakan project (dalam hal ini project website atau aplikasi) dan tentu saja untuk melakukannya kita harus berbekal keterampilan yang dibutuhkan untuk bisa membuat project tersebut, salah satunya adalah PHP (meski sekarang bahasa pemrograman PHP native saja tidak cukup, orang-orang beralih ke framework dan javascript dengan teknologi atau gaya yang lebih modern). Ya intinya, saya tidak diberi ruang lebih untuk mempelajari Web Design, melainkan Web Programmer, dan karena saya tidak punya obsesi kuat di PHP atau menjadi programmer maka saya hanya sekedar “bisa” saja, tapi tidak benar-benar menjadi “expert”.

Motivasi uang itu bagus untuk memulai mengerjakan sesuatu seperti mengerjakan project entah itu dari orang atau kita sendiri, tapi yang lebih penting dari itu dan lebih membumi adalah karena motivasi ‘love’, karena kita ‘menyenangi’ sesuatu itu sehingga akan menjadi suatu mahakarya, karya adiluhung, karya masterpiece kita. Sebuah karya yang lahir dari sebuah obsesi, passion terhadap sesuatu itu dan bukan sebab lain seperti materi atau uang. Facebook, contoh dari sebuah ide dari seoang Mark Zuckerberg, yang kemudian diwujudkan bersama teman-temannya di sebuah kamar asrama kampus, sebuah ide non komersil, digunakan secara gratis. Tanpa iklan. Alih-alih ada iklan dari sponsor, justru pengiklan itu datang dari penggunanya sendiri. kemudian Apple, tanpa sangka, perusahaan paling “bernilai” itu dengan produk-produk yang terkenal “mahal” namun menjadi ikon prestisius tersendiri karena memiliki nuansa desain produknya sendiri yang khas, tidak pernah bertujuan untuk mencari “uang”, lalu apa yang menjadi tujuan perusahaan itu berdiri? Membuat produk yang bagus untuk konsumen. Mengenai “uang” yang ada pada setiap tujuan, adalah hal yang keliru karena faktanya banyak perusahaan besar dunia yang awalnya berdiri tujuannya bukan untuk menghasilkan uang atau uang tidak pernah menjadi tujuan utamanya.

Hasil yang bagus sudah pasti akan memiliki nilai harga yang tinggi sepadan dengan proses yang dilakukan untuk menghasilkannya. Uang bukanlah tujuan utama orang menciptakan sesuatu, tapi uang hanyalah harga yang harus dikeluarkan untuk bisa memilikinya, entah itu untuk menghasilkannya atau untuk memiliki hasilnya. Jika tujuanmu uang, jangan jadi creator, jadilah marketer. Pekerjaan yang hasilnya untuk uang, adalah pedagang/penjual. Maka jadilah pedagang. Dan tak ada pekerjaan lain yang bisa membuatmu lebih kaya raya selain menjadi pedagang (perusahaan dagang dengan produk: teknologi, senjata, energi, barang tambang, hasil bumi, dll). Namun, jika tujuan adalah menciptakan sesuatu yang bagus, maka tujuannya bukan uang, karena jika motivasinya adalah untuk menghasilkan uang, maka hasilnya tidak akan menjadi “amazing”. Maka antara creator dan marketer, tujuannya berbeda-beda, namun bisa saling bekerja sama, saling mengisi. Seorang Creator tidak pernah memikirkan uang atau keuntungan, tapi fokus pada produk yang ia ciptakan, sementara seorang marketer akan memikirkan tentang pasar produk tersebut, berusaha bagaimana menjualnya sebanyak yang bisa dijual dan memberikan keuntungan.

Creator yang terobsesi dengan “uang” tidak akan pernah berhasil tanpa memperhatikan apa yang buatnya benar-benar sudah bagus atau hanya “sekedar jadi” untuk segera mendapatkan hasilnya. Seorang Seller akan berusaha menjual sebanyak mungkin dengan harga tinggi dengan modal (waktu, biaya, pikiran) seminimal mungkin untuk mendapatkan keuntungan besar, sementara Creator akan berusaha mewujudkan produk yang Perfect dan bernilai meski dihasilkan dalam waktu yang tidak sebentar: berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, sementara selama itu ia harus bergemul dengan segala pembiayaan untuk menghasilkan produk tersebut.

Saya sendiri tidak bisa “jualan”, saya hanya ingin “membuat” atau “mengerjakan” sesuatu. Saya tidak ingin memikirkan uang, karena membuat saya tidak fokus, akan terlalu banyak list item yang ingin saya beli. Tidak memikirkan uang, bukan berarti tidak menginginkan uang. Jika saya memikirkan uang, saya menjadi tidak tenang karena memikirkan kebutuhan hidup yang mendesak dan tentu saja dibutuhankan, serta kebutuhan khusus seperti impian akan properti, kendaraan, gadget, dan lain-lainnya, dan karena saya masih lajang dengan usia hampir mendekati 30-an (yang suram), dan dengan segala minus-nya. Uang adalah sesuatu yang paling fundamentalis yang dibutuhkan manusia pada saat ini terutama yang tinggal di perkotaan dimana mereka tidak punya lahan untuk bercocok tanam yang hasilnya bisa untuk kebutuhan makanan dan sisanya dijual, tidak punya mata air, tak ada sungai, sampan, jauh dari hutan untuk berburu dan mencari kayu bakar. Kita yang tinggal di kota “tidak punya apa-apa” kalau tidak punya uang. Besaran nominal uang yang kita punya menjadi tolak ukur seberapa banyak yang bisa kita dapatkan dengan uang tersebut. Uang adalah akses ke semua hal di dalam kehidupan kita saat ini. Hingga ada ungkapan nyeleneh “Tak ada uang, mati saja”, karena gak ada uang, hidup bisa menderita lahir batin. Apa saja dikerjakan hanya agar bisa memiliki uang, tak pandang halal-haram. Ketika uang mengambil alih semuanya, hingga merampas Tuhan dalam kehidupanmu, dengan melupakan-Nya sejenak ketika kamu bekerja, saat itu mungkin kamu sedang sibuk “menyembah” Tuhan yang lain, yaitu dunia yang diwakili dengan senominal “uang”.

Bekerja karena uang, apa bedanya dengan hamba sahaya yang diperbudak oleh Tuannya? Kita memang butuh uang, tapi jangan menjadikannya sebagai tujuan bekerja, sehingga jika ia mengatakan “bekerja untuk mencari uang” maka tak heran ia hanya bekerja “nguli”. Kalau ia mengatakan “bekerja untuk memenuhi nafkah keluarga”, maka sejatinya meski pekerjaannya “nguli” ia sedang beribadah kepada Tuhannya. Dalam agama, pekerjaan itu ibadah jika niatmu adalah untuk menjemput rizki-Nya, mencari keridhoan Allah, tidak ingin menyusahkan dan membebani orang lain, atau mencukupi nafkah keluarga. Rizky Allah tidak hanya dalam bentuk lembaran kertas, dan logam yang diatasnya tercetak angka nominal atau digit-digit angka yang tertera di rekening. Rizky Allah itu luas, dimana dengan rizky-Nya kamu bisa hidup dan bisa beribadah kepada-Nya.

Kembali pada paragraf sebelumnya, waktu itu saya hanya ingin sekedar bisa maka saya praktik langsung dengan mengerjakan project bersama teman. Project itu menghasilkan uang 5 digit. Tak banyak project yang bisa dikerjakan. Project tidak datang setiap bulan atau secara rutin sehingga tidak bisa dijadikan “pegangan”. Saya terus sibuk dengan pemrogaman PHP sampai 2 tahun pasca kuliah, sampai akhirnya setahun terakhir ini, mulai mempelajari framework PHP “Laravel”.

Bagaimana sih caranya bisa cepat bisa? Praktik langsung. Tapi praktik kan butuh arahan. Ya karena itu baca tutorial atau beli ebook/buku, buka youtube, selesai. Dan satu lagi yang tidak kalah penting adalah motivasi. Motivasi kamu apa? Uang? Pekerjaan? Jika kamu tidak punya motivasi yang cocok atau motivasi yang menarik hati, maka sekalipun kamu mempelajari dengan banyak sumber, kamu tidak bisa mendapatkan kemampuan tersebut. Saya dulu bagaimana bisa PHP “dengan hanya sekedar bisa tapi tak cukup expert” adalah dengan motivasi untuk membuktikan diri bahwa saya bisa menaklukkannya. Rasanya pun cukup puas ketika saya bisa menyelesaikan project-nya sesuai dengan permintaan klien. Uang adalah motivasi kedua saya, yang utama adalah memiliki kemampuan tersebut, menaklukkan “rasa tidak bisa” yang saya miliki. Awalnya sangat-sangat sulit, apalagi saya tidak datang dengan bakat dan passion ke pemrograman, tapi karena gambaran saya programmer itu “keren” dan “hebat”, saya jadi tertarik, apalagi bisa bekerja di perusahaan sebagai programmer gajinya cukup menggiurkan. Namun, saya benar-benar tidak fokus menempuh jalan itu. Setiap mengerjakan project, saya tidak mencintainya, saya anggap itu sebuah tantangan yang harus ditaklukkan, sebuah job yang mengasah kemampuan, tujuan saya adalah menyelesaikannya, mencapai garis finish. Sebaliknya, yang saya cintai adalah membuat sesuatu yang bisa dinikmati oleh diri saya, artinya yang bisa saya pakai untuk kebutuhan saya. Memang benar bahwa apa pun yang kita lakukan akan benar-benar menjadi sesuatu yang berarti bagi diri kita saat kita melakukannya dengan sepenuh hati karena terkait langsung dengan diri kita atau karena kita merasa “memiliknya”.

Jadi, saya bisa “menaklukan” sedikit Laravel (ya hanya sedikit saja) dengan sekali lagi “sekedar bisa tapi tidak expert” karena: saya membantu seseorang bagaimana sama-sama belajar Laravel dengan dokumentasi yang saya susun untuk mengerjakan project Laravel dari awal hingga jadi. Mulai dari instalasi, urusan setting sana-sini, hingga saat ngoding. Motivasi awal adalah “jika saya bisa Laravel, saya bisa melamar pekerjaan di perusahaan yang membutuhkan seorang yang mempunyai skill tersebut”. Artinya apa? Karier dan “uang”. Namun, dengan motivasi itu saya gagal. Kemudian pada suatu ketika, didorong oleh sulitnya saya belajar Laravel karena terkendala “bahasa” (Bahasa Inggris saya pas-pasan) dan “harus dari mana saya memulainya” akhirnya saya buat suatu dokumentasi atau catatan untuk diri saya sendiri. Ada buku “Laravel” yang dibeli oleh teman saya, yang kemudian saya pelajari dan itu juga cukup membantu sebagai bahan dokumentasi, disamping melihat dokumentasi di situs official-nya, dan juga ebook, serta banyak macam tutorial di YouTube, Blog, dan lain-lain. Awalnya memang sulit memulai, harus ada motivasi yang lebih “tinggi” lagi dari sekedar materi, sebuah “kesenangan hati”, sesuatu yang disenangi, sehingga saat melakukannya, kita akan benar-benar tulus. Melakukan pola lama jelas tidak bisa, saya tidak ingin mengambil risiko dengan langsung mengerjakan project Laravel. Laravel sangat sulit, konon lebih sulit daripada CodeIgniter. Saya yang tidak “khatam” PHP, PDO, OOP, dan belum pernah belajar CodeIgniter yang katanya lebih mudah, tapi tetap saja sulit bagi saya yang belum pernah mengenal MVC ketika awal mula saya mempelajarinya sebelum memberi tantangan bagi diri saya sendiri untuk bisa Laravel. Pengalaman pertama saya dengan MVC adalah “mengoprek” salah satu CMS lokal, dan itu pun MVC-nya masih sederhana. Pusingnya bukan main.

Saya tahu ketika saya pusing, otak saya pasti sedang membuat “komunikasi” baru antar setiap jaringan sel-sel syaraf di otak. Setiap kemampuan baru memerlukan waku bagi otak untuk membentuk koneksi, itu yang saya tahu dari buku Biologi SMA ketika belajar tentang sel syaraf otak. Jadi agar terus berkembang, terus dan teruslah belajar hingga kemampuan itu benar-benar dapat dimiliki. Setiap orang punya potensi untuk “bisa”, seberapa lama “bisa”-nya berbeda-beda pada tiap orang tergatung pada kecepatan sel syaraf otak orang tersebut. Orang cerdas, koneksi otaknya cepat dan semuanya terpakai, sehingga cepat ingat dan akhirnya cepat “bisa”.  Beda dengan kita yang biasa-biasa saja, butuh waktu yang tidak bisa dibilang cepat. Ada orang yang bisa saja dari lahir bagian otak tertentu sudah berkembang sehingga ketika dia mempelajari sesuatu itu menjadi lebih cepat “bisa” atau orang bilangnya “bakat”, seperti bakat menyanyi, melukis, pidato, dan lain-lain. Saya tidak bisa dibilang cerdas, saya sama sekali tidak cerdas. Buku adalah tempat yang luar biasa untuk mencurahkan sesuatu. Namun, saat ini, ketika saya merasa sudah tua, buku tidak lagi menarik perhatian, saya terobesi dengan mencemaskan masa depan.

Saya banyak menyia-nyiakan diri pasca-SMA. Saya lulus SMA dengan usia 18 tahun, masuk kuliah di usia 23 tahun. 5 tahun saya menghilang. Kemana saja saya? Salah satu hal yang saya sia-siakana adalah kesempatan mendaftarkan diri ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri daerah pasca-SMA dengan sekelompok teman. Kuliah, tidaklah ada dalam kamus kehidupan keluarga. Pendidikan tinggi adalah sesuatu di luar jangkauan. Seharusnya saya ikut mendaftar, masalah lain-lain belakangan, tidak usah dipikirkan. Ok, fix tidak kuliah. Lalu kenapa tidak mencari kerja? Ok, saya sudah melakukannya dan beberapa surat lamaran yang saya kirim tidak pernah berbuah “panggilan”. Sekitar setahun sebelum kuliah, saya menghabiskan setahun kurang di luar kota, tepatnya di ibu kota kabupaten tetangga di sebelah timur.

Usia 23, pada bulan yang sama dengan kelahiran, saya kuliah. Tiga tahun dari selepas kuliah. Status saya masih non job. Tidak pernah berubah. Perubahan paling mendasar hanyalah skill. Sebelum saya menamatkan kuliah, saya seharusnya “menerima” beberapa tawaran kerja yang mana pada akhirnya ketika keluar kuliah status saya adalah “pekerja”, tapi saya menolaknya, mungkin belum berjodoh atau bukti kalau saya memang bodoh. Bahkan dalam “misi” saya ketika akan kuliah adalah bagaimana bisa bekerja pada siang hari, dan menerima pendidikan pada sore hingga malam hari. Alih-alih mencari kerja, justru saya sibuk dengan tugas kuliah, sebelum akhirnya disibukkan dengan ngoding. Salah satu ambisi saya yang lain adalah bagaimana saya bisa memperoleh hasil IPK tertinggi di bangku kuliah sebagai sebuah tantangan karena di saat yang lain akan menamatkan pendidikannya atau sudah selesai dengan pendidikannya, saya malah akan mulai memasukinya. Sangat terlambat sekali. Akhirnya IP tinggi saya dapatkan tapi hanya bertahan selama 3 semester, karena kemudian saya ikut bergabung dengan BEM. Taruhannya adalah nilai saya “melorot”, padahal seharusnya saya harus gigih untuk mencetak nilai tinggi. Saya berperang dengan diri saya sendiri, antara menjadi “kutu kamar” untuk sebuah nilai, atau menjadi “revolusioner” dengan ikut berkiprah dalam kegiatan di luar di dalam organisasi. Teman karib saya sewaktu SMA yang saat itu semesternya sudah matang menasihati saya untuk tidak ikut BEM atau organisasi kampus, saya seharusnya fokus belajar.

Akhirnya saya tahu, ekosistem dimana kita berada sangat memiliki arti penting untuk kita bisa tumbuh berkembang. Bersama dengan siapa kita (komunitas), kita akan menjadi seperti mereka perlahan. Waktu yang kita habiskan adalah sebuah aset untuk masa depan. Kesia-siaan waktu 5 tahun saya adalah aset terburuk. Tidak bijak mengambil keputusan selama masa kuliah, membuat pasca-kuliah saya terkatung-katung. Dan akhirnya satu-satunya jalan adalah menjadi seperti saya pada hari ini. Takdir memang tidak bisa diubah, tapi kita tidak pernah tahu takdir kita sendiri bukan? Saya dekat dengan “kebangkrutan” hidup, seperti ada yang menahan langkah gerak saya, dan saya tahu yang menahannya adalah “masa lalu saya” dan “diri saya saat ini sebagai produk dari masa lalu tersebut”. Saya dekat dengan kegagalan, jika diri saya adalah sebuah perusahaan, maka saya adalah CEO-nya, maka sang CEO itu harus mengendalikan perusahaannya dan menyelamatkannya dari jurang kehancuran.

Terbuka dan terhubung, adalah cara untuk bertahan dan untuk maju. Kita tidak bisa menolong dan membantu semua orang, karena ketika kita tidak bisa membantu mereka, ada orang-orang tertentu yang punya kesempatan untuk bisa membantu mereka. Satu-satunya penolong adalah Allah, dan sebaik-baik penolong adalah dirinya sendiri dengan menolong dirinya dekat dengan sumber pertolongan yaitu Allah. Maka bila kita ingin dibantu, bukalah pintu komunikasi dan jalin tali silaturahmi. Mudah dikatakan, sulit dilakukan. Kesulitan itu ada karena pikiran tak mau lepas, hati tak mau menerima, kita mengharap masa lalu, agar berubah, dan seketika mengubah masa depan kita, maka hari ini hilanglah kita, bisa jadi orang lain yang bukan diri kita saat ini. Maka patutlah bersyukur, kita ada saat ini karena masa lalu kita, seburuk apa pun itu, sesungguhnya itulah yang lebih baik jika kita mengetahuinya saat ini, karena dibalik dari semua keburukan itu ada padanya kebaikan, dan di setiap dari semua kesenangan itu ada padanya keburukan. Allah punya rahasia dari setiap kegagalan, kita menyebutnya gagal, tapi bisa jadi Allah sedang menyelamatkan kita dari keburukan yang menimpa kita, dan ketika kita diberi keberhasilan, kita tidak tahu apakah keberhasilan justru membuat kita dekat dengan jurang kehancuran. Kita tidak tahu itu, tapi Allah mengetahuinya, selama kita berdoa meminta yang baik-baik, sesungguhnya hanya Allah yang tahu mana yang baik dan mana yang buruk itu.

2017 adalah starter bagi diri saya, dan 2018, saya berharap bisa menjalankannya, dan mendapatkan rangkaian keinginan itu satu demi satu terpenuhi sebelum tahun berganti 2020 untuk masuk ke 2021. 

Comments