Evaluasi 24 Januari 2018

Terbuka dan Terhubung. Sepertinya saya mulai memikirkan ulang konsep ini. Tidak semua hal bisa kita share di dunia maya. Tidak semua hal kita harus terbuka. Ada beberapa bagian tertentu dimana kita tidak boleh mengumbarnya. Tidak boleh dituliskan, tidak boleh diceritakan, seperti aib atau sesuatu yang buruk. Hal-hal buruk memang tidak sebaiknya diceritakan secara terbuka sebab hal demikian hanya akan mengundang keburukan tanpa adanya pelajaran (ibroh) yang bisa dipetik. Begitu pun dengan kisah masa lalu, kenang hal baik darinya, jadikan pelajaran untuk masa yang akan datang.

Sumber: Pixabay
Menulis ide atau opini, namun penilaian orang bisa berbeda. Menuliskan hal-hal yang idealis terkadang di cap sebagai “sok idealis”, “sok sempurna”, atau “sok bijak”, dan lain sebagainya. Apa yang kita tuliskan adalah kesadaran tentang diri kita, tentang apa yang terjadi di sekitar kita yang pasti akan berpengaruh pada kehidupan kita. Jika kita tidak menuliskan hal-hal yang baik yang memberikan kesadaran pada siapa pun yang membaca tulisan kita, maka mungkin kita akan menuliskan hal-hal yang tidak berguna, atau tergoda menceritakan tentang hal-hal yang seharusnya tidak boleh diceritakan. Menuliskan perasaan yang subjektif pun seharusnya tidak karena perasaan adalah sesuatu yang seharusnya privat, tidak boleh ada yang tahu kecuali kita, dan seseorang yang kita anggap dapat dipercaya sehingga tidak akan menceritakan ulang kepada orang lain tanpa seijin kita. Selain karena perasaan itu privat, juga karena bersifat subjektif dan mungkin saja hanya temporari, artinya pendapat yang lahir dari suatu perasaan tertentu bisa saja dapat berubah seiring datang perasaan yang berbeda dan mengevaluasi perasaan sebelumnya. 

Kita mungkin pernah berpikir dan merasa buruk terhadap orang lain, apakah kemudian kita menuliskannya atau membahas keburukanya diperkenankan? Untuk apa menceritakan keburukan orang lain? Keburukan seorang individu tidak perlu diumbar, begitu pun dengan diri kita sendiri. Bukan berarti kita ingin menampilkan diri atau mencitrakan diri bak seorang malaikat. Kadang kita ingin tampil apa adanya, tapi apa adanya itu bukan berarti menjadi diri sendiri dalam hal keburukan. Hal buruk, tutupi semuanya. Hal baik tampilkan, tapi tidak semuanya. Kenapa? Menghindari seseorang berpikir kita “lebih baik”, padahal kita juga punya kelemahan. Dan orang yang paling mengetahuinya adalah orang-orang yang ada di sekitar kita. Orang yang dekat dengan kita, dan berinteraksi langsung dengan kita.

Apakah bermain sosial media itu diperlukan? Apakah penting memiliki akun media sosial? Apakah penting untuk mengetahui semua isu yang sedang terjadi di dunia ini? Semua kembali pada kebutuhan kita. 

Saya pengguna internet untuk belajar dan juga untuk kerjaan. Saya kurang aktif dalam sisi sosial seperti penggunaan akun sosmed untuk hal lain. Banyak sekali godaan ketika kita bermain sosial media, banyak sekali hal-hal yang mungkin akan menjadi bumerang, atau hal-hal yang mengganggu privasi kita. Benar, kita sulit untuk menjadi netral. Kita harus membuat satu pilihan yang mewakili identitas kita. Tidak terlalu mengurusi hal-hal yang tidak bermanfaat. Jangan mudah “baper” dengan suatu unggahan seseorang, tidak semua komentar perlu kita tanggapi, dan tidak semua status harus kita komentari. Jangan terlalu menginginkan tanda “Like” atau mengharapkan “Subscribe” kecuali tujuannya memang ke arah “bisnis”, karena tanpa “Like” dan “Subscribe”, usaha mungkin bisa mati, apalagi jika viewer sepi. Sebab itulah arti penting dari Content Writer dimana mereka harus menyuguhkan konten-konten viral hingga dapat mendulang sukses. 

Orang suka dengan konten yang memberi manfaat dan nilai guna, kalau kontennya hanya berisi penghakiman, hujatan, atau memberi ulasan yang buruk terhadap suatu isu yang memang buruk, maka apa manfaatnya? Hal buruk tidak perlu dibahas karena akan menghabiskan waktu, kecuali jika kita memang pengulas untuk sebuah isu demi melawan isu tersebut, berarti kita adalah seorang yang mempunyai kepentingan terhadap isu tersebut dan kita juga memiliki kompetensi untuk melawan isu tersebut. Jika kita bukan siapa-siap dan kita tidak memiliki ilmu terhadap isu tersebut maka rasanya tidak perlu untuk ikut-ikut memberi ulasan atau komentar. Sibukkan diri dengan hal yang positif, itu saja. Jangan tergoda membuat postingan yang negatif, tidak ada nilai gunanya, dan hanya menceritakan tentang diri sendiri yang orang lain juga sebenarnya tidak ingin tahu, selain informasi umum pribadi seperti pekerjaan, pendidikan, almamater, selain dari itu dikembalikan pada perlu atau tidak perlu untuk dikemukakan.

Beberapa tahun terakhir ini, Youtuber-youtuber baru banyak bermunculan dan para Vlogger juga telah lahir dan mulai mengisi situs berbagi video tersebut dengan beragaam motivasi. Banyak konten-koten video yang diunggah, dan sebagian dari konten-konten tersebut sangat buruk sekali dari segi moral. Atas nama kebebasan bereskpresi, berkreasi, mereka mengorbankan moralitas dan membuat anak-anak bangsa ini menjadi sakit. Tidak semua konten itu dihapus oleh pihak Youtube, karena menunggu laporan atau report dari pengguna yang lain. Jika tidak di report, konten itu akan tetap ada, jika dilaporkan, kemungkinan besar akan dihapus. Dunia maya memerlukan partisipasi kita. Kita memang tidak perlu mengurusi tingkah orang dalam menggunakan sosial media milik mereka, tapi ketika konten yang mereka unggah itu mempunyai pengaruh yang tidak baik, maka selayaknya kita memberi report. Konten-konten yang saya maksudkan di sini seperti konten berbau porno, SARA, kekerasan, dan hal-hal sensitif lainnya yang tidak baik di masyarakat. Menabrak norma-norma budaya, sosial, hukum, dan agama.

Kita menilai ‘jelek’ bukan berarti kita sok ‘suci’, kita menilai ‘buruk’ bukan berarti kita sudah ‘baik’. Jika kejelekan dan keburukan itu dibiarkan sama saja kita membiarkan orang lain membunuh kita pelan-pelan, karena setiap kejahatan yang mereka buat itu akan berdampak pada suatu tatanan ekosistem dimana kita tinggal dan hidup di dalamnya. Lambat-lambat akan mempengaruhi hidup kita, meski tidak menerpa secara langsung. Maka partisipasi kita diperlukan untuk menjaga dan melindungi ekosistem dan komunitas dimana kita berada

Comments