Menulis dan Perspektif

Menulis adalah aktifitas menguraikan isi “kepala” ke dalam kata-kata. Tidak diperlukan kemampuan khusus, hanya suatu kebiasaan dan juga minat yang cukup. Meski menulis akrab bagi saya, saya masih menjadi “penulis” amatir. Tidak ada karya khusus yang saya hasilkan. Menulis adalah cara saya menyalurkan apa yang ingin saya “keluarkan” dari dalam benak, pikiran, dan hati. Tulisan saya pun, bukan tulisan yang bagus. Saya tidak peduli dengan penilaian bagus tidaknya tulisan yang saya buat, karena orientasi saya adalah bagaimana orang “membaca” apa yang ada dalam pikiran saya. Karena saya masih menjadi manusia, dan manusia itu butuh aktualisasi akan dirinya, bukan untuk kebanggaan, tapi untuk menjawab “Apa yang bisa saya berikan, yang saya senang melakukannya...”

Sumber: Pixabay.com

Saya tidak ingin ter-publish, tenar, dan lain-lain karena saya melakukannya untuk sebuah “kesenangan” kecil akan kata-kata, meski bukan seorang yang piawai dalam bermain “lidah” atau pun keindahan akan goresan tangan, tapi saya melakukannya untuk sebuah “kebutuhan” melontarkan kata-kata untuk “meruntuhkan” sebuah “batu besar” di hadapan saya yaitu “kelemahan diri”.

Saya selalu “kagum” dan “takjub” pada keahlian seseorang dalam berbicara, bagaimana mereka bisa menyusun kata-kata mereka secara tertata dan elegan, komunikatif, inspiratif, dan informatif. Saya “selalu” ingin bisa seperti itu (meski kenyataannya saya tidak bisa) karena dengan memiliki kemampuan tersebut, dunia ini sepertinya akan menjadi lebih mudah untuk dijalani tanpa harus sering disalahpahami. Orang yang komunikatif, tentu saja akan memiliki banyak relasi, mudah menjalin relasi baru, mempertahankannya, dan menggunakannya demi kepentingan dirinya. Dia akan lebih banyak disenangi banyak orang karena sikapnya menjadi luwes, dinamis, menyenangkan, karena sangat vokal dan kepandaiannya dalam berbicara, menyampaikan apa yang dia ingin sampaikan tanpa ada beban, tanpa ada rasa ketidakpercayaan diri, tanpa adanya suatu hambatan. Orang seperti ini akan mudah diterima di manapun, kapanpun, dan “sukses” akan menjadi bayang-bayangnya. Sukses akan menjadi potensi terbesarnya.

Saat saya menulis, saya selalu memperdengarkan “bunyi” kata-kata yang keluar entah itu dari dalam hati atau “bisikan” suara. Saya selalu berbicara dengan diri saya sendiri ketika sedang sendirian, atau ketika berada di tengah-tengah banyak orang dengan mengobrol dalam hati, bagaimana agar saya tidak “bengong” karena “terbunuh” oleh diam. Karena, ketika kita diam, pikiran dan hati akan menjadi “beku”. Sementara agar pikiran saya tetap bekerja dan hati saya tetap bisa hidup adalah dengan “menyibukkan”-nya dengan terus melakukan komunikasi. Saya pikir setiap orang pun pasti melakukannya dengan cara yang berbeda, entah dengan gerakan tangan, memainkan sesuatu di jari-jari tangannya, menggoyangkan kaki, atau mendengarkan musik, lagu, atau hal apa pun yang bisa membuat “pikiran”-nya tetap bekerja dan “hidup”. Atau bagi Anda yang muslim, Anda bisa melakukan “dzikir” atau “shalawat” agar membuat hati Anda “hidup” dan berkomunikasi secara batin antara diri Anda dengan Yang Maha Kuasa, berdoa kepada-Nya, dan mengirimkan “shalawat” kepada Rasulullah SAW.

Saya seringkali merasa bingung, “merasa” terjadi “dualisme” antara hakikat dan dzahir dalam diri saya. Hakikatnya, saya adalah apa yang ada dalam pikiran saya dan apa yang saya rasakan, namun itu sulit “keluar”, sulit “diungkapkan” dengan menampilkannya secara utuh. Realitanya, saya mudah “ditelan” oleh kenyataan, “ditelan” oleh orang lain. Saya tidak bisa menampilkan diri seutuhnya, namun kenyataannya saya memang tidak bisa menampilkannya. Jadi ya sudahlah...

Fakta bahwa fisik mempengaruhi kita memang benar adanya, namun fakta bahwa komunikasi adalah kunci membebaskan diri dari kelemahan tersebut adalah benar juga adanya. Jadi “ketidakpercayaan diri” bisa dibebaskan dengan melakukan komunikasi secara jujur sehingga “hambatan-hambatan” yang dirasakan itu dapat dikeluarkan dengan jalan “mengalirkannya” melalui komunikasi kepada orang lain. Kebuntuan komunikasi menyebabkan masalah menjadi kristal, batu, dan akhirnya menjadi sumbatan dan hubungan kita dengan orang lain menjadi beku dan mati. Disinilah peran penting kenapa kita dianjurkan untuk rutin melakukan silaturahmi, karena silaturahmi membuat kita menyambungkan hubungan antara diri kita dengan orang lain sehingga membuat keran rizky juga ikut mengalir. Memutuskan silaturahmi menyebabkan malapetaka dan kegelapan dalam kehidupan seseorang, terputusnya rizky, dan kesulitan dalam hidup. Beban hidup akan terasa tajam, dan persoalan akan sulit diputus, selalu diam di tempat, tidak ada perubahan yang signifikan.

Padahal kalau mau, kita bisa keluar dari seluruh masalah-masalah kita yang saat ini melingkupi kita, dengan pelan-pelan namun pasti akan memberikan perubahan, caranya ? silaturahmi dan komunikasi, terbuka dengan semua orang yang kita percaya. Jangan sungkan untuk mengatakan “tidak”, jangan takut untuk mengutarakan sesuatu, dan rajin berdoa untuk senantiasa diberi petunjuk dalam hidup sehingga bisa memutuskan dengan baik apa yang mesti diputuskan sehingga kita selalu mendapatkan pilihan yang terbaik. Dan tentu saja, hal seperti itu tidak mudah kita lakukan jika kita tidak menaklukkan diri kita terlebih dahulu, sebab hambatan terbesar kita adalah diri kita sendiri.

Dan menulis adalah cara saya menyampaikan sesuatu yang tidak bisa saya sampaikan secara langsung dengan “suara” kata-kata. Menulis adalah ekspresi, reaksi, dan sekaligus ‘obat’. Apa yang saya tulis, murni pandangan subjektif, jadi bukan pandangan yang bisa diambil kebenarannya atau bisa dijadikan hujjah, karena saya bukan siapa-siapa dan bukan menjadi siapa pun, kecuali hanya menjadi diri yang belum sepenuhnya “utuh”, banyak tercecer diantara banyak ruang, dan sekat, di antara berbagai lintasan waktu, dan ketika saya dengan lancar dapat menulis ini, tandanya saya sudah menyatukan serpihan-serpihan itu, meski tidak lama dari itu, serpihan itu akan berhamburan kembali.

(Mengubah pandangan sangat mudah, yaitu dengan mengatur perspektif atau sudut pandang; mengubah suasana hati sangat mudah, yaitu dengan mengubah “gambaran”, mentransisinya dari “gambaran” saat ini menjadi “gambaran” yang menyenangkan yang kita inginkan, seperti mengubah “malam” menjadi “siang” dan “siang” menjadi “malam”, gelap dan terang. Cukup mudah jika kita tidak merekat dengan realita secara fisik, sulit jika kita merasa “memiliki” dan mengatakan bahwa “aku” adalah “tubuhku”, “aku” adalah “apa yang aku miliki” tanpa memikirkan ulang “aku” adalah “milik Tuhan-ku”, sehingga “aku” dan “apa yang aku miliki” adalah “dari-Nya” dan akan kembali “kepada-Nya”)

Comments