Menulis di Sudut Lain

Menulis disamping membutuhkan logika juga ilmu, membutuhkan rasa, dan kepercayaan diri yang cukup. Jika kita menulis tapi tidak percaya diri untuk mengeluarkan apa yang ada dalam benak kita, merasa takut salah, kurang ilmu, dan lain sebagainya, maka kita tidak akan bisa menulis dengan baik. Hal inilah yang akan terasa jika menulis tentang topik tertentu dimana kita tidak memiliki cukup ilmu untuk menuliskannya. Jangankan menulis, mengomentari saja bisa kena ‘komen pedas’ kalau komentar yang kita lontarkan menyelisihi suatu statement dan komentar tersebut mengandung kata-kata yang bisa mengundang perdebatan. Namanya juga komentar, tentu saja untuk memaksimalkan kata-kata sehingga bisa dipahami luas agar tak terjadi gagal paham itu amat terbatas apalagi di media sosial. Dari sinilah sebaiknya untuk tidak mengemukakan pendapat sendiri tanpa hujjah jika mengomentari sesuatu yang berbau “dalil”, meski mungkin niat kita bukan untuk mengoreksi "dalil" melainkan narasi yang terlalu tendensius, berpotensi memantik bara, bukan bahasa yang sejuk dan membimbing, namun orang bisa salah menilai, disinilah kelapangan hati kita diuji, karena itu berperanlah sesuai dengan kapasitas diri kita.

Sumber: Pixabay

Topik-topik yang tidak kita kuasai sebaiknya dihindari, seperti permasalahan hukum halal-haram dalam agama dan isu politik. Gunakan pendapat ulama yang tidak bisa diragukan lagi keilmuannya jika ingin menuliskan soal yang berhubungan dengan agama dalam permasalahan suatu hukum, tentu ulama-ulama madzhab. Jadi kita hanya mengutip ucapan-ucapannya, bukan menuliskan pendapat kita sendiri. Ucapan ulama hanya bisa dikoreksi oleh ucapan ulama yang lain jika tidak sependapat. Jika kita menulis hanya pendapat kita sendiri, maka akan ada pendapat lain yang mengoreksi diri kita. Berani mengucap harus berani dikritik. Tidak semua kritik yang diterima itu bersifat membangun, ada pula kritikan-kritikan yang terlontar membuat kita panas dingin dibuatnya. Kita bisa dibuat down, jika tidak berlapang dada. Maka, harus hati-hati dalam menulis bila topiknya sedikit lebih berat dan mengundang perselisihan. Tulis yang ringan-ringan saja. Topik-topik umum. Sebenarnya hindari juga tulisan-tulisan yang sifatnya mengkritik, kecuali jika kita siap untuk dikritik. 

Kata-kata kadang mewakili rasa, sungguh sulit memilih kata yang tepat untuk pembaca khalayak umum, karena rasa bisa berbeda interpretasi pada tiap-tiap orang. Disinilah arti penting adanya segmentasi pembaca apakah dari kalangan anak-anak, remaja, orang dewasa, atau para orang tua, untuk wanita atau pria, dan agama. Penggunaan istilah agama yang tidak tepat seperti dalam ruang publik juga dapat memancing adanya rasa sentimen agama jika tidak disikapi dengan toleransi atau pemakluman, prasangka yang baik, kedewasaan pikiran, kelapangan hati, dan lain-lainnya. 

Seorang penulis yang kritis tentu rasanya gatal ingn menulis kritikan, namun tentu kritikan akan berbalas dengan kritikan pula. Baiknya kritikan dibarengi dengan solusi yang mengajak orang berpikir, namun bukan berarti akan aman dari kritikan karena dalih apakah sesuatu yang dikritik itu pantas dikritik atau tidak. Ada yang mengatakan kritik dan solusi itu dua kegiatan yang berbeda sehingga kritikan tidak harus dengan memberikan solusi. Kritikus ibarat orang yang sedang melihat adanya suatu masalah pada suatu keadaan, sementara solusi baru muncul kalau ada masalah, sehingga solusi yang tepat akan cepat memperbaiki masalah tersebut. Namun, kadang kala kritikan itu tidak objektif, kadang hanya ingin menyudutkan seseorang. jadi, tidak semua kritikan harus kita perhatikan, tapi juga jangan diabaikan dan menganggapnya tidak penting selama kritikan itu masuk akal, bukan hanya sekedar ungkapan sentimen seseorang. Idealnya hanya kritikan dari orang yang ahli dan diakui keahliannya yang benar-benar harus kita perhatikan, karena mereka biasanya yang bisa memberikan solusi. Cara penyampaian kritik yang baik dan cerdas juga sangat perlu agar pesan itu dapat diterima tanpa harus melukai perasaan orang yang kita kritik. Sulit memang, karena itu lebih baik serahkan kepada ahlinya.  Kita yang bukan pakar, jangan coba-coba menjadi kritikus dadakan, meski gatal tangan ingin menulis, meski rasanya ingin meluapkan kata-kata, namun jika pemahaman kita sendiri terhadap persoalan masih dangkal, maka akan dangkal pula kritikan yang kita lontarkan. Hati-hati juga, bisa jadi kita termakan dengan hasutan provokator. Telaah dengan baik informasi yang kita terima, verifikasi kebenarannya. Banyak sekali fitnah sekarang soalnya, berangkat dari rasa sentimen, kemudian mendapat informasi yang salah, amarah bangkit, dan terjadilah sesuatu yang tidak diinginkan. Sudah banyak terjadi. Saya hanya bisa geleng-geleng jari, ada apa dengan bangsa ini sekarang. Seperti ada kekuatan lain yang mencoba ingin mengarahkan bangsa ini kepada perpecahan. Semoga tidak terjadi demikian, jika dipikirkan memang riweuh, mungkin ini hanya prasangka.

Tulisan yang paling baik mungkin adalah menulis untuk orang lain, sharing ilmu, cerita-cerita dari alam nyata, atau hasil dari lamunan-lamunan sepi. Menulis untuk berbagi ilmu, rasanya itu yang cukup menarik dan paling baik. Tulisan yang spesifik membahas tentang suatu hal untuk pelajaran, apalagi jika yang di-share terkait dengan ilmu agama seperti fiqih, tentu akan menjadi amal jariyah. Menulis tentang ilmu, banyak sekali manfaatnya, tidak hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga untuk orang lain yang membacanya. Tidak hanya mendatangkan sen-sen dalam akun Adsense kita, tapi juga menambah pahala untuk akherat kita selama ilmu yang kita share itu diamalkan oleh orang lain.

Lalu apa intinya tulisan saya ini? Setiap tulisan tentu mengandung pesan, tapi pesan ini sebenarnya ditujukan untuk diri saya sendiri, berekspresilah dengan tulisan, namun sesuaikan dengan kapasitas diri, batasi tulisanmu untuk hal-hal yang kamu kuasai, jagalah hati para pembaca budiman, karena sesungguhnya mereka punya hati, dan mereka juga punya akal untuk berpikir. Setiap tulisan di mata pembacanya punya cara pandang berbeda. Mereka bisa menilai kita, namun kita menulis tentu bukan untuk penilaian, melainkan untuk mengasah kemampuan menulis, karya kreatifitas, mengungkapkan perasaan dan pikiran ke dalam kata-kata. Lebih dari itu adalah sebagai jejak histori, merekam suasana kebatinan, alam pikiran, lanskap peristiwa, dan membagikan sudut pandang, pengetahuan, di semesta google. Hasil akhirnya tentu akan kembali pada kita, berprasangkalah yang baik, insya Allah itulah yang akan terjadi. Sebaik apapun sesuatu yang datang pada kita, jika dianggap buruk, hasilnya akan buruk karena disikapi dengan cara yang buruk. Jika sesuatu yang datang itu buruk, tapi dianggap baik, maka keburukan itu tidak akan terlalu berpengaruh banyak, karena kita menyikapinya dengan cara yang baik. Kuncinya ada pada hati kita, pada anggapan kita, sehingga melahirkan sikap dan reaksi terhadap sesuatu yang datang. Tidak peduli itu baik atau buruk, jika disikapi dengan baik, hasilnya pasti akan baik. إِن شَاء الله

Comments