Waktu dan Amal, Hijrah dan Pilihan

Waktu menghadirkan saya kembali ke dalam kehidupan ini, memberi nafas untuk hidup, melanjutkan sisa-sisa umur yang entah berapa lama lagi karena kematian itu sendiri adalah rahasia Tuhan. Bisa mencapai usia 60 saja, sudah patut bersyukur, berarti ada waktu yang cukup untuk saya isi dengan amaliah ibadah agar mendapati Surga Tuhan yang indah dan hidup berbahagaia penuh suka cita di dalamnya. Namun, saya tetap tidak bisa memastikan bahwa semua amaliah ibadah itu akan diterima di sisi-Nya karena itu semua adalah hak prerogatif Allah untuk menerima atau menolak amal ibadah seorang hamba yang Allah saja yang mengetahui apa sebab Dia menolaknya, menguranginya, atau menghapusnya. 

Sumber gambar: Pixabay.com

Ilmu yang kurang menyebabkan kebodohan kita dalam beramal, mencampurkan tauhid yang lurus dengan kesyirikan halus tersembunyi, atau kesyubhatan yang dianggap sebagai hal baik, semua itu tidak pernah kita menyadarinya. Saya pun tidak bisa memastikan bahwa dengan usia yang panjang saya bisa mengisinya dengan sebaik-baiknya, tanpa ilham dari-Nya, tanpa petunjuk-Nya yang Dia berikan ke dalam hati sanubari, ke dalam kalbu hingga terang terasa jalan hidup ini. Tak ada yang berharga selain ilmu yang berbuah amal yang baik, tak ada yang lebih indah dalam hidup selain bisa hidup dan bersama dengan orang-orang yang menunjukkan kepada kebaikan agama sehingga hati ini, pikiran ini, dan tingkah laku ini bisa benar-benar terjaga dan terpelihara dari hal-hal yang tidak semestinya dilakukan oleh hamba-hamba Allah yang ingin mencari keselamatan besar di dunia dan di akherat. Saya tetap tidak bisa memastikan ujung hayat yang akan saya rasakan akan menjadi hal terakhir untuk saya nyatakan keimanan pada-Nya sebelum tutup tugas sebagai “khalifah” dengan satu hela nafas akhir "Laa Ilaaha Illa Allah"

Semua itu, saat ini hanya menjadi mimpi. Mimpi untuk saya lakukan di waktu yang berbeda, di tempat yang berbeda, karena saat ini semua itu sukar dilakukan mengingat kondisi yang tidak dimungkinkan untuk dilakukan. Hijrah sebenarnya solusi terbaik jika ingin berubah. Takut hijrah adalah sama saja dengan tidak mau berubah meski ia berangan-angan tentangnya. Keinginan saja tidak cukup, hijrah adalah tindakan, tindakan yang penuh dengan keberanian dan pengorbanan. Perubahan tidak akan pernah bisa terjadi tanpa sebuah pergerakan, jika kita tidak bergerak, kita tidak akan pernah berubah. Semua orang pasti tahu hal itu, tapi pengetahuan saja tidak cukup. Kemauan harus ada untuk berubah, tapi kemauan tanpa upaya adalah kemauan yang membohongi diri. Niat harus dieksekusi, jika hanya tersimpan di hati saja, ia tidak akan menghasilkan apapun selain kegundahan.

Penjara fisik lebih baik dari hati yang tepenjara. Dalam penjara fisik, banyak tahanan yang melakukan transformasi menjadi pribadi yang lebih baik, bersosialisasi, dan intens mendekatkan diri pada Tuhan, sambil menunggu waktu saat-saat kebebasan tiba karena saat itulah secara simbolik mereka merasa terlahirkan kembali ke tengah-tengah masyarakat, menikmat kembali kemerdekaan mereka yang sempat terampas. Lalu bagaimana dengan hati yang terpenjara? Itu justru lebih buruk, karena dengan hati yang tepenjara meski fisik mereka bebas, hati mereka seakan-akan berada di dalam jeruji besi. Mereka yang tidak memiliki arah hendak kemana, tidak mampu untuk mengeluarkan diri mereka dari suatu situasi dan keadaan yang “malang”, bahkan mengakrabkan kemalangan itu dengan terus berada di dalam zona nyaman. Mereka tidak mampu keluar karena mereka seumpama “kucing rumah” yang terbiasa di dalam ruang tanpa predator, dimana makan dan minuman tersaji setiap hari, tidak melakukan hal-hal lain selain melakukan apa yang biasa mereka lakukan. Mereka tidak terlalu menyukai gelapnya “hutan”, karena di dalamnya ada “kucing” lebih besar, yang taringnya lebih panjang, dan kuku-kukunya lebih besar. Setan menakut-nakuti kita dengan kamuflase bahaya, sementara bahaya yang lebih nyata tersamarkan dari empuknya kasur, dan teduhnya atap rumah kita. Kenyamanan justru melemahkan dan dapat membunuh kita daripada kesukaran dan tantangan yang menguatkan kita dan membuat kita lebih hidup berkali-kali lipat.

Hidup membutuhkan variasi, hidup seseorang harus memiliki sesuatu yang berbeda pada tiap-tiap waktu secara berkala. Hidup yang terus berada dalam status quo atau hal sama yang berlangsung terus menerus tanpa adanya perubahan dari waktu ke waktu adalah merupakan suatu kemalangan dan musibah, bukanlah sesuatu yang baik dan bukanlah kabar yang bagus. Celakalah seseorang yang mempunyai hari yang sama seperti kemarin, tak ada peningkatan hal yang baik yang dilakukannya, apalagi jika seseorang itu melakukan kemunduran dalam amal, apa lagi sebutannya selain kita namakan sebagai musibah. 

Perubahan adalah hal yang penting, waktu telah mengajarkannya, meski jam berputar di tempat yang sama, tapi jam itu berhasil mengubah kalender menjadi tidak lagi sama selamanya. Tak akan ada perulangan waktu, bahkan setiap detik waktu selalu berubah. Rugilah kita bila kita selalu menjadi seseorang yang sama dalam waktu yang panjang. Tak ada progress, tak ada perubahan, kita benar-benar merugi dengan kerugian yang besar dan teramat nyata. 

Padahal kita tahu bersama, hidup hanya sekali saja di atas dunia ini. Setelah nafas kita hilang, apa yang terjadi pada kita? Ada dimana kita? Bisakah kita bayangkan kematian yang akan datang pada kita? Apa yang akan kita rasakan saat kita tahu kita tidak lagi hidup di atas muka bumi ini? Pikirkanlah, dan seharusnya saat kita mengingat hal tersebut, apa salahnya mumpung masih ada di dunia yang sebentar ini, kita melakukan kerja dua kali lipat lebih keras untuk memperbaiki apa yang seharusnya diperbaiki meski kita tahu ada beberapa hal yang mungkin tidak mudah diperbaiki. Meminimalisasi dosa dan kesalahan meski kita tahu itu semua tidak mudah dilakukan karena kita adalah tempat untuk alpa, lalai, dan lupa, bahkan mudah terpancing hatinya karena menganggap entengnya dosa, mudah lalai dengan waktu luang, memilih hal yang menyenangkan hati dengan melakukan hal-hal unfaedah daripada hal yang menenangkan hati dan jiwa. Kita tahu kita butuh hiburan untuk mengistirahatkan raga dan pikiran dari rutinitas yang mengikat setiap hari, namun carilah penghiburan yang baik yang tidak membuat lalai dari mengingat-Nya, ber-Tuhan bukanlah suatu beban, ber-Tuhan adalah sebuah kemerdekaan hakiki melepaskan diri dari semua ketergantungan dan kebutuhan dasar dari semua bentuk eksistensi selain Tuhan, dan tiada ada Tuhan melainkan Allah, karena dari-Nya adalah sumber dari semua kebutuhan kita. 

Stagnasi adalah kematian ruhani yang lebih parah dari kelumpuhan jasad, kabar baiknya, mati surinya ruhani bisa disembuhkan, di-charger ulang dengan suatu hentakan, kesadaran baru, hal ini tidak bisa dilakukan jika tidak datang dari suatu masalah seperti menemui jalan buntu, kita hanya perlu untuk berjalan kembali kebelakang demi menemui jalan baru, dari situ lah akan timbul kembali harapan. Carilah jawaban, hidayah, energi dan inspirasi baru, wawasan dan kemampuan baru, dan lain-lainnya yang membawa kemanfaatan pada diri khususnya yang memberikan jawaban dan peluang yang menyemangati hati bahwa inilah jalannya yang benar yang harus kita lewati untuk satu tujuan yang terpenting dalam hidup kita. Dan saat kita sudah melewati jalannya dan berada di atasnya, masalah bukan bearti akan pudar dan hilang,  yang berbeda adalah cara kita menyikapinya apakah masih dengan menggunakan pola pikir yang lama, atau pola pikir yang baru. Pola pikir baru akan membuat perbedaan besar dalam cara pandang kita dalam melihat dunia, membuat hati kita menjadi lebih berbeda dalam merasakan kehidupan di sekitar kita terutama dalam interaksi terhadap sesama dan lingkungan, tentu bukan dengan kebencian melainkan kedamaian, bukan sebagai musuh melainkan partner dalam beramal karena sikap kita terhadapnya apapun akan menjadi catatan untuk amaliah kita. Baik atau Buruk. Semua itu adalah kehendak Allah, tapi manusia diberi-Nya kebebasan untuk berbuat, konsekuensi dari kebebasan berbuat itu adalah ganjaran pahala dan dosa. Pilih mana? Jawabannya tentu tak semudah itu..

Comments