Windows Insider dan Upgrade "Cangkul" ?

Malam ini saya akhirnya memutuskan untuk mengubah Windows 10 Pro 1709 saya dengan versi Windows Insider, maksudnya adalah versi Windows dimana kita akan mendapatkan update-an terus menerus secara berkala secara gratis. Sebenarnya yang ingin saya incar adalah versi Windows terbaru yaitu “Redstone 5” Build 17623 yang katanya lebih ringan daripada build-build sebelumnya. Build 17623 sendiri jauh sekali dari build yang saya pakai saat ini yaitu 1709, dimana build 1709 ini saat pertama kali saya pakai lebih kencang daripada build sebelumnya, nah... peningkatan akan kecepatan dan kestabilan itulah yang ingin saya rasakan pada build terbaru saat ini yaitu “Redstone 5” karena saya merasa pada build 1709 ini sudah mulai “berat”, apa karena ruang partisi C saya tersisa 18% dari total 100 GB, atau karena aplikasi-aplikasi yang memakan banyak space RAM netbook yang hanya sebesar 2 GB, atau sudah waktunya saya gunakan build terbaru yang berharap saja mendapatkan banyak perbaikan dan perubahan-perubahan yang signifikan.

Sumber: PIxabay.com


Sebagai orang yang suka membuka banyak aplikasi dan program-program besar, netbook kelas low end jelas bukan senjata yang tepat, jika bukan karena alasan budget, netbook yang saya miliki saat ini lebih cocok untuk masa-masa saya SMA atau untuk mahasiswa biasa (yang pasti bukan untuk jurusan desain grafis, video editing, atau programming android) yang hanya mengandalkan Ms Word, Browsing, dan buka-buka program yang ringan. Coding sebenarnya juga bisa kalau hanya untuk PHP, atau Web Design dengan pure HTML, CSS, dan JS, tapi kalau untuk compile program atau membuat aplikasi Android, video editing, photo editing.. sangat tidak disarankan karena ngeselin.

Bagaimana tidak ngeselin: membuka browser Chrome dengan 5 tab, jendela Command Prompt 2 buah, Sublime Text, Microsoft Word, dan Task Manager, itu saja sudah menghabiskan memori 85% ke atas, dan 99 – 100 % tenaga CPU. Kalau Task Manager dikecualikan, maka yang hilang 18 MB dari 1.7 GB Memori yang dipakai, kalau Ms. Word di close, akan menghemat sekitar 23 MB. Angka-angka ini tidak pasti, tapi memori RAM paling banyak terkuras untuk browser Chrome antara 300 – 400 MB, Windows Defender Antivirus Service, dan Software Protection. Banyak service-service Windows yang dijalankan di balik background yang menguras RAM dan CPU. Sekali lagi angka-angka tidak pasti untuk semua kondisi, tapi menjadi gambaran kalau kekuatan netbook dengan RAM 2 GB dan Intel N3060 ya seperti itulah kemampuannya. Tidak hanya di Windows, di Ubuntu 17.10 pun sama saja, mungkin awal-awal akan terasa normal, semua berjalan dengan lancar, namun setelah melakukan multitasking, akan mulai terasa nge-lag. Satu hal yang terasa, aplikasi-aplikasi versi terbaru itu lebih butuh daya RAM yang lebih besar dari versi lamanya. Netbook ini tergolong awet untuk penggunaan baterai di Windows 10, namun akan cepat terkuras jika digunakan di Ubuntu. Kita tidak bisa menyalahkan software-nya yang selalu menuntut lebih, pun dengan hardware-nya.

Maka jika kamu sebagai Backend Web Developer, menggunakan senjata netbook, apalagi kelas low end.. rasanya tidak akan begitu berkembang karena skill-nya tidak jauh-jauh dari apa yang bisa komputer kamu lakukan. Kalau komputer kamu cuma bisa buka program A, tidak bisa buka program B, dan mentok pada versi tertentu ya seperti itulah yang akhirnya bisa kamu lakukan dengan komputermu. Tapi, ya itulah proses. Nikmatilah proses itu, kamu harus mulai dari basic, dari hal sederhana yang tidak butuh spesifikasi tinggi jika kamu mampunya segitu, tapi jika bisa menunggu lebih baik belilah senjata yang bagus, komputer dengan mesin yang handal untuk semua medan karena dengan mesin yang bagus kamu bisa melakukan apapun tanpa banyak memiliki hambatan. Perfek digunakan untuk bekerja, bermain, dan belajar.

Saya lebih suka memiliki laptop daripada sebuah PC karena PC tidak bisa membuat kita mobile. Saya suka mobilitas, terutama di saat-saat yang dibutuhkan. Misal mengerjakannya di Perpustakaan, di outdoor, atau dimana saja terutama jika ada wi-fi gratis (dengan kecepatan yang tidak bisa diandalkan di jam-jam keramaian), jadi tidak melulu dilakukan di dalam ruangan, di rumah, atau di tempat yang dijadikan kantor. Namun, PC tentu punya kelebihan seperti tahan lama untuk dipakai bekerja, bisa upgrade suka-suka satu per satu per komponen tergantung pada batasan Motherboard, bisa menggunakan dua, tiga, hingga empat layar monitor bahkan lebih (cocok untuk multitasking, meski laptop juga bisa melakukannya). Hal yang saya tidak sukai dari PC adalah terkesan tidak bisa “bekerja dimana saja dan kapan saja”, kemudian PC juga boros soal energi listrik, apalagi kalau dihidupkan siang malam 24 jam. PC juga bising di malam hari, sesuatu yang tidak saya sukai, sehingga penggunaan PC memang lebih baik untuk ruangan kantor atau rumah sendiri di ruang khusus untuk bekerja sehingga minim dengan interupsi.

Saya termasuk tipikal orang yang lebih menyukai bekerja di saat-saat sendiri, karena lebih bebas dan minim dari interupsi (gangguan ekternal) sehingga pikiran bisa benar-benar berpikir dengan fokus dan tidak punya beban mental, dan laptop adalah semacam gambaran individualisme dimana perangkat itu hanya kita yang memegangnya, berbeda dengan PC meski namanya Personal Computer, namun PC tidak sepersonal itu karena bisa digunakan oleh siapa saja. Kita masih bisa menaruh file pribadi di laptop, tapi mungkin akan berpikir beberapa kali jika ditaruh di PC, kecuali kita membuat akun sendiri di PC tersebut lengkap dengan password.

Salah satu Impian saya adalah memiliki laptop high-end yang mumpuni untuk semua hal (jika ada rezeki, saya tidak tertarik dengan barang berharga lux tapi tidak berguna semacam fashion, lebih suka hal sederhana tapi usefull, untuk sebuah “alat” terkadang kita harus membayar lebih mahal untuk mendapatkan kualitas yang kita harapkan meskipun harga tinggi tidak menjamin harapan, namun spek tertentu memang berkisar dengan harga di atas “murah” dan di bawah “dewa”, karena kalau terlalu tinggi juga saya belum tentu mampu beli), tentu semakin tinggi harganya semakin mantap spesifikasinya dan benar-benar professional digunakan untuk bekerja, namun jika punya latop yang benar-benar professional, maka yang menjadi pertanyaan: apa yang bisa kamu hasilkan dengan laptop itu? Maka kamu harus benar-benar mengubah cara kamu dalam bekerja, ibaratnya kamu mengupgrade senjatamu, maka target musuhmu pun harus berubah, harus yang sepadan agar ada tantangannya.

Kalau mau beli laptop, tanggung jika hanya kelas low end, karena pasti tidak akan berguna lagi untuk jangka waktu tertentu karena terhalang oleh spesifikasinya yang rendah. Jadi, lebih baik yang bagus sekalian, mahal tapi masih bisa dipakai lama, dan banyak peminat untuk barang seken-nya. Lalu apakah saya menyesal membeli netbook yang saya miliki saat ini? Tentu tidak. Kenapa? Karena inilah yang mampu saya beli, dan saya pun membelinya secara mendadak karena netbook lama saya “tewas” sehingga saya harus menggantinya tanpa perencanaan keuangan. Padahal laptop atau netbook adalah alat yang penting dan utama untuk seorang yang ada dalam dunia komputer, speknya sangat berpengaruh sekali terhadap kinerja yang kita punya. Namun, saya bersyukur, saya memulainya dari hal kecil sebelum nantinya (saya berharap) bisa mendapatkan hal yang besar. Saya bersyukur masih memiliki “cangkul” yang cukup untuk saya saat ini untuk menggarap lahan yang tidak seberapa. Budget mempengaruhi alat dan alat menentukan hasil.. meski tidak semua alat yang bagus ada di tangan yang tepat secara peruntukannya (karena biasanya spek tinggi digunakan untuk bermain game), dan tidak semua alat yang pas-pasan tidak bisa menghasilkan rupiah yang nilainya bisa sebanding dan bahkan melebihi apa yang bisa dihasilkan alat yang bagus dan mumpuni. Namun, kita semua setuju, komputer yang bagus sangat mempengaruhi kinerja atau performa seseorang untuk bekerja dan menghasilkan sesuatu secara lebih baik.

Jadi, kapan upgrade ?

Comments