Apakah kitab suci itu fiksi ?

Jika arti fiksi adalah sama dengan arti fiksi menurut kamus yang dinisbatkan untuk karya literatur seperti cerita, novel, roman, dan kisah-kisah yang sering kita dengar seperti legenda, dongeng, dan mitos, maka kitab suci tidak bisa disebut “fiksi” sebagaimana halnya buku-buku yang kita baca yang dilabelkan sebagai “buku fiksi”. Apakah berarti Kitab Suci adalah “nonfiksi” ? Rasa-rasanya Kitab Suci tidak bisa disejajarkan dengan literatur karya manusia sehingga istilah “fiksi” dan “nonfiksi” tidak tepat dan tidak pantas ditujukan untuk Kitab Suci yang diyakini kebenarannya oleh orang yang mengimaninya. Kitab Suci adalah “kitab suci”, isinya tidak bisa diganggu gugat, tidak bisa disalahkan, tidak bisa dicela dan dihinakan terutama sekali Al-Qur’an Al-Karim. 

Sumber: Pixabay.com


Kebenaran kitab suci memang hanya diyakini oleh orang yang mengimaninya saja, bagi orang yang tidak mengimaninya tentu saja tidak akan percaya kepada isi kitab suci, seperti orang yang menganut paham atheisme, tidak mungkin dia percaya kepada kitab suci toh dia juga tak percaya akan eksistensi Tuhan, atau percaya kepada Tuhan tapi bingung Tuhan mana yang patut dijadikan Tuhan bagi dia. Orang Islam, tidak percaya kepada kebenaran Bible, meski percaya bahwa isinya sebagian merupakan wahyu Tuhan kepada Nabi Isa (Injil). Sebaliknya pun Orang Kristiani, tidak percaya kepada Al Qur’an sepenuhnya, ini membuktikan bahwa kitab suci tertentu kebenarannya tidak absolut diterima sebagai kebenaran secara umum untuk semua orang. Fakta di dalam kitab suci  sebagian telah terbuktikan dalam sejarah, sebagian lainnya masih menunggu waktu hingga menjadi suatu fakta kenyataan. Namun, siapa pun mereka yang percaya kepada Tuhannya, tak akan mungkin meragukan apalagi menyangkal kebenaran firman-Nya di dalam kitab suci. Kitab suci khususnya Al-Quran, bukan sebatas pada lembaran-lembaran kertas, atau dalam bentuk wujud buku (kitab). Al Qur’an adalah firman Allah, baik yang dituliskan, diucapkan, atau dalam ingatan-ingatan manusia. Kitab suci tak mungkin salah, yang salah adalah manusia yang menginterpretasikannya.

Apakah Al Qur’an adalah 100% fakta ? Ya, bagi orang yang percaya kepada Allah yang menurunkan Al Qur’an, jika arti fakta adalah kebenaran mutlak meski tidak semu fakta itu bisa kita saksikan sendiri dengan panca indera yang kita miliki. Apakah orang Islam percaya dengan kitab-kitab suci lain ? Secara umum, “Ya”,  karena merupakan salah satu bagian dari rukun keimanan, selama isinya tidak bertentangan dengan isi Al Qur’an.

Karena kebenaran kitab suci hanya diterima oleh orang-orang beriman kepada kitab sucinya masing-masing, apakah kata “fiksi” masih bisa diterima diantara kata “fakta” dan “fiktif” diluar dari definisi yang diberikan kamus ?

Arti Fakta secara umum adalah sesuatu yang tidak bisa disangkal lagi, mutlak benar karena ada bukti kebenarannya yang bisa kita saksikan dengan panca indera, bukan lagi didasarkan pada keyakinan, dogma, dan doktrin. Orang yang tidak percaya pada fakta seperti ini berarti orang itu tidak mempercayai kenyataan, menolaknya berarti lari dari kenyataan. Kitab suci itu benar ? “Ya”.. apakah merupakan “fakta” ? Sebagiannya adalah “fakta” yang sudah ditemukan secara ilmiah dan berdasarkan sejarah, sebagian yang lain “belum menjadi fakta” dan sebagian yang lain sulit untuk membuktikannya karena merupakan keajaiban-keajaiban yang sukar untuk terulang kembali seperti tongkat Nabi Musa yang dapat membelah lautan, tapi tidak bisa dikatakan “fiktif” (bohong). Sesuatu yang “ada”, tapi tidak bisa dibuktikan “ada” dengan lugas, istilah apa yang cocok untuk menyebutnya? Atau istilah apa yang cocok untuk menyatakan sesuatu yang anda percaya (doktrin) itu fakta tapi tidak bisa anda buktikan langsung fakta itu ada, sementara yang lain tidak percaya akan adanya fakta tersebut alias itu hanyalah kebohongan yang dibuat-buat alias fiktif. Kalau itu suatu fakta seharusnya semua orang menerimanya, tapi ternyata tidak. Kalau disebut fiktif, juga tidak, sebab sebagian orang percaya tentang kebenarannya meski kebenaran itu tidak bisa dibuktikan secara praktis. 

Apakah surga itu fiksi ? Untuk saat ini, mungkin lebih condong pada pernyataan “surga itu fiksi” (dengan catatan bukan arti fiksi secara literatur), bukan berarti surga itu hanya cerita rekaan atau dongeng semata, surga itu benar-benar ada, karena percaya bahwa surga itu memang benar-benar ada. Namun, ketika disuruh untuk membuktikan secara praktis, lugas, dan terang benderang tentu kita tidak bisa, lantas kita menjawab “Wallahu A’lam”. Keberadaan surga adalah urusan akherat, urusan ghaib yang Allah saja yang mengetahuinya secara pasti. Rasulullah pernah ditanya dimanakah letak neraka apabila surga itu seluas langit dan bumi, dan beliau hanya kembali bertanya, “Dimanakah malam apabila siang menjelang?” Surga itu nyata ada, bukan fiktif, tapi saat ini belum menjadi fakta yang terungkap karena kita belum bisa memasukinya. Saat ini Surga ada dalam benak kita, dalam bayangan kita namun bukan khayalan, dalam ruang imajinasi kita sesuai dengan gambaran yang diberikan namun tetap tidak bisa kita bayangkan sepenuhnya, dalam alam pikiran kita, dalam setiap motivasi dan keinginan kita bahwa kita ingin menggapainya. Surga itu “ada”, namun belum ber “ada”, karena kita tidak tahu ada dimana persisnya, dan tidak tahu bagaimana keadaan di dalamnya karena belum sampai pada kita foto atau gambaran hakikat Surga itu secara nyata, hanya dalam bentuk gambaran-gambaran yang diceritakan Al Qur’an.  Kita mengatakan Surga itu fakta (dalam arti keyakinan) tentang keberadaannya, ya karena kita percaya, bagi yang tidak percaya akan adanya Akherat, Surga itu bagi mereka adalah fiktif (mereka berargumentasi pada arti fakta yang bersifat umum). Keyakinan (iman) melahirkan suatu motivasi untuk berbuat, vision, jalan yang memiliki tujuan yang baik. Fiksi mungkin bisa menjadi penengah, istilah alternatif diantara istilah fakta dan fiktif secara umum. 

Fiksi jika disematkan pada sesuatu yang bukan karya literatur disini bukan bermakna yang sama dengan makna dalam kamus, fiksi disini tidak bermakna harfiah, lugas, atau praktifs, atau hanya secara tekstual, tapi sesuatu yang jika direnungkan dengan dalam mempunyai makna yang luas dan universal, meski secara “praktis” kita menolak menyematkan “fiksi” untuk kitab suci, bisa dikatakan pernyataan ini mungkin salah alamat. Sebenarnya mungkin kita perlu untuk keluar sejenak dari alam pikiran yang selama ini mengurung kita bahwa kata fiksi selalu digunakan untuk menyebut “cerita rekaan” tanpa dasar kenyataan, hanya lahir dari “khayalan-khayalan”. Toh, ini hanya istilah, masih bisa diperdebatkan oleh sesama pakar filsafat sebab pernyataan ini keluar dari mulut seorang yang dikenal sebagai dosen filsafat. Pernyataan ini keluar dari dalam forum diskusi, jadi jika pernyataan ini kemudian dilaporkan ke pihak berwenang, saya rasa tidak tepat dan melukai kebebasan dalam mengeluarkan pendapat di forum-forum diskusi. Lain halnya jika pernyataan ini keluar di publik dalam bentuk pidato kepada khalayak umum oleh seorang yang tidak punya kompetensi apa-apa, maka perlu adanya hak jawab untuk menjelaskan apa maksud pernyataannya, dan toh pernyataan ini pun sudah dijelaskan di dalam forum bersangkutan, jadi jika masih ada yang membawanya ke ranah hukum sebagai bentuk penistaan betapa banyaknya kasus yang dilaporkan karena banyak forum-forum lintas agama yang bicara soal kitab suci tertentu dan keyakinan tertentu dalam bentuk debat yang tak jarang banyak sekali ucapan-ucapan yang sedikit menggores keimanan. 

Jika ada orang Islam melaporkan pernyataan “kitab suci itu fiksi” maka apakah ia merasa bahwa Al Qur’an itu termasuk dalam kitab suci yang disebut fiksi ? Padahal Al Qur’an itu adalah kebenaran bukan fiksi yang diartikan secara literatur. Kalau ada pendeta yang melaporkan “kitab suci itu fiksi”, apakah pendeta itu merasa yang dimaksud adalah Bible ? mungkin saja karena yang mengeluarkan pernyataannya adalah kebetulan seorang nasrani. Jadi, siapa yang berhak melaporkan?  Seharusnya perkumpulan orang-orang dalam lintas agama, atau departemen Agama, bukan dari kalangan agama tertentu karena tidak disebutkan secara spesifik kitab suci mana yang dimaksud. Kalau hal ini pun dilaporkan, ini bukti bahwa kebebasan mengeluarkan pendapat di forum-forum diskusi itu memang tidak ada, kecuali jika orang tersebut terang-terangan secara lugas menyebut “Al Quran itu fiktif”, maka umat Islam di seluruh dunia tentu akan marah. Ini merupakan pernyataan yang tidak bisa diperdebatkan kecuali hanya di forum-forum debat lintas agama, bukan dalam forum diskusi wacana politik.

Politik kembali ke politik, diskusi kembali ke diskusi, rasanya tidak elok menyinggung kitab suci untuk menjelaskan baiknya fiksi “Indonesia Bubar 2030”. Kitab suci terlalu sakral untuk disamakan dengan berbagai hal yang terkait dengan manusia, apapun kitab suci tersebut, dipercaya berasal dari Tuhan, terutama sekali Al Qur’an. Perihal pernyataan “Indonesia Bubar 2030” itu disebut fiksi karena memang dari novel yang merupakan karya fiksi, bukan suatu ungkapan pasti yang skeptis, pesimitis sehingga harus menghakimi pidato. Cepatnya reaksi tanpa mau memahami lebih dalam perihal “Indonesia Bubar 2030” biasanya disebabkan karena kedangkalan berpikir dan kurang dewasa menyikapi persoalan.. dan biasanya juga karena berbau politik, sarat kepentingan sehingga membuat orang menampilkan lebih banyak kedunguan daripada yang seharusnya. Reaksi terhadap fiksi (arti secara literatur) adalah fiksi juga…. Semua gerak gerik politik akan kembali pada tujuan dan kepentingan politik… 

Tulisan disini bukan untuk membenarkan “kitab suci itu fiksi”, tapi hanya ingin mencoba sedikit mengurai arti fiksi secara non literatur atau tidak didasarkan pada istilah dalam kamus. Jadi kembali pada pendapat pribadi masing-masing orang, melihat kata “fiksi” itu sebagai apa? Karena sudut pandang yang berbeda dalam melihatnya akan melahirkan pemahaman makna yang berbeda pula meski asal katanya sama. Saya pun tak setuju jika “kitab suci itu fiksi” dari segi pemahaman “fiksi” menurut literatur dan kamus. Kalau dilihat dari sisi yang lain, rasanya tidak lazim dan kurang tepat juga untuk disematkan pada kitab suci, meski masih bisa diterima pemahaman arti fiksinya. Jadi, jangan sampai istilah “fiksi” yang menurut arti non literatur itu tercampur sehingga terjadi penyelewengan istilah untuk tujuan yang gamblang,  menista di depan publik, di luar forum diskusi yang sehat.


Comments