Manajemen Waktu untuk Kehidupan yang Lebih Baik

Dunia koding dan dunia literasi itu benar-benar berbeda sekali yang saya rasakan dimana yang satu mendengarkan bunyi pikiran, sementara yang satu mendengarkan bunyi yang bertumpu pada esensial dan daya intelektual, serapan informasi dan bagaimana kita mengelolanya untuk memproduksi kata-kata untuk satu tujuan seni tertentu dalam arti yang luas.

Sumber: Pixabay.com


Saya bukan pakar dalam literasi, bahkan saya bukan penulis, meski saya suka nulis dulunya,  nulis diary dan cerita-cerita yang tidak jelas, memproduksi kata tapi tak pernah bisa memproduksi karya literasi semacam buku, tapi semenjak saya berkecimpung menghabiskan banyak waktu di kolam perkodingan yang melelahkan logika dan memenjarakan hati yang tak terekspresikan, saya pun jarang menulis kembali.

Waktu begitu berharga, maka seharusnya waktu dikelola dengan benar untuk hidup yang lebih berkualitas. Jangan jadikan pekerjaan sebagai hal utama, lalu menyampingkan bahkan meniadakan hal-hal lain yang juga penting untuk mendukung kinerja tubuh fisik, emosional, spiritual, dan juga intelektual. Selama ini, saya lebih banyak menghabiskan waktu 80 sampai 90 persen untuk koding, manajemen waktu yang buruk. Sekali dua kali dalam sepekan tak masalah, tapi kalau hal itu berlanjut berminggu-minggu jelas sekali akan menimbulkan masalah karena ada beberapa bagian yang berkurang bahkan hilang, timbul ketidakseimbangan yang mengakibatkan malfungsi. Gila kerja atau Workholic tanpa diimbangi dengan hiburan yang memadai untuk me-recycle ulang atau men-charger diri akan membuat kita menjadi kurang berbahagia, kurang puas, kurang enjoy, dan mungkin kualitas kinerja juga akan ikut menurun. 

Manajemen waktu, inilah sebenarnya kunci bagaimana kita dapat menjalani hidup dengan baik dalam perspekstif waktu yang kita pakai. Semakin bagus manajemen waktunya, produktifitas kita pun akan bertambah tanpa mengurangi bagian yang lain dalam kehidupan kita, tapi bukan berarti kita bisa mengerjakan semua hal dalam satu hari. Hal yang menjadi kendala dalam manajemen waktu adalah adanya interupsi yang kita tahu itu, interupsi itu bisa datang dari mana saja. Sebagai orang yang bertumpu pada pikiran, saya tak terlalu suka dengan adanya interupsi yang datang tiba-tiba tanpa persiapan, meski pun saya tidak terlalu pintar memang untuk membagi pikiran saya dan mengalokasikannya ke pos-pos yang tepat saat datang waktunya hal itu dilakukan.

Saya pemikir sehingga lamban dalam mengeksekusi apa yang ingin dikerjakan, tidak bisa spontanitas begitu saja tanpa adanya persiapan, dan ketika ada persiapan saya ingin membuatnya komprehensif, dan itu artinya saya butuh waktu untuk meluangkan apa yang ada dalam pikiran saya. Masalahnya, saya sensitif sekali terhadap impuls yang tidak saya khendaki tiba-tiba datang dan membuat susunan abstrak pikiran saya kembali hilang.

Manajemen waktu, disinilah kita belajar untuk memenej kehidupan sampai kemudian bisa memenej segala hal dalam kehidupan kita. Maka, untuk menyusun masa depan, susunlah kehidupanmu dari sekarang.

Comments