Pedestrian yang diombak Kendaraan

Saya seorang pedestrian (pejalan kaki) yang terkadang merasa dianaktirikan diantara lalu lalang kendaraan. Bukan sedih karena tidak bisa ikutan mengaspal dengan roda dua, tapi karena semakin sempitnya trotoar yang ada untuk pejalan kaki. Bahkan di beberapa tempat, trotoar itu hilang karena digunakan untuk parkir kendaraan, tempat untuk berjualan, dan pengendara yang asal serobot di pinggir jalan sehingga pejalan kaki harus mengalah dan harus ekstra hati-hati ketika berjalan. 


Sumber: Google Maps Bandar Lampung


Jalanan di Bandar Lampung, Teluk dan Karang yang saya amati suasananya begitu gerah dan semerawut. Saya membayangkan jika saya ikutan mengaspal, pasti bakal tidak nyaman kalau tidak terbiasa membawa kendaraan di tengah ramainya jalanan ditambah lagi perilaku pengendara yang tidak tertib, terutama sepeda motor yang tidak sabaran. Tidak semua jalan memang, tapi kita patut bersyukur tidak seperti Jakarta, kemacetan hanya sedikit sekali di beberapa lokasi dan tidak berlangsung lama, selebihnya ramai lancar.

Ada satu jalan utama menuju Kabupaten lain (Pesawaran) di luar kota Bandar Lampung, sekaligus menuju ke objek wisata yang bertebaran di sepanjang pantai, tapi jalan itu memiliki lebar yang tidak ideal untuk sebuah jalan utama karena sempit. Inilah penyebab kenapa Jalan Ikan Sebelah dan RE Martadinata selalu penuh dengan kendaraan yang berjubel-jubel di kala pagi dan sore hari, apalagi akhir pekan dan suasana-suasana Ramadhan seperti saat ini. 

Masyarakat mungkin harus segera disadarkan untuk menggunakan layanan transportasi publik seperti angkot dan bus, tapi lagi-lagi sarana dan prasarananya kurang memberi kenyamanan bagi penumpang. Antara banyak pilihan transportasi, namun nampaknya angkot masih menjadi raja dan primadona angkutan umum di Bandar Lampung dan hanya kalangan tertentu saja yang menggunakan layanan transportasi lain dan itu pun masih terkendala dengan kekurangan-kekurangan yang ada.

Sebagai pedestrian, saya sering mengamati tempat dimana saya berjalan. Dan saya nilai, masih minus. Jauh dari kesan rapih dan bersih. Daerah Teluk nampaknya kurang mendapatkan perhatian dari sisi kebersihan lingkungan, bukan salah Pemerintah semata, ini salah warga yang belum punya attitude terhadap lingkungan. Pemerintah juga punya saham kesalahan yang harus mereka bayar (mungkin belum punya anggarannya) untuk menertibkan, membersihkan, dan menata lingkungan yang kurang sedap dipandang. Kali Way Belau dekat jembatan baru (Way Belau) yang memisahkan Jalan Ikan Sebelah dan Laks RE Martadinata dan daratan Pasar Ambon dengan Kota Karang yang saya lewati nampaknya perlu untuk sekali lagi diberi polesan keindahan karena saya melihat di awal Juni ini keadaannya mengiris mata. 

SDM Indonesia masih didominasi oleh orang-orang yang kurang perhatian terhadap sisi-sisi yang menunjang suatu kemajuan negara. Untuk apa ekonomi ditingkatkan maju dan pembangunan digencarkan, tapi dari pembangunan SDM-nya masih jauh tertinggal. Jika generasi muda kita dicerdaskan, disadarkan, dan mampu berpikir idealis, mereka akan menjadi agen perubahan di masa yang akan datang, hadiah terbaik untuk negara dan bangsa ini, tidak hanya mengejar popularitas, kepuasaan fisik, dan kebangaan
.

Comments