Migrasi Menjadi Thinkpadder

Sabtu, 9 Juni 2018, saya membawa netbook ASUS E202SA saya ke sebuah toko komputer, tempat dimana setahun yang lalu, 03 Maret 2017, saya dapatkan dengan harga yang cukup bersahabat bagi saya yang sedang memerlukan pengganti netbook saya yang rusak AXIOO PICO DJV. Sebenarnya saya hanya ingin membeli keyboard netbook ASUS E202SA yang kemudian saya pasang sendiri di rumah. Kebetulan malamnya sudah saya bongkar saat saya bermaksud untuk membersihkan keyboard siapa tahu ada debu atau kotoran yang membuat beberapa tombol keyboard tidak bekerja. Sayangnya aksi itu tidak berhasil membuatnya berfungsi kembali. Akhirnya, saya pun mencari toko komputer yang menjual keyboard ASUS E202SA, karena saya pikir mungkin keyboardnya sudah rusak. Saya senang ketika mengetahui kalau saya bisa mendapatkan keyboard tersebut di toko yang sama saat saya membelinya.


Sumber: Pixabay.com


Maksud ingin memasang sendiri, tapi pemilik toko menawarkan untuk memasangkannya karena tak yakin saya bisa melakukannya. Saya pun tak yakin. Akhirnya netbook itu pun resmi menginap malam itu di toko asalnya. Terbiasa megang netbook setiap waktu, membuat sore itu hingga malam membuat saya seperti mati kutu. Esok harinya saya menanyakan apakah sudah bisa diambil. Ternyata belum. Hingga toko itu libur karena jelang lebaran. Pada hari pertama toko buka kembali, saya menanyakan dan jawabannya masih sama. Akhirnya, saya pun memutuskan untuk mengambil harddisk netbook tersebut jika memang masih belum kunjung selesai. Ternyata apa yang membuat proses itu lama adalah karena masalah suku cadang IC yang belum tersedia dan masih harus menunggu. Jadi bukan karena masalah keyboardnya atau karena teknisinya.

Bulan Juli pun tiba, saya benar-benar tidak sabar karena permasalahan ini membuat saya tidak bisa melakukan apa-apa. Saya memang tidak bisa memaksa, karena itu saya pun memutuskan untuk membawa netbook kembali ke rumah, dan menghentikan usaha perbaikan. Saya hanya tinggal membeli keyboard usb external sebagai pengganti keyboard. Sayangnya, saya harus kembali kecewa sebab IC nya sudah terlanjur di service sehingga netbook saat ini dalam kondisi tidak bisa dihidupkan. Saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, tidak juga teknisinya. Semua ini sudah terjadi. Qadarullah.

04 Juli 2018, berbekal informasi dari situs jual beli cod, saya mendapatkan harga yang bagus untuk anggran saat itu. Laptop Lenovo Thinkpad X230t harganya 3.2 juta. Sebelumnya saya memang sudah tertarik dengan produk laptop Thinkpad yang dikenal memiliki daya tahan yang cukup bagus. Apalagi laptopnya memang berbeda dari yang lain. Produk-produk lawasnya masih banyak dicari orang. Awalnya, 28 Juni 2018, saya sudah menanyakan tentang Thinkpad Yoga 12. Harganya 7.4 juta. Saya sempat bimbang apakah memilih laptop baru dengan spesifikasi rendah atau bekas dengan spesifikasi tinggi. Saya memang mencari laptop yang memiliki prosesor minimal intel i5 dan RAM 8 GB. Kebetulan Yoga 12 memiliki spesifikasi tersebut. Sayang beribu sayang, usaha memboyong Yoga 12 gagal karena anggaran yang tidak bisa dibelokan. Tak ada pilihan lain selain menunggu netbook selesai di-repair.

Apa yang terjadi, terjadilah, di tanggal 4 Juli, ternyata saya diizinkan menggunakan anggaran yang ada, maka saya datang ke toko komputer yang masih berada di area Teluk. Datang bermaksud membawa pulang X230t. X230t memang hanya punya RAM 4 GB saja, tapi ya sudahlah daripada hanya 2 GB, lagian bisa di-upgrade kalau ada budget jadi 8 GB. Ternyata ada laptop yang lebih murah lagi, hanya 3 juta pas. X230. Bedanya kalau X230t itu semacam laptop hybrid yang bisa dijadikan semacam Pad. Layar sentuh yang punya stylus tapi tidak bisa ditouch dengan jari, hanya bisa pake pena stylus. Pikir saya itu bagus buat bisa dipakai menggambar. Namun, saya memikirkan ulang karena faktor harga yang hanya selisih 200 ribu. Kalau ada yang lebih murah, spek sama, kenapa milih yang mahal? untuk urusan fitur saya rasa tidak terlalu perlu dengan layar yang bisa di touch dengan stylus. 

Laptop Lenovo Thinkpad X230 akhirnya saya bawa pulang dan install dengan OS Windows 10 versi 1803 (Windows 10 April 2018 Update). Laptopnya lebih bertenaga daripada ASUS E202SA, layarnya juga lebih lebar karena menggunakan ukuran layar 12 inci. Bagi sebagian orang mungkin masih kurang karena akan jauh lebih baik menggunakan layar yang 14 atau 15 inci. Saya yang terbiasa dengan layar netbook 11.6 inci saat melihat layar 12 inci bagi saya itu sudah cukup besar. Bahan laptopnya bagus, beda dengan bahan-bahan laptop yang pernah saya pegang. Keyboardnya juga bagus, serasa megang keyboard PC. Nyaman buat ngetik, jarak-jarak tombolnya juga pas di jari-jari tangan jadi jarang nyelip. Menurut saya laptop ini sangat-sangat rekomended teruntuk mereka yang memang lebih ke arah mencari laptop dengan kinerja yang baik, tapi bukan untuk main game. 

Hal yang membuat saya senang dari laptop ini adalah karena keyboardnya bisa backlit yang artinya kalau pencahayaan di ruangan kurang kita gak perlu khawatir kalau keyboardnya tidak bisa terlihat sebab keyboardnya bisa mengeluarkan lampu dari celah-celah pinggiran tombol dan juga dari huruf-hurufnya. Keyboard backlit jarang dimiliki laptop kelas entry level atau middle level. Biasanya ada pada laptop keluaran Apple atau laptop-laptop gaming. Padahal keyboard backlit ini penting karena termasuk bagian dari kenyamanan saat mengetik. Bukan Cuma keyboardnya bisa backlit, kita juga bisa pakai opsi menyalakan sebuah cahaya yang berasal dari atas layar dekat dengan webcam, opsi ini namanya Thinklight. Mirip seperti fungsi sebuah lampu meja yang dipakai untuk belajar. Jadi ada opsi menggunakan backlit atau thinklight.

Hal lainnya yang luar biasa adalah dukungan Lenovo untuk penggunanya. Meski X230 adalah laptop keluaran tahun 2012, tapi sampai saat ini semua laptop Thinkpad itu diberi dukungan untuk update driver dan sistem dari si vendornya sehingga dapat mengikuti sistem operasi terbaru saat ini. Belum lagi soal upgrade, laptop ini benar-benar bersahabat untuk bisa diupgrade sehingga meski laptopnya lawas tapi kinerja dan performanya tidak kalah dengan laptop-laptop terbaru. Kita bisa menambah RAM hingga 16 GB untuk X230 dan mengganti HDD dengan jenis SSD. Hal menarik lainnya adalah laptop ini terdapat serial key Windows 7 PRO yang terletak di bagian belakang laptop (copot dulu baterainya) yang bisa kita gunakan juga untuk mengaktivasi Windows 10 sehingga kita tidak perlu menggunakan software seperti Re-Loader Activator atau KMSpico yang biasa dipakai para gretonger mania (pencari gratisan) untuk mengaktivasi Windows. File ISO Windows 10 sendiri bisa kita dapatkan secara legal atau resmi di situs official Microsoft sehingga bukan Windows 10 bajakan atau copy-an.

Sayangnya, laptop X230 yang saya dapatkan ini bukanlah X230 yang dibekali dengan fingerprint atau sensor sidik jari, padahal X230 memang ada yang memiliki fingerprint. Bahkan kalau kita lihat di banyak web yang mereview laptop ini selalu menampilkan Thinkpad X230 yang mempunyai fingerprint. Memang X230 untuk fitur berbeda-beda. Kapasitas baterai yang dimiliki laptop ini 5200 mAh. Prosesor yang digunakan memang masih berakhiran huruf M (3320M) sehingga merupakan prosesor standard pada laptop, jika sudah menyandang akhirnya U (Ultra Low Power) artinya bisa lebih hemat baterai karena bisa menekan TDP hingga 10 watt. Saat dalam kondisi full, indikator baterai menunjukkan 3 sampai 4 jam. Wah, sayang sekali, artinya tidak boleh jauh-jauh dari colokan kalau saat digunakan dalam jangka waktu lama. Laptop ini juga tidak punya usb tipe C sebagaimana laptop atau netbook keluaran terbaru saat ini. Tidak punya CD/DVD ROM. kalau ini bukanlah masalah karena saya sendiri tidak pernah menggunakan CD atau DVD, kalau memang perlu saya bisa menggunakan DVD Portable. Lalu hal lainnya adalah desainnya yang terkesan lawas. Orang lain yang tidak tahu Thinkpad mungkin akan menganggap ini laptop yang sudah tua. Dari segi tampilan kurang modis tapi ya itu tidak penting karena yang terpenting adalah laptop ini bisa menjalankan aplikasi-aplikasi dengan sangat baik dan lancar apalagi jika kita sudah memakai SSD. Bagi pecinta downloader, apalagi kolektor film dan master-master program , ukuran harddisk yang 320 GB itu rasanya kurang besar. Netbook terbaru saja yang harga 3 jutaan sudah memberikan harddisk dengan kapasitas 500 GB. Laptop dengan harga 5 jutaan, harddisknya 1 Tera. Lha ini cuma 320 GB ? tenang, jika dana mencukupi kita bisa menggantinya dengan HDD yang lebih besar.

Laptop ini dipake untuk kerja sangat cocok. Kalau untuk hiburan nampaknya kurang cocok karena layarnya tidak terlalu besar, suaranya juga masih kurang bagus jika hanya mengandalkan suara speaker laptop, tapi harus dengan headset besar baru suara yang dihasilkan lumayan, tidak kalah dengan suara yang dikeluarkan dari netbook ASUS E202SA. Bagaimana kalau untuk main game? Saya sendiri tidak suka main game, tapi laptop ini memang bukan untuk gaming. 

Jika ditanya, apa laptop impian saya? Jawabnya Dell Alienware (Mengapa bukan Apple? Apple mungkin coock untuk kalangan professional yang ingin menaikkan brand di mata klien, selain karena memang cukup nyaman digunakan terutama memanjakan mata, namun saya pribadi lebih memilih produk non Apple), sebenarnya bukan untuk saya pakai main game, meskipun laptop itu termasuk tipe laptop untuk gaming. Justru karena laptop gaming berarti punya kinerja yang sangat baik untuk dipakai membuka aplikasi-aplikasi berat semacam Android Studio, Adobe Premiere. Intinya laptop yang bisa dipakai untuk semua hal tanpa terkendala oleh batasan spesifikasinya. Thinkpad ini mungkin bakal jadi laptop favorit saya terlepas dari segala kekurangannya. Netbook ASUS E202SA adalah netbook yang fun. Sementara netbook AXIOO PICO DJV adalah netbook yang cukup kuat dan punya andil besar (meski RAM 1 GB dan prosesor cuma intel Atom) karena berkat netbook itu saya bisa belajar banyak hal sebelum akhirnya rusak.

Kenapa tidak menggunakan komputer PC saja? Ya mungkin nanti kalau saya sudah menikah, lebih banyak habiskan waktu bekerja di rumah, atau punya camp sendiri. Saat ini saya ingin mobile, lebih ingin bisa bebas lepas dari ketergantungan terhadap tempat, tapi rasanya bakal tidak bisa lepas dari ketergantungan terhadap keberadaan colokan. 

Terpenting saat ini saya sudah punya senjata lagi yaitu sebuah laptop dengan kinerja yang lebih baik terlepas dari apapun kekurangan yang ada. Semoga saja bisa bertahan paling tidak 5 tahun. Aamiin. 

Comments