Menempatkan Entitas Diri pada Kapasitasnya

Keadaan memang tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Dalam dunia realitas, akan banyak hal ketidaksempurnaan yang akan ditemukan, banyak bug-bug dari sistem yang mengaturnya. Kesalahan-kesalahan akan menjadi bahan kritikan bagi kritikus amatir (amatir dalam arti bukan sebuah profesi). Kritikus jika dilihat di KBBI berarti “orang yang ahli dalam memberikan pertimbangan (pembahasan) tentang baik buruknya sesuatu”. Jadi apakah jika kita mengkritik sesuatu maka kita harus benar-benar menjadi seseorang yang ahli sebelum melakukannya? Bisa "ya" dan "harus" jika bidangnya khusus, misal: kritikus film; musik; politik; budaya; ekonomi, maka kita memang harus cukup ahli untuk bisa memandang persoalan dengan baik sehingga kritik menjadi tepat sasaran (meski pada akhirnya akan terjadi perdebatan atau perbedaan pandangan), karena jika hal ini dilakukan oleh yang bukan ahlinya maka kritik akan menjadi "tumpul" karena tidak memahami persoalan (Hal ini bisa terjadi pada siapapun yang tergoda untuk melakukan kritik, termasuk saya sendiri).

Salah satu contoh: jika ada seorang programmer, sebut saja programmer senior yang malang melintang di dunia perkodingan, sudah membuat banyak sistem aplikasi, tentu akan lebih tahu ketika terjadi kesalahan kode dan tahu bagaimana cara untuk memperbaikinya daripada programmer yang baru belajar terlebih lagi orang awam yang buta dengan kode. Akan tetapi, sebagai user yang notabene awam dalam masalah koding bolehkah kita mengkritik hasil pekerjaan programmer tersebut? apakah kita harus menjadi programmer yang lebih ahli untuk bisa mengkritiknya? sebenarnya tergantung pada objek yang kita kritik, tapi sebagai user biasa, tentu saja kita tidak bisa mengkritik kecuali hanya dari segi tampilan  UI pada suatu sistem secara visualnya, dan kita tidak tahu kesalahan teknisnya ada dimana dan tidak tahu pula bagaimana cara memperbaikinya. Sebagian kita hanya hanya melihat, “Oh ini ada yang salah, kok tampilannya jadi seperti ini?”, “Kok, tidak seperti yang saya harapkan? Pasti ada yang gak beres”. Ya begitulah kira-kira reaksi yang muncul ketika dihadapkan pada tampilan yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Tidak mungkin kita hanya diam saja dalam hati, dan pasrah, “Ya sudahlah” tanpa menyampaikan keluhan, hanya karena menganggap diri kita bukan ahlinya yang layak untuk mengeluh.  User hanya melihat tampilan depan yang cakupannya hanya pada apa yang bisa dilihat, hanya itu saja. Sementara programmer, punya akses pada kode programnya (jika ia yang membangunnya atau punya otoritas untuk melihat source code-nya) maka kesalahan visual yang tertangkap itu bisa ditindaklanjuti dengan melihat kode error-nya, dan kemudian berdasarkan kode error itu dia akan mulai memperbaikinya. Cepat lambatnya ia memperbaiki, semua tergantung pada skill-nya ditambah dengan intuisi yang tajam. Dan semua itu tentu berawal dari adanya complain.

Kritikan itu sangat diperlukan. Tapi, tak semua kritikan harus didengarkan tergantung pada siapa yang memberikan kritikan. Dengarkan kritikan yang berbobot, datang dari yang lebih memiliki ilmu (ahli). Sementara kritikan yang datang dari umum, tempatkan hanya sebatas pada pandangan yang bisa saja salah bisa juga benar karena bukankah tak semua pandangan orang itu benar (termasuk pandangan saya)? Ya begitupun dengan kritikan. Hanya orang yang ahli bisa melihat secara khusus bagian yang perlu dikritik dan apakah kritikan itu diperlukan atau tidak. Hanya saja banyak orang yang secara terbuka melakukan kritikan dengan melakukan penyebaran konten dengan tidak benar, yang amat disayangkan itu menjadi bagian dari kampanye untuk memilih pasangan yang diinginkan. Jika kita mendukung salah satu kandidat tidak perlu dengan cara menjatuhkan kandidat lain dengan cara-cara buruk, hal ini justru mengundang sentimen atau antipati orang lain yang justru merugikan kandidat yang kita dukung. Gunakan saja data dan fakta yang ada, tidak perlu ditambah-tambah dengan narasi yang berlebihan. Kita tidak perlu menjadi pembenci atau sentimen pada pihak lain hanya karena kita mendukung pihak tertentu.

Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash

Kita Bergerak Sesuai dengan Kapasitas Kita

Semua orang melakukan apa yang menjadi kapasitasnya. Saya pun hanya menjadi penyimak saja untuk hal-hal di luar bidang saya, karena tak punya kapasitas lebih untuk ikut melakukan sesuatu (meski rasanya gatal  untuk mengkritik atau berkomentar) . Kita bisa melakukan dengan cara yang bisa kita lakukan sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Kita tentu tidak bisa menutup mata dengan apa yang terjadi, tapi biarkan mata dan telinga ikut menangkap permasalahan yang sebenarnya terlebih dahulu sebelum menjudge, setidaknya kita tidak kudet dengan informasi baru dan meminimalisir gagal paham. Sisihkan sebagian waktu kecil untuk menyimak informasi-informasi lain, selebihnya kita punya waktu penting untuk diri kita, keluarga kita, pekerjaan kita, atau hal-hal di sekitar kita yang memang butuh perhatian kita. Jangan sampai perhatian kita lebih terkuras pada satu hal dan celakanya jika hal tersebut bukanlah bagian dari urusan kita.

Semua orang berkarya pada tempatnya. Buzzer-buzzer politik berkarya dengan akun-akunnya yang setiap waktu mengeluarkan konten-konten politik, menyerang kubu lain, atau memuja-muja kubunya. Seorang penulis akan berkarya dengan tulisannya sesuai dengan bidang keahliannya. Seorang ustadz berkarya dengan tausiyahnya, ceramahnya, dan kajian-kajian ilmu agamanya yang sesuai dengan polemik dari dinamika kehidupan saat ini. Seorang motivator berkarya dengan penuh energik menyalurkan pikiran positif dengan kata-katanya. Seorang mahasiswa berkarya dengan studinya, dan turut aktif pada bidang akademisnya. Dan kita yang mungkin seorang partisipan, atau hanya sebagai simpatisan biasa, atau orang pada umumnya, hanya bisa mendukung pilihan pada waktunya, atau jika lebih serius dikit mengikuti semua kegiatan-kegiatannya, ikut menyebarkan konten-konten sebagai follower, atau yang lebih intelek akan sedikit menguraikan pandangan-pandangannya baik dengan video atau tulisan. Ya semua orang berkarya pada tempatnya sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya. Dan apa yang kita kerjakan, sekecil apapun, suatu saat akan dimintai pertanggung jawaban. Jadi, pikirkan apa yang kelak didapat dari ujung jari yang kita gunakan. Apakah untuk kebaikan atau keburukan dan apakah berdampak baik atau sebaliknya. Wallahu a'lam

Hamba yang dhoif, pemilik kesalahan, dan kebenaran hanya milik-Nya..

(Satu entiti akan turut pula mempengaruhi entiti lainnya, meski hanya satu buah kata dan emoticon )

Comments