Cerita Bukan Cerita

Tokoh dalam cerita ini adalah seseorang yang kusebut "aku". Dia adalah keresahan yang hidup di kepalaku. Jadi ceritanya seperti ini..

Sumber gambar: Pixabay

Rasanya sunyi adalah temanku dan aku menyukainya. Bersamanya aku bisa berpikir dan merenungkan kehidupan. Membolak balikkan masa lalu, masa kini, dan harapan-harapan di masa depan. Sunyi memberiku ketenangan menjelajahi semua lanskap pikiran, naik turun. Syarat yang diberikan sunyi padaku adalah keresahan. “Kau harus resah, maka aku akan memberimu pikiran,” katanya. Beda pikiran yang diberinya dengan pikiran yang biasa hadir di kepalaku adalah.. pikiran itu mengajakku menuliskannya.

Menulis sebenarnya susah-susah gampang, bukan hanya memikirkan bagaimana menghasilkan diksi yang tepat untuk mewakili kata-kata yang mengungkapkan keresahan, tapi juga bagaimana menciptakan aliran kata-kata itu sehingga menjadi liukan yang terasa indah. Dibantu jiwa melankolis yang selalu menuangkan warna-warna sendu, diksi yang selalu keluar adalah kata-kata metaforis yang membangkitkan rangsangan pikiran untuk berimajinasi. Sunyi selalu memberikan syarat “keresahan”, karena keresahan itulah yang membuatku membutuhkan sunyi untuk menuangkannya ke dalam kata-kata.

Berpikir dalam kesunyian sebenarnya adalah tindakan pengecut. Jika benar resah membuatmu ingin bersuara. Suarakanlah dengan mata pena dan lidah. Pikiran yang lain datang padaku. Tapi, aku tidak punya tradisi berbicara. Sedari kecil sebelum sekolah, aku suka menikmati saat sendiri untuk membuat coretan-coretan gambar abstrak dalam halaman-halaman buku sekolah kakakku. Buku favoritku saat itu adalah geografi karena ada gambarnya, gambar peta, yang membuatku pada akhirnya hafal nama-nama benua dan posisi mereka, menurutku itu bukan kelebihan hanya kebetulan. Benar, sebenarnya aku tidak pintar, hanya kebetulan tahu karena melihat lebih awal. Benar, belajar yang efektif itu adalah belajar tanpa merasa belajar. Meski kegiatan yang paling aku suka adalah bermain sendiri, aku juga pernah bermain selayaknya anak-anak lain. namun, aku selalu merasa ada saat aku sendiri, hilang saat beramai. Aku tak pernah ingat bagaimana dulu aku bermain dengan teman-temanku yang lain. Berbicara dengan mereka, mengobrol selayaknya anak-anak. Dulu, aku juga seperti anak-anak yang suka bicara, sebelum pada suatu ketika datang satu hari dimana segalanya menjadi berubah. Aku punya rasa malu untuk pertama kali.

...

Comments