Fakir dalam Ilmu-Nya

Hidup tanpa mengenal tuhan berarti hidup tanpa agama. Meyakini adanya tuhan, tapi tidak tahu tuhan yang mana Tuhan yang sebenarnya, adalah pencarian sejati untuk menemukan tujuan tertinggi, yaitu menuju kepada-Nya, kembali kepada Allah.

Photo by Lysander Yuen on Unsplash

Hidup tanpa agama, adalah kehidupan yang hambar. Tanpa arti. Jika yang dikejar adalah kesenangan, sama saja menuhankan hawa nafsu. Bila hawa nafsu yang selalu dituruti, maka berharaplah binasa, karena nafsu akan selalu membuat kita melakukan kerusakan demi kerusakan hingga jatuh dalam lubang tergelap. Neraka. Itu jauh lebih buruk daripada sekedar binasa.

Alhamdulillah, saya seorang muslim, keturunan dari keluarga muslim (bukan bermaksud merendahkan pemeluk agama lain, tapi saya bersyukur terlahir dalam agama yang saya anut saat ini karena bisa menikmati kenikmatan yang Allah berikan, yakni nikmat memeluk Islam). Saya tidak pernah repot-repot mencari Tuhan dan agama. Keluarga telah memberikannya secara cuma-cuma. Apakah dengan demikian, pencarian kebenaran telah terhenti? Meski kebenaran itu telah final, akan tetapi ia akan selalu diselimuti oleh kesalahan yang samar, kesesatan yang halus, dan kesyirikan yang tersembunyi. Sekalipun kita sudah muslim, pencarian hidayah untuk tetap mempertahankan keimanan, menambah keimanan, dan memperbaiki amal jangan pernah usai. Jangan berhenti belajar, sebab pengajaran dan pengetahuan dalam agama yang kita terima, itulah hidayah bagi kita.

Meski bisa dibilang bukan muslim yang kaffah, faqih, dan ‘alim. Bahkan sempat merasa seperti variable tanpa definisi. Seperti kertas buram yang lembarannya masih kosong, tak berisi ilmu, tak berisi banyak amal, bahkan manfaat-manfaat untuk umat, atau pun untuk bangsa, negara, dan agama, terlebih untuk diri sendiri. Hanya kertas buram yang lusuh. Namun, saya berpikir bahwa bukan berarti kita tidak bisa melakukan sesuatu. Apa yang bisa kita lakukan dengan apa yang kita miliki saat ini, itulah hal berharga yang bisa kita berikan. Lakukan saja sesuai porsi yang tersedia untuk kita, kapasitas diri masing-masing. Menyadari kefakiran ilmu, membuat saya tak ingin menghakimi orang lain (jika pernah saya lakukan mungkin itu tidak saya sadari). Terkadang saya ingin beretorika, tapi retorika tanpa akademisi yang kuat, hasilnya mentah. Rasanya cukup saya ingin menjadi penyimak dan pendengar. Mata yang melihat tanpa bertindak. Mendengar tanpa menyambut balas. Silent reader tanpa komentar. Namun, hari ini saya memberanikan diri menulis beberapa baris kata.

Kemampuan dan pengetahuan sesungguhnya adalah yang bisa memberikan manfaat kepada orang banyak khususnya Agama. Dasar dari ilmu bagi Muslim adalah ilmu Al-Qur’an, sebelum melangkah ke ilmu-ilmu lain. Bicara tentang agama, sebenarnya saya tidak layak. Saya tidak punya background dalam agama. Saya tidak lahir dalam rahim pesantren atau tempat bersemayamnya ilmu. Saya hanya selintas: masuk dan keluar. Pernah melewati, dan cepat berlalu. Saya lahir dalam keluarga dengan kultur keagamaan NU. Saya memiliki faham moderat, berada dipertengahan. Tidak keras dalam pemahaman, namun berusaha untuk tidak terlalu jauh hingga menyebabkan kemunafikan. Ilmu saya ringan, jika jatuh maka saya akan mengambang, terhanyut, dan hilang. Tradisi saya sejak kecil hanyalah pernah membaca, tanpa pernah mengalami. Pernah mendawamkan, tapi pernah juga futur. Agama tak cukup dirasa, tak cukup dipikir, atau sekedar teori-teori tanpa amal. Ilmu agama harus benar-benar memiliki akarnya. Tanpa akar, pohon bisa tumbang oleh angin kencang. Tanpa basik ilmu, kita hanya akan dipermainkan oleh angin-angin pemikiran yang tajam menusuk, lalu lalang. Apalagi di era perang pemikiran. Labil dikit, tumbang.

Saat ini, saya hanya akan berdiri sebagai simpatisan. Saya tidak bisa melakukan hal lebih karena saya seorang fakir ilmu. Bukan berarti saya akan meninggalkan barisan lalu pulang ke rumah, tidur nyenyak sampai kematian datang menjemput. Saya hanya ingin fokus dalam satu hal yang bisa saya lakukan. Kemudian, saya belajar hal lain. Belajar agama adalah suatu hal yang wajib. Belajar agama tanpa memiliki batasan dalam usia. Belajar agama itu sampai liang lahat. Namun, di usia saat ini, tidak bisa disamakan dengan mereka yang masih berusia sebagai pembelajar. Usia anak-anak dan remaja. Mereka butuh belajar dan waktu mereka adalah waktu belajar. Sementara kita di usia yang tak lagi muda (usia saya sendiri hampir mendekati tiga dekade), waktu kita adalah waktu untuk memproduksi karya. Memproduksi amal. Memproduksi manfaat. Memproduksikan diri untuk keluarga kecil (untuk mereka yang sudah memiliki pasangan dan mungkin sudah dikaruniai anak). Memproduksi generasi. Jihadnya anak-anak dan pemuda adalah belajar. Meraih ilmu. Sementara kita yang sudah dewasa, sudah tua, jihad kita adalah bekerja, jihad kita adalah mendidik. Mereka yang di usia yang sama dengan kita, kurang atau lebih, namun punya ilmu dan kemampuan, merekalah penggerak lokomotif umat. Jihad dan tanggung jawab mereka lebih besar. Menjaga dan membawa umat ini menuju cita-cita bersama yang akan membawa kebaikan bagi umat dan seluruh bangsa. Kita yang fakir ilmu, mungkin hanya bisa duduk manis menjadi penumpang yang baik dalam suatu gerbong yang ditarik oleh lokomotif.

Terkadang saya berpikir untuk menulis hal yang ringan-ringan saja (jika memang harus menulis), tapi hal yang ringan itu juga memerlukan pikiran yang ringan jauh dari kerumitan dan hati yang tenang dari berbagai alunan rasa yang seringkali menghujam. Saya bisa menulis lagi kali ini karena ada keresahan. Bukan berarti kemarin-kemarin tanpa keresahan, tapi keresahan yang saya rasakan kali ini adalah keresahan yang tanpa kehilangan kata, tanpa kehilangan sesuatu dalam menulis, "ruh" yang menggerakkan mata pena.

Saya merasa bukan penulis yang baik, bukan content creator, bukan content writter, bukan pula blogger, bukan programmer, bukan coder, bukan ahlul ilmi. Di hadapan Allah, saya adalah hamba-Nya (hamba yang masih belum bisa dibanggakan-Nya). Di hadapan orang tua, saya adalah anaknya (anak yang masih belum punya banyak bakti). Dalam keluarga, saya adalah saudaranya (saudara yang masih belum banyak membantu). Orang yang mengenal saya, saya adalah temannya (teman yang tak banyak berinteraksi). Orang yang mengenal saya sebatas nama dan gambar profil di media sosial, saya hanyalah sebuah nama akun yang pasif. Di Internet, saya hanya sebuah laman blog. Di hadapan muslimin, saya adalah saudara seiman mereka. Di hadapan seluruh manusia, saya adalah saudara manusiaanya yang tinggal di Indonesia. Bagi isteri saya, saya adalah jodohnya yang belum dipertemukannya (karena perjalanan untuk memantaskan diri masih dilalui dan buah tak akan jatuh sebelum ranum, atau kamu memetiknya selagi hijau dan menunggunya hingga matang).

Kembali pada awal paragraf..

Saya pikir, Tuhan bukanlah sebatas identitas seperti sebuah gelar yang disandang. Yang bergelar Tuhan itu ada banyak. Jika hanya ingin sekedar mencari Tuhan, Tuhan ada di semua ajaran agama dan di semua bentuk keyakinan dengan berbagai rupa dan nama. Jika menganggap semua agama itu sama. Pilih saja agama yang tak memberatkan umatnya. Cukup beribadah sepekan sekali, yang harinya menjadi hari libur. Cukup yakin pada ajarannya, sudah menjaminmu masuk ke Surganya. Pilih saja agama yang kamu suka, toh sama saja bukan? Kalau menganggap "semua agama itu sama".

Namun, jika kamu punya pikiran: "Saya hanya ingin bertuhan pada Tuhan yang telah menciptakan alam semesta dan diri saya sendiri sebagai hasil kreasi-Nya". Jika demikian yang kamu cari, saya ingin memberi kamu satu nama: Allah Subhana wa Ta'ala (Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi).

Allah. Dia bukan makhluk, dan tak pernah menjadi makhluk. Allah itu satu. Meniadakan tuhan-tuhan lain selain-Nya. Allah sebagai Tuhan mungkin terdengar sebagai dogma, maka kenalilah Dia tak sebatas dogma, tak sebatas mengenal nama-Nya, atau hanya cukup tahu bahwa Dialah Tuhan kita. Mengenal ajaaran-Nya: Islam, adalah langkah untuk mengenal Allah. Mempelajari risalah-Nya, adalah perjalanan mendekat kepada-Nya. Merasakan dekat dengan-Nya, itulah buah keimanan dari ilmu yang ingin kita petik. Dekat dengan-Nya, melahirkan ketakutan dan harapan. Allah yang tak berjejak di bumi, selain firman-Nya dalam Al-Qur’an. Jejak-jejak ilmu-Nya dan hikmah-Nya bertaburan di langit dan bumi. Namun, meski Allah itu Tuhan alam semesta, Dia melarang kita untuk memaki dan menghina tuhan-tuhan lain yang disembah oleh umat lain, karena umat tersebut akan membalas makian kita dengan memaki Tuhan yang kita sembah: Allah SWT, dan itu adalah perkara yang besar yang tidak mereka ketahui.

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan” (QS. Al An’am: 108).

Dan terakhir..

Mengapa kita harus mengenal Allah? Saya kira karena kita adalah makhluk-Nya yang perlu mengenal siapa yang telah menciptakan kita agar kita tahu tujuan apa kita diciptakan, dan akan kemana selanjutnya perjalanan kehidupan kita setelah kematian di dunia ini. Apa yang Allah ajarkan pada kita adalah hal yang pasti akan membuat hidup kita menjadi lebih berarti, bernilai, berharga, dan mengoptimalkan fungsi dan peran kita dalam kehidupan saat ini yang sedang kita jalani.

Wallahu a’lamu bish-shawab

Komentar