Partisi Baru untuk Ubuntu 18.10 Cosmic Cuttlefish

Thinkpad x230 saya terinstal OS Windows 10 October 2018 update yang terinstall di sistem C dengan ukuran partisi 123 GB. Saya sengaja memberikan ruang luas untuk partisi C agar bisa menampung banyak program instalasi terutama untuk kebutuhan programming yang semakin lama tentu akan semakin memakan spasi ruang penyimpanan. Saya juga memiliki partisi lain yaitu partisi D untuk menampung data-data saya dimana besar partisinya adalah sisa ruang setelah dikurangi partisi C sehingga saya tidak memiliki partisi lain yang bisa saya gunakan. Ada dua partisi lain sebenarnya hanya terhidden karena digunakan oleh sistem, yaitu System Reserved dengan besar 549 MB dan Recovery Partition 842 MB.



Awalnya partisi C dan D adalah Primary partition bersama dengan dua partisi lain yang digunakan oleh sistem, sehingga ketika saya mencoba untuk memecah partisi D menggunakan EASUS menjadi dua dengan mengambil kurang lebih 100 GB yang saya sediakan untuk Ubuntu dan akhirnya berhasil terbentuk namun ruang kosong dengan keterangan Unallocated itu gagal di-create partition yang disebabkan karena partisi D yang merupakan asal dari ruang yang ingin di-create itu memiliki tipe Primary. Total harddisk saya punya empat primary, hal yang membuat saya tidak bisa membuat partisi baru karena hasil dari pembuatan partisi baru dari partisi primary dalah partisi primary. Jumlah partisi primary maksimal hanya empat, lebih dari itu maka sistem akan menolak saat pembuatan partisi baru dari partisi primary. Solusi satu-satunya adalah mengubah partisi D menjadi logical partition.

Saya menggunakan EASUS untuk mengkonversi primary partition ke logical partition. Awalnya saya takut jika tindakan konversi ini bakal menghilangkan data-data di partisi D, hal yang pernah saya alami sewaktu saya mencoba mengubah tipe Harddisk dari GPT ke MBR yang menyebabkan satu harddisk saya bersih seketika. Namun, setelah saya baca sekali lagi bahwa konversi ini tidak akan sampai menghapus data, akhirnya saya lakukan. Berhasil? Alhamdulillah. Setelah sukses mengubah primary ke logical, selanjutnya saya bisa membuat partisi baru dengan besar kurang lebih 97 GB lebih. Partisi inilah yang saya pakai untuk instalasi Ubuntu.

Ubuntu yang akan saya instal adalah versi 18.10 dengan codename Cosmic Cuttlefish. Versi ini merupakan versi terbaru setelah pada 26 April kemarin, Ubuntu mengeluarkan versi LTS-nya yaitu 18.04 (Bionic Beaver). Saya sendiri sudah pernah menginstalnya di ASUS E202SA yang saya dapatkan dengan cara upgrade dari Ubuntu 17.10. menginstal Ubuntu 18.10 akan menjadi pengalaman menginstal pertama di Thinkpad X230 sekaligus dual boot pertama di laptop lawas ini. Akankah berhasil?

ISO Ubuntu 18.10 sebesar 1.86 GB saya dapatkan dari situs official Ubuntu (kamu juga bisa dapatkan melalui link download langsung berikut http://ubuntu.biz.net.id/18.10/ubuntu-18.10-desktop-amd64.iso) . Setelah berhasil di unduh, klik kanan pilih Mount. Akan muncul drive baru dengan simbol DVD Drive, isinya adalah file dan folder OS Ubuntu. Salin semua masukkan ke dalam flashdisk. Flashdisk yang saya gunakan adalah Sandisk dengan besar 8 GB. Tutorial penginstalan Ubuntu saya menggunakan cara dari Winpoin (https://winpoin.com/cara-dual-boot-ubuntu-16-04-lts-dan-windows-10-full-tutorial/). Cara ini membuat boot manager kedua sistem operasi terpisah dengan boot manager Windows sebagai default, sehingga jika salah satu OS Windows atau Ubuntu bermasalah maka (insya Allah) tidak akan menyebabkan boot manager mengalami crash sehingga menjadi gagal booting (hal yang menjadi momok jika melakukan dual boot).

Tujuan saya menginstal Ubuntu (disamping memang merupakan agenda yang sudah saya rencanakan namun tak kunjung saya eksekusi) adalah agar saya bisa belajar Ruby On Rails (ROR). Bukan berarti menginstal ROR di Windows tidak bisa, namun ROR akan jauh lebih efektif jika memakai OS Linux atau MAC OS. Selain itu, melakukan programming dengan Linux jauh lebih menyenangkan ketimbang Windows tapi tentu kita masih butuh Windows untuk jenis bahasa pemrograman tertentu.

Bicara tentang tampilan Ubuntu baru ini benar-benar fresh karena sangat berbeda. Namun, jika menjalankan video berformat mp4, aplikasi bawaannya tidak mendukung, jadi saya instal aplikasi VLC Player. Mungkin itu saja yang bisa saya tuliskan untuk kali ini.

Comments