Menulis dan Perubahan

Sudah lama saya tidak menulis di blog ini. Menulis memang bukan kegiatan utama saya, karena saya memang bukan penulis dalam arti profesi. Saya juga bukan publik figur, jadi tak ada pentingnya jika blog ini update atau tidak dengan postingan terbaru. Saya tinggalkan selama setahun, dua tahun, atau tiga tahun pun tidak masalah. Hanya saja, kesalahan saya adalah memberikan domian .id pada blog ini sehingga rasanya mubazir jika tidak saya update. Saya bukan orang penting yang kabarnya senantiasa ditunggu, saya orang biasa yang gampang sekali untuk menghilang, dan cita-cita saya memang untuk menghilang. Bukan untuk dikenal.



Menulis bagi saya adalah dokumentasi, sebuah perjalanan waktu. Ada pikiran di dalamnya, dan saya ingin mengenangnya suatu kali saat saya tiba-tiba kehilangan spirit, membaca kembali apa yang pernah saya tulis, itu membuat saya kembali pada susunan pikiran yang dahulu pernah saya susun.

Menulis, saya lakukan secara spontanitas, rasanya seperti curhat, tapi saya mencoba untuk tidak baper, atau menggunakan perasaan. Perasaan memang bisa memberikan tenaga, menambah liukan kata, ada nada yang terbaca. Bisa membusakan kalimat. Namun, 19 hari terakhir ini saya kehilangan nafas untuk menggerakan roda pikiran agar memproduksi kata. Kata itu saya ubah menjadi doa bersama dengan para pendoa-pendoa lain. Doa untuk duka Selat Sunda. Semoga tak ada lagi musibah yang serupa tahun ini dan tahun-tahun mendatang di pesisir Selat Sunda setidaknya satu abad ini.

Saat saya kehilangan kata, dan tidak punya spirit untuk menguraikan isi kepala. Saya mencoba melihat sesuatu yang berbeda, mencari inspirasi. Melihat vlog orang naik gunung, bersepeda, atau mendengarkan debat politikus muda. Meski saya introvert dan mungkin nerd, ada jiwa lain yang mengajak saya berpetualang di alam bebas, atau menyusuri suatu wilayah ala-ala backpacker, namun tentu saja itu hanya ada di dalam kepala saya. Saya bukan seorang eksekutor dan pemberani tulen untuk melakukan hal-hal di luar dari kebiasaan yang sudah mendarah daging.

Penulis itu bukan penakut. Jika kamu takut, kamu tidak akan bisa menulis, bahkan saat kamu mencoba menulis komentar pun pasti kamu akan berpikir beribu kali sebelum mengklik “kirim”. Alasannya, kamu tidak punya integritas untuk menjadi dirimu sendiri. Kapasitas diri saya memang bukan seorang yang nyaman dengan konflik secara frontal. Saya adalah seorang yang lebih nyaman dan suka bermain di belakang layar. Tidak bertemu dengan siapapun. Kalau seperti ini jelas kamu tidak akan bisa menjadi penulis. Maka, saya memang tidak mau menjadi penulis. Menulis hanyalah kenikmatan lain, seperti menghirup kopi panas di sore hari yang dingin.

Saya pernah menjadi seorang programmer freelancer, yang saya hanya sebut diri saya sebagai coder, bukan programmer, karena kata “programmer” itu mengundang tanggung jawab moral. Cukup coder saja, bermain-main dengan bahasa pemrograman tertentu. Saat menjadi programmer, kamu harus menggunakan logika kamu dengan bagus, dan kamu harus menggunakan pikiran linier agar algoritmamu berjalan. Saat itu, saya yang terbiasa berpikir abstrak dan berpikir lateral, menjadi terkurung oleh pikiran linier. Saya pun menyurutkan diri. Meski ada kemungkinan untuk kembali, namun bisa jadi tidak kembali, cukup menjadi coder biasa saja, yang sampai hari ini pun masih belum juga ngoding. Kemampuan coding saya mungkin sudah sebagian lenyap, sebab menjadi coder adalah menjadi pembelajar terus menerus. Mengandalkan skill tidak cukup, kamu harus selalu update dengan skill tersebut. Jika kamu tidak ngoding selama seminggu saja, mungkin ada beberapa hal yang terlupa, jika sudah setengah tahun tidak lagi ngoding, maka kamu sudah jauh sekali ketinggalan. Maka jika kamu kembali ngoding, kamu harus kembali lagi dari awal.

Menulis tidak mudah, jika kita tidak banyak memiliki input: seperti pengalaman baru, bertemu dengan orang-orang baru yang menginspirasi, membaca banyak buku, travelling ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi untuk membuka ruang cakrawala baru, dan lain-lain. Tempat sama tidak akan menghasilkan sesuatu yang baru. Bahkan, jika terus menerus tanpa ada sirkulasi dalam periode tertentu, pikiran kita akan terblok, mandek, buntu, atau bahasa hatinya: “hampa”, akibatnya adalah degradasi diri, dan kemandulan berproduksi, kreatifitas mati, dan akhirnya menjadi tidak berguna. Menulis membutuhkan kreatifitas, imajinasi, bisa memainkan kata (meletakkan kosakata pada tempatnya), dan pengetahuan itu sendiri yang bisa didapat dari mana saja sebagai sumber informasi.

Tidak sembarang orang tentu bisa menjadi penulis yang benar-benar bagus. Perlu latihan terus menerus, menulis, menulis, dan menulis. Kalau menulis sekedar menulis, kita semua bisa melakukannya dengan mudah. Namun, menulis untuk tujuan tertentu itu sulit, terutama mereka yang tidak punya kepercayaan diri menjadi dirinya sendiri. Mereka yang tidak ingin tampil, tapi lebih senang menyendiri. Menjadi nerd sejati.

Hijrah, adalah satu-satunya solusi untuk perubahan menyeluruh. Hijrah bukan hanya sebatas mengubah casing menjadi lebih agamis, tapi ada akhlak yang berubah, ada adab yang berubah, disamping taat pada agama dan menjauhi apa yang dilarang agama secara totalitas. Hijrah mungkin lebih mudah dilakukan jika kita bisa mengubah ruang dan juga komunitas. Dari hal tidak baik menjadi baik.

Perubahan itu memang butuh pengorbanan, ada bagian dari mentalitas yang harus dibuang. Siapa yang bisa membuangnya? Orang itu sendiri. Pada saatnya, jika seseorang itu akan mendekati kebaikan, maka ada gaya yang menarik dia untuk semakin mendekat jika dia tidak menolak. Jika dia menolak dan dipaksa mendekat, gaya tolakannya akan menjadi lebih besar. Dia akan jauh, semakin jauh. Maka, kesadaran itu tidak bisa dipaksakan. Kesadaran akan muncul dengan sendirinya, dan biarkan kesadaran itu tumbuh dan tumbuh secara alami. Saat jiwa membutuhkannya, saat itu juga dia akan berubah.

Comments