Moral dan Amoral: Catatan Keresahan dari Perasaan Marjinal

Dunia ini luas. Masing-masing tempat menyimpan cerita. Cerita yang bisa disimak dengan mata dan telinga, sebelum akhirnya turun ke hati untuk dirasakan, dan naik ke atas, ke dalam kepala untuk dipikirkan.

pexels.com/@sarojgajurel7

Manusia dengan segala dinamika hidupnya, dengan segala pahat rupanya, dan apa yang mereka bungkuskan pada dirinya dengan segala aksesorisnya, telah membuat mereka berkelas-kelas dalam dunia fisik.

Fisik adalah kurungan jiwa. Fisiklah yang membuat kita berada, bertempat, dan akhirnya berwaktu. Sangatlah rendah, bila dibanding dengan sang jiwa, yang ada di dalamnya, meski tak bisa dipungkiri bahwa keadaan jiwa itu turut dipengaruhi oleh raga yang menjadi tempatnya untuk merasakan kehidupan dunia yang sebagian besar dihabiskan dalam dunia fisik.

Fisik adalah tingkatan paling rendah dalam kehidupan. Menyibukkan diri pada perkara fisikli adalah sesuatu yang tak mungkin dilakukan oleh mereka yang tenggelam dalam pencarian nilai. Maka, bagi mereka rutinitas kehidupan dunia untuk memenuhi kebutuhan biologis hanya ala kadarnya saja, bukan untuk dikejar.

Sebagian mereka menginginkan menjadi universal, berbaur dengan alam, menjadi alami, tak mencari perhatian manusia. Mereka pergi ke tempat-tempat sepi, ke hutan belantara, ke tengah samudera, ke puncak gunung, ke dalam gua, hanya untuk beruzlah, mengasingkan diri dari hiruk pikuk manusia. Sebagian lagi, mereka beramai berbaur dengan manusia lain, tapi melakukan uzlah qalbu, mengasingkan hatinya dari hiruk pikuk dunia.

Level mereka jelas bukan level kita sebagai orang awam. Namun, dari hal ini, kita bisa ambil pelajaran mengapa semakin orang terpaut pada harta, pada tahta, pada kedigdayaan dunia, mereka akan semakin bodoh secara spiritual dan intelektual. Bahkan, semakin tinggi intelek seseorang, maka orang itu akan semakin mengerti akan moralitas, dan bisa memahami esensi spiritualitas. Kata lain, semakin manusia menaruh perhatian pada hal-hal fisik, ia akan semakin bodoh secara metafisik. Semakin tinggi kesadaran akan kehidupan, maka ia akan semakin alami, semakin minimalis, dan semakin substansial.

Maka jika hari ini, di sekitar kita, orang lebih sibuk menilai “cover” buku dari pada “isi” buku, senang menjudge orang lain tanpa mengetahui penderitaan orang lain, lenyapnya rasa malu tatkala melakukan kesalahan, tak mengenal rasa sungkan saat bicara soal privasi di ruang publik, kemungkinan tingkat intelektualitas mereka itu 0. Ini bukan salah mereka sebenarnya, tapi ini adalah merupakan ekosistem kita yang sudah berakar entah bermula dari mana. Dan pendidikan sampai saat ini belum mampu mengubah itu semua. Budaya hidup kita sehari-hari tidak bisa menolerir setiap anomali, karena kita jarang sekali berpikir seribu kali sebelum mengeluarkan satu kata saja, soalnya kita sebagai Orang Timur memang lebih banyak menggunakan sisi emosionalitas daripada rasionalitas. Kita benar-benar berbahaya. Kita tidak menggunakan rasionalitas yang baik saat menyerap budaya barat (tidak menyerap budaya berpikir rasional), sementara emosionalitas kita yang berdasarkan pada norma itu semakin dibuat liar karena kita sudah tidak lagi memperhatikan norma (kehilangan pijakan emosional). Akibatnya adalah kekacauan sosial, setengah bermoral dan setengah amoral.

"Jangan tanyakan pada siapa pun apakah dunia ini sedang baik atau buruk, selain pada mereka yang disakiti oleh mereka yang menganggap dunia ini baik-baik saja, sehingga mereka pun menyakiti yang lain dengan rasa sakit yang sama"

Comments