Pembantai Massal itu Bernama Jalan Raya

Jalan raya adalah mesin pembunuh terutama di Indonesia. Setiap satu jam disinyalir terdapat 3-4 korban (data lain mengatakan 2-3 korban) yang mati syahid (insya Allah) ‘di atas aspal’. Jika dihitung per hari, per bulan, dan per tahun bayangkan sudah berapa banyak warga Indonesia yang darahnya tumpah di jalan raya, badannya tergeletak tak bernyawa. Angkanya sudah puluhan ribu. Sudah berapa banyak anak yang menjadi yatim dan wanita yang menjanda, jika yang mati adalah seorang bapak dan suami tulang punggung ekonomi keluarga.

kecelakaan lalu lintas
Sumber: pexels.com/@rawpixel


Dari dulu sekali, jalan raya bagi saya adalah momok menakutkan. “Hati-hati nak kalau menyeberang, lihat kanan kiri”, orang tua akan selalu berkata demikian. Belum lagi dulu, jika melihat ada orang yang mengalami kecelakaan, atau mendengar cerita orang-orang mengenai tewasnya seorang anak yang terlindas truk fuso, dibuktikan dengan bekas-bekasnya yang telah ditaburi pasir, merinding rasanya. Ditambah, saya pernah mengalami sendiri bagaimana rasanya terlibat dalam kecelakaan lalu lintas sebagai penumpang ojek pangkalan (karena dulu belum ada ojek online). Saat itu pulang sekolah, saya dan teman membonceng satu motor dengan seragam putih biru, tas di pungung, terpental ke belakang gegara motor bebek yang saya tumpangi harus beradu kepala dengan motor besar di pertigaan jalan.

Pertemuan antara jalan dari arah Pasar Cimeng, Talang, dan Kuripan. Akibat dari tabrakan tersebut tukang ojek tak sadarkan diri dan harus digotong oleh warga. Entah bagaimana nasibnya. Saya sendiri dan teman, Alhamdulillah selamat. Saya hanya mengalami luka lecet segores di siku. Kami langsung dipulangkan oleh seorang warga dengan naik motor. Apakah saya trauma? Tidak, karena pada saat itu saya selamat. Bagamana jika mengalami luka parah? Bagaimana pada saat saya terpental kemudian ada mobil yang melindas tubuh saya? Bagaimana kalau saat terpental, kepala saya yang dulu mendarat di aspal? Bagaimana bla.. bla.. bla.. dan seterusnya.

Kemungkina terburuk, nyawa saya hilang saat itu juga tertinggal nama terpahat di batu nisan di atas raga yang terkubur berbalut kafan. Kemungkinan terbaik dari terburuknya adalah saya tidur nyenyak laksana bayi di lubang kubur tanpa ada dosa sebab saat itu saya belum baligh. Namun, Allah mengizinkan saya tinggal lama di dunia lebih lama dari itu hingga di usia berkepala tiga untuk mengumpulkan perbekalan akhirat, tapi sayangnya bukan hanya bekal akhirat yang saya kumpulkan (itu pun jika tidak mengalir keluar sia-sia karena “ransel” amal saya jebol) tapi juga tiket ke Neraka pun ikut tertabung sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.

Berbekal rasa horror yang saya dengar dan lihat di jalan raya, membuat saya miris terhadap kondisi perlalu lintasan. Kecelakaan memang tidak bisa terhindarkan jika sudah takdir. Namun, apakah takdir yang selalu dikambinghitamkan jika sudah banyak korban berjatuhan? Apa yang sudah dilakukan pemerintah untuk mengurangi angka kecelakaan lalu lintas? Jika masalahnya adalah mentalitas warga dalam mengemudikan kendaraan yang harus dibenahi, sudah seharusnya dari dulu pendidikan mental seperti nilai-nilai budaya seperti tertib, on time, mengutamakan keselamatan kolektif daripada kepentingan pribadi, tidak grasa grusu di jalan raya, sabar, dan jujur ditanamkan. Apakah kita sudah melihat seperti itu?

Sarana jalan masih banyak yang belum ideal, berlubang, tidak mulus menyumbang ketidaknyaman disamping ancaman kecelakaan. Jika sarana sudah bagus pun tidak menjamin keselamatan 100% selama mental pengguna jalan masih belum memiliki kesadaran akan keselamatan dan berbagai faktor x tak terduga yang tidak diantisipasi. Keselamatan penuh memang tidak bisa dijamin meski semua faktor keselamatan dan keamanan terpenuhi. Selama pengemudinya adalah manusia pasti akan selalu ada human error. Jika begitu, sama saja toh? Kecelakaan pasti akan selalu terjadi.

Tentu tidak sama. Ada perbedaannya, yakni kuantitas angka kecelakaan, kualitas luka yang dihasilkan, dan situasinya masih bisa diperhitungkan termasuk nyawa yang tidak seharusnya tercabut di jalan raya. Jika tertib berlalu lintas, sangat kecil sekali kemungkinan terjadinya kecelakaan. Buktinya saja dengan kurang tertibnya lalu lintas saat ini jarang sekali kita saksikan kecelakaan dengan mata kepala sendiri di jalan yang kita lalui. Bagaimana jika seandainya tertib? Boleh jadi nihil. Mungkin seminggu tiga kali, atau seminggu sekali, atau bahkan sebulan hanya sekali itu pun hanya luka ringan.

Masyarakat kita memang sedang mengalami degradasi yang sangat parah, tidak hanya kita temui dari etika pengemudi di jalan raya. Kita memang tidak sedang menghakimi moral masyarakat (sebab moralitas kita juga belum tentu sempurna) yang mengalami downgrade secara perlahan akibat sistem yang mengarah ke liberal yang bablas, tapi yang sedang kita hakimi adalah sistem. Kita menginginkan perubahan menyeluruh di dalam sistem sehingga sistem itu akan merevolusi seluruh sendi-sendi kehidupan di dalamnya secara sistematis. Kita perlu orang-orang yang berintegritas tinggi untuk menjalankan sistem tersebut. Karena apa artinya sistem yang baik tanpa orang-orang baik. Sistem yang baik pun akan rusak bila dipegang oleh orang-orang yang tidak baik, meski pun secara ideal sistem yang baik bisa mencegah orang tidak baik untuk masuk.

Pembangunan yang paling hakiki adalah pembangunan manusia, karena dari mereka akan muncul pembangunan-pembangunan lain berikutnya. Masalahnya jika manusia dibangun dengan tidak utuh, apa yang dibangunnya belum tentu bermanfaat. Persoalan kita adalah manusia. Jika mayoritas manusia itu baik hasil dari produk pendidikan yang baik, maka baiklah bangsanya, majulah negaranya. Jika sebaliknya, apa yang dibangun akan rusak, dan akan merusak manusianya perlahan demi perlahan.

Kesadaran manusia akan ajaran agama yang semakin bertumbuh baik, lambat laun akan menghasilkan manusia-manusia yang taat pada aturan hukum demi kebaikan bersama. Hal ini akan menciptakan keamanan dan kedamaian. Hanya dalam pendidikan yang komprehensif yang memenuhi semu aspek pendidikan, menghasilkan manusia-manusia yang baik. Jika dalam budaya tanpa mengenal agama saja masyarakat bisa hidup tertib, teratur, bersih, dan etos kerja tinggi seperti ada di hampir negara-negara maju yang mempunyai masyarakat yang berkualitas, bagaimana jika ditambah dengan agama? Sempurnalah hidup mereka.

Tak perlu menjadi orang baik untuk membuat sistem yang mampu menciptakan keteraturan, tapi di tangan orang baik lah sistem itu akan dibuat tak hanya sekedar menghasilkan keteraturan, tapi juga berkeadilan, yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dari segala sudutnya termasuk kebutuhan akan keselamatan dalam berlalu lintas.

Sistem yang baik ini akan menciptakan sekumpulan orang-orang baik, dari merekalah kecelakaan lalu lintas diperkecil bahkan dinihilkan jika perlu, karena konsepnya adalah keselamatan bersama.

Semoga Indonesia segera mengatasi sang "pembantaian massal" ini agar masyarakat bisa melakukan perjalanan dengan aman, nyaman, dan selamat sampai tujuan. Aamiin.

Comments