Pertengkaran dan Politik

Pertengkaran dalam pembicaraan bukan hal tabu meski tidak baik secara norma. Pertengkaran itu terjadi karena ada perbedaan perspektif. Sah-sah saja. Asal tidak sampai kehilangan pikiran, karena jika itu terjadi maka kepala akan cepat panas, hilang kontrol, dan akhirnya mudah meluapkan emosi di dada, terbakar oleh api permusuhan. Pertengkaran yang menjadi permusuhan, itulah yang harus dihindari. Debat bukan untuk menciptakan permusuhan. Debat bukan untuk semata “Saya benar, Kamu salah”, tapi sama-sama mencari kebenaran yang sesungguhnya: kebenaran objektif.



Pertengkaran acapkali dalam benak kita adalah sesuatu yang tidak baik. Padahal yang membuatnya menjadi tidak baik adalah karena kita belum sampai pada tingkatan kesadaran moral yang tinggi sehingga saat terjadi pertengkaran alot ujungnya baku hantam. Tak aneh, jika ada anggota dewan bertengkar dalam sidang kemudian dilanjutkan dengan adu pukul disebut seperti “Anak TK”, sebabnya sebagaimana anak TK, mereka belum mempunyai kendali atas emosional mereka sendiri. Seringkali juga, keluar nama-nama hewan saat terjadi pertengkaran untuk menohok lawan bicara. Mereka yang terprovokasi akan kehilangan pikirannya diambil alih oleh sifat primitifnya: mempertahankan diri dengan cara melenyapkan sumber ancamannya. Merasa terusik mereka pun menyerang. Jika fisik mereka sudah menyerang, artinya kepala mereka sudah kosong. Ibarat senjata, jika peluru sudah habis, mereka akan memukul musuh dengan popor senapan.

Perbedaan pandangan dalam pembicaraan ada yang berangkat dari kekeliruan persepsi atau dari sudut persepsi yang berbeda. Jika berangkat dari kekeliruan persepsi maka inilah kesalahan yang harus diluruskan. Jika berangkat dari sudut persepsi yang berbeda, maka kita tidak bisa memaksa orang untuk mengambil sudut persepsi yang sama dengan sudut persepsi kita. Sama saja kita tidak bisa memaksa orang untuk ikut selera kita. Maka, di sini tidak ada yang benar dan yang salah. Tinggal kita mau pilih yang mana. Pilihan yang sesuai dengan idealisme, yang bisa memenuhi harapan, dan sesuai dengan apa yang menjadi keyakinan.

Politik itu riuh, pembicaraannya akan menjadi pertengkaran. Pertengkaran di ruang publik, ditonton oleh banyak orang. Sebagian orang akan menjadi tidak suka dengan politik karena identik dengan pertengkaran yang membuat gerah. Ribut sana sini membicarakan persoalan. Pembicaraan tentang persoalan memang sudah seharusnya ribut agar bisa terdengar publik dan menjadi isu untuk diselesaikan. Kita tinggal di negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, sudah sepatutnya kita biasakan diri untuk mendengar orang bicara politik. Politik bukan saja untuk mereka yang menjadi politikus, bukan saja untuk mahasiswa jurusan politik, mereka yang ingin duduk di bangku legislatif, atau ingin menjadi penguasa. Politik adalah untuk warga negara, untuk kita semua.

Jangan alergi dengan pembicaraan politik, karena politik itu akan mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Jangan takut untuk menyuarakan pilihan politik karena hal demikian seharusnya menjadi hak kita sebagai warga negara. Seharusnya kita jangan mempersoalkan perbedaan dalam pilihan politik seseorang. Jangan ada aksi bulli. Jangan terlalu sentimen. Perbedaan politik jangan sampai memecah persaudaraan kita, membuat kita tidak mau lagi bergaul dengan si A, si B, atau menjaga jarak pertemanan. Sangat lucu sekali jika hanya karena politik, membuat warga negara menjadi saling bermusuhan, saling menjatuhkan, saling menghujat, membulli, dan menghina. Saat kampanye boleh saja ribut, bertengkar saat debat, tapi harus kembali akur di meja makan.

Politik seharusnya membuat kita menjadi lebih baik dari binatang, karena binatang tidak punya moral, tapi kita memilikinya. Terlebih binatang tidak berpolitik. Politik bukan untuk binatang. Politik adalah untuk manusia yang memiliki etika.

Comments