Menghadirkan Kesejukan Surga di Bumi

Kehidupan fisik akan selalu mengacu pada hal-hal yang bersifat fisik dan materi sehingga kita tidak bisa mengelak bahwa hal-hal tersebut bersifat utama dalam kehidupan manusia hari ini, dan mungkin saja memang itulah sifat dasar manusia di segala zamannya. Manusia yang secara fisik lemah dan rentan pada kejahatan manusia lain yang lebih bermutu secara material pembungkus rupanya, mentalitas tanpa moralnya, dan isi kantongnya bukanlah sesuatu yang aneh lagi. Jika ada warga kelas dua, maka posisi itu diisi oleh mereka yang disebut dunia sebagai orang-orang yang kurang beruntung dilahirkan dalam posisi yang lemah di bawah mereka yang Tuhan anugerahkan kelimpahan material dan pahatan yang lebih baik.

Photo by Jimmy Chan from Pexels


Manusia saling memakan manusia lainnya –itu terjadi pada tataran masyarakat yang lemah ekonominya, kurang edukasinya, terhimpit oleh tekanan hidup yang sulit. Melahirkan kebrengsekan-kebrengsekan moral yang menggurita, diwariskan, hingga sampai pada kita berita-berita tak sedap hari ini tentang amoral generasi milenial. Ternyata melimpahnya informasi di abad ini, tak kunjung membuat manusia bisa belajar tentang pengetahuan. Justru kejelekan yang tersebar luas bukan kebaikannya.

Apa yang mengemuka dan ditangkap oleh kamera, hanya sebagian kecil, puncak dari sebuah gunung peristiwa. Banyak hal miris lainnya telah terjadi di seluruh penjuru negeri.

Keamanan yang tak kujung membaik, timbul kecurigaan di antara sesama. Dan kembali mereka yang kurang beruntung ini, menjadi korban dari kecurigaan-kecurigaan tanpa alasan. Mengandalkan stigma bahwa singa yang gemuk terpelihara baik di kandang tak akan keluar mencuri makan.

Manusia saling menilai satu sama lainnya. Dan orang-orang yang kurang beruntung ini akan kembali menjadi korban dari penilaian semu, cenderung ke arah minus, menjatuhkan. Kita tak ingin lahir Hitler – Hitler berikutnya. Mereka-mereka yang seharusnya tumbuh dalam kejeniusan berpikir untuk menjadi manusia-manusia berguna, justru tumbuh menjadi orang-orang bertangan dingin, yang memerintah dengan baja. Idealismenya adalah untuk menghancurkan sebab dari kehinaannya.

Saat pembangunan fisik lebih ditekankan, pembangunan dari sisi dalam manusia akan ditinggalkan. Menganggap bahwa kemajuan ekonomi akan membuat manusia menjadi lebih baik dari segala sisi: moral, intelektual, kesehatan, budaya. Lahirlah generasi-generasi konsumtif, yang bekerja keras hanya untuk membeli hedonisme.

Kemajuan teknologi hasil dari pengembangan pengetahuan seharusnya tak jatuh ke tangan pengguna yang salah tanpa pembinaan. Barang teknologi tak layak diperkenalkan pada anak usia dini, mereka harus ditanamkan nilai-nilai terlebih dahulu. Nilai dasar dari pengetahuan dan teknolgi, dan moral kehidupan salah satunya agama. Sebab teknologi punya dua sisi, tentu kita tak ingin memberi anak kita sebilah pisau yang bisa melukai dirinya sendiri. Sesuatu yang tak terkontrol akan lepas, sesuatu yang lepas akan menjadi liar, sesuatu yang liar jika dibiarkan akan terus menggelinding menjadi bola besar dan merusak.

Apa maksud dari tulisan saya kali ini? Ada banyak hal-hal yang tak ideal di sekitar kita, dan kita memaklumi semua itu dengan pemakluman yang luar biasa. Kelemahan dan kekurangan dari tatanan kehidupan seharusnya dipikirkan untuk dipecahkan dan mulai dibangun secara perlahan dari wilayah yang paling kecil. Mulai dari diri kita. Mulai dari orang-orang sekitar kita. Jika kita tak bisa menularkannya, cukuplah diri kita, dan sampaikanlah suara kita yang menginginkan adanya perubahan.. hadirkanlah sebagian kesejukan surga itu di bumi.. jangan hanya nerakanya saja yang terasa panas membakar dan menyiksa kita akhir-akhir ini.

Comments