Anti-Hoaks, Jangan Lawan Hoaks dengan Ketakutan

Hoaks menjadi perbincangan yang menghangat setelah salah seorang menteri mengeluarkan wacana tentang penggunaan UU Terorisme untuk melibas penyebar hoaks. Bagi saya sebagai orang awam, merasa hal ini terlalu berlebihan. Lagian hoaks yang bagaimana sih, yang dapat dijerat dengan UU Terorisme?



Mendengar “UU Terorisme” saja sudah menakutkan. Terorisme jelas bukan kejahatan sembarang, tapi kejahatan luar biasa, sehingga hoaks yang bisa dijerat dengan UU ini pasti bukan sembarang hoaks. Hoaks yang sangat mengancam dan membahayakan kepentingan publik atau entitas lain yang berlawanan dengan kelompok yang melakukan teror tersebut, atau bisa dibilang hoaks yang berasal dari pelaku terorisme.

Wacana ini sangat menakutkan dan mengkhawatirkan. Menakutkan jika salah sasaran yang disengaja atau ada kelalaian, dan mengkhawatirkan berdampak pada kebebasan berpendapat. Apalagi hoaks itu terlalu luas maknanya, dan perlu dipersempit lagi sehingga kita bisa menghindari sesuatu yang dianggap “bohong” dan dianggap “menyebarkan kebohongan” yang “mengancam” dan “berbahaya” sehingga layak untuk dihukum. Apalagi bohong dan benar itu sesuatu yang tidak diketahui mana yang benar dan mana yang bohong tanpa adanya “penunjuk”, yang menunjukkan bahwa “ini benar” dan “itu bohong”.

Kita semua sepakat bahwa hoaks umumnya adalah hal yang tidak baik, yang tidak mungkin akan dilakukan oleh orang-orang yang punya integritas pada moralitas. Namun, tentu saja hoaks yang dimaksud adalah yang bertujuan pada maksud-maksud tertentu yang tidak baik (sadar bahwa informasi yang diberikannya adalah hoaks) untuk kepentingan tertentu dimana penerima informasi tidak sadar bahwa informasi tersebut adalah hoaks (tidak benar).

Berbeda dengan hoaks yang dilakukan untuk sekedar hiburan seperti “prank”, pertunjukkan sulap, “April Mop”, dimana orang-orang sadar bahwa informasi tersebut adalah bohong. Meskipun mungkin awalnya dianggap benar, namun kemudian oleh si pemberi informasi tersebut akan diklarifikasi kembali tentang informasi yang sebenarnya --disaat itu juga-- tak lama setelah informasi itu diberikan.

Hoaks ada di mana-mana dengan topik apapun --tak hanya soal politik di saat sekarang yang riuh karena masa kampanye dan menjelang dekatnya hari pencoblosan. Penipuan jual beli online dan judul “clickbait” yang melenceng jauh dari konten yang disajikan, juga termasuk hoaks. Hoaks umumnya mengacu pada penggunaan media informasi termasuk di atas panggung, di atas meja dan disorot oleh kamera untuk disampaikan pada publik. Internet adalah media yang paling mudah untuk menyebarkan hoaks, tapi mudah juga untuk ditanggulangi, karena banyaknya informasi alternatif yang menjadi pembanding. Berbeda jika pembuat hoaksnya adalah “sumber resmi” yang dipercaya. Tak akan ada yang tahu jika informasi yang disampaikannya ternyata hoaks. Hoaks seperti ini sebenarnya yang paling berbahaya karena bisa menjadi alat propaganda atau alat kepentingan yang berdampak luas.

Tumbuh suburnya hoaks adalah warning untuk moralitas kita sebagai bangsa yang katanya ingin mengedepankan akhlakul karimah. Pendidikan kita ternyata gagal memproduksi generasi yang sadar moral. Pertanda bahwa kehidupan masyarakat terutama mereka yang menguasai media informasi sudah sedemikian liberalnya. Memberhalakan nilai materi dengan menghalalkan segala cara daripada memegang teguh nilai kebenaran agama dan moral. Budaya literasi kita masih belum cukup kuat sehingga bisa menangkal hoaks dengan efektif tanpa harus “ditakuti” dengan undang-undang. Agama yang menjadi "benteng" manusia dari keburukan syahwat yang menjadi sumber dari segala keburukan termasuk hoaks, sekarang sudah mulai “dirusak”, bahkan institusi kementerian yang mengurus hajat agama pun tak luput dari perbuatan KKN.

Bangsa kita semakin tidak menghargai karya moralitas sehingga harganya sangatlah rendah, saking rendahnya hingga bisa dibeli oleh kepentingan tertentu dengan melakukan penipun, kecurangan, manipulasi, fitnah, bahkan kita sangatlah sulit membedakan mana ucapan yang benar dan mana yang tidak benar karena sudah pintarnya orang-orang bersilat lidah, memutarbalikkan fakta. Moral seharusnya diletakkan di atas akal pikiran agar ia bisa memandu akal untuk berada di jalan yang benar. Jika di bawah akal, akal akan kehilangan pijakan –moralnya menjadi oportunis, bisa ditawar.

Lebih celaka lagi jika diletakkan di bawah perut, dekat dengan bagian yang paling kotor dari tubuh manusia, maka moralnya sudah tidak lagi berharga berganti menjadi amoral, tak beradab alias menjadi orang biadab.

Jika kita ingin memerangi hoaks (hemat saya) adalah dengan “menyalakan banyak lampu, jangan hanya satu lampu” dan letakkanlah moral di atas akal – akal di atas perut -  agama di atas duniawi..

Hoax terbesar adalah fitnah Dajjal: Surganya adalah Neraka, dan Nerakanya adalah Surga, Airnya adalah Api, dan Apinya adalah Air.

Akhirnya, jangan takut untuk melawan "Hoax" dan jangan melawan "Hoax" dengan “ketakutan”. Mari bersinergi untuk bersama-sama menyalakan banyak “lampu” agar Indonesia “terang” dan bersama-sama "menyapu" agar Indonesia "bersih"..

Wallau A’lam Bis-Shawab

Referensi: 1, 2

Komentar