Berikan Indonesia yang Terbaik untuk Anak Cucu

Sudah sejak lama orang Indonesia suka ribut mengenai masalah apapun dan saat mereka ribut, mereka melupakan semua pelajaran-pelajaran moral dan agama (tentu tidak semua demikian). Apalagi saat ini, saat degradasi moral semakin terjun bebas, dan pemikiran liberal merebak menyinggung tata nilai dan agama.

Berikan Indonesia yang Terbaik untuk Anak Cucu
Gambar: pixabay/mufidpwt 

Hebatnya, kita sebagai bangsa masih tetap bertahan di tengah suasana seperti saat ini hingga kini –mungkin daya tahan konflik bangsa ini tergolong tinggi hingga sepercik isu tak lantas menjadi bara api konflik yang membakar menghanguskan kesatuan bangsa (bila terjadi konflik antar suku, suku-suku lain yang peduli merekatkan kembali hubungan dengan mediasi). Jika pun ada keinginan-keinginan memberontak (separatis), itu hanya dari kalangan tertentu saja yang jumlah penggeraknya bisa dihitung jari, lainnya hanya partisipan yang tidak tahu apa-apa.

Indonesia itu unik, seperti ada doa-doa leluhur yang mengikat untuk tetap bersatu sebagai bangsa. Saat Indonesia pernah terpecah menjadi beberapa negara bagian yang terhimpun dalam Republik Indonesia Serikat (RIS), tak lama, wilayah-wilayah itu kembali melebur masuk kedalam wilayah Republik Indonesia, seolah tak tahan terpisah begitu saja (terpisah oleh keinginan bangsa lain).

Tentu kita berharap, Indonesia tetap menjadi Indonesia, atau apapun namanya tetaplah menjadi satu bangsa yang utuh hingga akhir masa. Tidak ada lagi permasalahan-permasalahan sosial, agama, politik yang tidak wajar dan ada kecenderungan dimanipulasi oleh pihak-pihak tertentu seperti kondisi saat ini yang membuat kita jauh dari rasa bahagia. Indonesia di masa depan semoga menjadi bangsa yang kembali pada sifat dan karakter aslinya yang arif, budiman, dan lebih berakhlak, serta religius. Menjadi bangsa dengan negara yang kuat dan mandiri. Sehingga anak cucu keturunan kita bisa hidup bahagia, tersenyum ceria, mengenang kita sebagai kakek-nenek dan mengucapkan “Terima kasih” karena telah menghadiahkan kehidupan bahagia pada mereka dengan memberikan Indonesia yang lebih baik dari Indonesia yang kita miliki saat ini. (Bukan seperti saat ini yang justru membuat kita merindukan Indonesia yang dahulu)

Mungkinkah? Adakah kesadaran dari dalam diri kita sendiri untuk saling menjaga? Mencegah isu dan keributan yang tidak perlu (keributan yang memantik perselisihan antar golongan). Jika ada yang perlu di sapu bersih, yang pertama-tama adalah mental dan moral seluruh pejabat aparatur negara dari hilir ke hulu. Tidak mungkin borok-borok negeri ini sembuh jika mereka yang kita harapkan bisa menyembuhkan malah turut bermain menjadi kutil-kutil yang mengganggu.

Jika tidak bisa turut andil dalam mencegah kerusakan yang ada, minimal kita tidak berada dalam kerusakan itu. Jika tidak mampu memberikan sumbangsih pada negeri, minimal kita tidak menjadi bagian dari penggerogot negeri.

Media sesungguhnya punya kekuatan kontrol sosial, sayangnya sebagian besar media kini malah menjadi bagian yang ikut membuat masyarakat menjadi sakit. Memancing di air keruh, memelintir pernyataan, mengorek aib orang lain. Berita "bad" memang menjadi jualan media. Menciptakan pro dan kontra. Padahal bisa saja isunya sendiri sebenarnya kecil, akan tetapi bisa dibuat besar jika ada kepentingan yang bermain dibalik isu tersebut untuk kepentingan yang lebih besar.

Saat media tak lagi berpihak pada kebenaran objektif, tapi pada pemilik modal dan kepentingan politik. Kita sebagai warga bisa menggantikan peran itu di era media sosial saat ini. Namun, harus hati-hati dan tidak gegabah tanpa menelaah informasi yang diterima, jangan sampai kita membagikan informasi yang tidak benar atau belum terbukti kebenarannya. Tahanlah memberikan komentar-komentar yang sekiranya buruk atau jahil, kecuali komentar-komentar kritis tanpa kehilangan diksi yang baik. Tetap suarakan kebenaran tanpa harus terpancing oleh keributan. Keributan dalam arti yang tak beradab.

Wallahu a'lam bish-shawabi

Komentar