Kafir Menjadi Muwathinun. Apa Maksudnya?

Sejujurnya saya merasa bingung mengapa NU menyarankan untuk tidak menyebut nonmuslim dengan sebutan kafir dalam Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU di Ponpes Miftahul Huda Al Azhar, Citangkolo, Banjar, Jawa Barat beberapa waktu lalu. Padahal kata kafir itu bahasa Al-Qur’an. Sebenarnya apa maksud NU mengubah sebutan kafir itu menjadi nonmuslim?

Kafir Menjadi Muwathinun


Rupa-rupanya kata “Kafir” yang dimaksud NU jangan dipakaikan pada nonmuslim, bukan pada konteks akidah, tapi pada konteks kehidupan bernegara. Saya pun baru tahu bahwa konteks kata kafir ternyata tidak hanya dalam soal akidah. Padahal dalam pikiran saya selama ini: kafir selalu mengacu pada orang yang bukan Muslim, atau istilahnya Nonmuslim

Saya mungkin lupa pernah belajar di sekolah dulu, dalam konteks bernegara dalam Islam, ada empat sebutan kafir untuk warga negara: kafir muahad (kafir yang terikat perjanjian kerjasama dengan umat Islam), kafir musta’man (kafir dari negara kafir yang memiliki jaminan perlindungan dari penguasa), kafir dzimmi (kafir yang tinggal di negara Islam dengan terikat perjanjian dan membayar pajak), dan kafir harbi (kafir yang memerangi umat Islam sehingga layak diperangi).

Nah, NU melarang kita untuk menyebut sesama warga negara Indonesia yang kafir (eh nonmuslim) itu dengan sebutan kafir, tapi diganti dengan sebutan muwathinun (warga negara). Alasannya karena mereka (nonmuslim/kafir) itu sama derajatnya dengan kita (muslim) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Saya mungkin condong untuk setuju bila konteksnya memang dalam berwarganegara, masalahnya rasa-rasanya tidak ada yang menyebut warga negara yang bukan Islam sebagai kafir, baik secara secara aturan tertulis maupun lisan. Indonesia juga bukan negara Islam sehingga memberlakukan penyebutan kafir untuk warga negara yang bukan Islam. Jadi janggal saja jika tiba-tiba muncul soal usulan ini.

Namun kemudian, muncul polemik bahwa seakan-akan NU akan mengganti semua kata kafir dalam konteks akidah menjadi nonmuslim. Santer berita itu muncul dimana-mana. Ternyata penjelasan akhirnya yang saya tangkap, kafir yang dimaksud adalah soal status warga negara, bukan akidah. Apakah itu bisa menjawab pertanyaan? ya, tapi..muncul tanda tanya berikutnya. Sejak kapan kita melabeli warga negara nonmuslim di Indonesia dengan sebutan kafir? Dan urgensinya apa sehingga kita perlu menghilangkan sebutan itu? Padahal kata kafir yang sering diucapkan itu dalam konteks akidah, dan seringkali juga diucapkan (tidak hanya kepada Nonmuslim) tapi kepada orang-orang yang dianggap lebih memihak kepentingan nonmuslim ketimbang kepentingan umat Islam sendiri, atau digunakan untuk menyerang kelompok lain di luar dari kelompok mereka sendir (Mengkafirkan kelompok lain karena dianggap menyimpang)

Jadi, seharusnya menurut hemat saya bukan kata kafir yang harus dihilangkan, tapi bagaimana mengajarkan agar tidak mudah mengucapkan kafir pada orang lain secara langsung dengan maksud merendahkannya, menghinakannya, menyakitinya, atau berdasarkan prasangka buruk, baik pada nomuslim (kafir) apalagi sesama umat Islam.

Apalagi, kata kafir bukanlah untuk panggilan, melainkan untuk sebutan nama (bukan untuk disebut dalam panggilan) atau istilah dalam ruang lingkup kaum muslimin untuk menyebut orang yang tidak beriman. Kalau kata kafir ini dibikin sebagai nama panggilan, "Hei Kafir!" kepada seorang nonmuslim dihadapannya secara langsung, tentu saja terdengar kasar dan tidak berakhlak meski sebutan itu benar dalam terminologi tapi buruk untuk dilakukan karena merusak muamalah.

Bahkan, yang lebih parah dari itu, adalah menyebut pada saudara muslim sendiri. Padahal mengatakan kafir pada sesama muslim itu risikonya sangat besar, sama halnya dengan membunuhnya. Membunuh manusia saja sudah dosa besar, apalagi membunuh seorang mukmin. Menuduh "Kamu kafir!" pada seorang muslim, ucapan itu akan kembali pada diri kita sendiri, ini sangat berbahaya sekali. Jadi jangan pernah anggap enteng sebutan kafir secara serampangan tanpa kebenaran. Cukup hanya dijadikan istilah tapi bukan untuk digunakan secara aktif sebagai panggil memanggil secara langsung atau menyebut kafir kepada seseorang muslim yang belum tentu benar-benar murtad dari keislamannya.

Apakah kata kafir itu berkonotasi negatif? bagi orang Islam ya, sebab lawan katanya yang positif adalah mukmin. Lalu apa kata kafir tetap bermakna negatif bagi orang nonmuslim? Di sini mulai masuk wilayah debatable. Ada yang merasa baik-baik saja, ada jg yang merasa terganggu. Jika mereka terganggu, terganggu oleh apa? bukankah makna kafir di Islam adalah tidak beriman kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya?

Saya pikir secara akidah, tidak ada konotasi negatif untuk nonmuslim. Jika sebutan itu menyakitkan, lalu apa bedanya dengan sebutan "domba-domba sesat" untuk non Kristen? selama itu ada di wilayah terminologi agama, maka sah-sah saja. Justru timbul masalah saat kata itu di bawa ke ruang publik.

Ada pihak lain di seberang sana yang mengatakan bahwa tindakan NU ini berbau politik. Benarkah? Jadi timbul asumsi apakah sebenarnya dengan menghilangkan kata kafir ini kemudian diganti menjadi muwathinun akhirnya membuat umat Islam tidak akan pernah lagi membedakan “kafir” dan “muslim” dalam soal politik bernegara termasuk dalam memilih soal pemimpin? Apakah itu tujuannya? Kalau itu bukan tujuannya, lalu apa urgensinya kita bicara kata “kafir” dalam konteks bernegara, padahal kata “kafir” lazimnya dalam konteks akidah, dalam sistem bernegara di Indonesia tidak ada kata kafir untuk menyebut nonmuslim karena Indonesia bukan negara Islam yang hukumnya menggunakan syariat Islam.

Jadi masalahnya saat ini bagaimana kita meletakkan kata kafir itu pada tempatnya dalam ' suasana keakraban antar warga negara' (meminjam ungkapan RG) bukan sentimental karena urusan politik. Karena ketika agama masuk ke dalam politik (menjadi alat politik), maka kata "kafir" sebagai terminologi agama otomatis ikut masuk. Jadi, soal kafir menjadi muwathinun ini apakah ini merupakan suara keresahan moral atau ada agenda politik tersembunyi di dalamnya?

Wallahu a’lam bish shawab

(Tulisan ini hanya ulasan saya sebagai orang awam yang bingung tentang adanya berita NU ingin menghapus kata "kafir" dan diganti dengan sebutan nonmuslim atau muwathinun. Apakah benar demikian sesuai dengan persepsi banyak orang? atau mungkin kita telah gagal memahami maksud NU ini. Semoga NU lekas kembali menjadi organisasi masyarakat yang membawa damai, menjauhi polemik-polemik yang tidak perlu)

Komentar