Kekisruhan yang Tidak Perlu

Idealnya, saat membeli produk, penjual memaparkan spesifikasi produk tersebut, dan apa kelebihan-kelebihannya sehingga layak untuk kita beli daripada produk yang serupa tapi lain merk. Sebagian pembeli sebelum memutuskan untuk mendatangi penjual, akan googling untuk mencari review produk tersebut mulai dari harga, spesifikasi, kelebihan, dan kekurangannya. Pemilihan Presiden juga serupa seperti kita memilih produk yang kita beli. Kita perlu tahu informasi detail tentang program-program kerja, visi, dan misinya agar kita bisa memproyeksikan apa yang akan dilakukan sang Calon Presiden saat terpilih menjadi Presiden.

Sayangnya, kita minim sekali tahu akan informasi dengan utuh semua program kandidat. Selebihnya yang mendominasi hanyalah menejelek-jelekkan produk sebelah dengan black campaign dan negative campaign yang notabene dilakukan oleh para buzzer-buzzer politik. Kita yang awam pun menjadi ikut-ikutan, terjebak dalam pusara yang dimainkan oleh mereka. Tentu hal ini jelek sekali, merugikan kandidat yang mereka usung. Namun, bisa jadi yang melakukan semua itu adalah agen ganda. Dari luar tampak seperti pendukung A, tapi dalamnya sebenarnya ia pendukung B, lalu melakukan serangan pada B atas nama pendukung A. Akhirnya apa yang dilakukannya malah menggerus dukungan terhadap A. Mungkin diperlukan standarisasi prosedur kerja para buzzer atau siapapun yang ingin mengkampanyekan kandidat presiden dan wakil presiden, salah satunya adalah tidak melakukan black campaign dan menyeimbangkan antara negative campaign dengan positive campaign.

Tak hanya soal buzzer yang seringkali membuat kekisruhan yang tidak perlu, kadang muncul tokoh dan kelompok tertentu yang membuat aksi penolakan yang tidak penting terhadap tokoh-tokoh yang berada dalam kubu seberang atas nama masyarakat. Aksi-aksi semacam ini sama sekali tidak bermanfaat, dan membuat kita berpikir bahwa menjual sentimen itu lebih laku daripada menjual nalar. Penolakan-penolakan yang tidak wajar semakin menguatkan indikasi adanya sentimen yang bisa disebabkan oleh adanya gagal paham, perbedaan politik, termakan stigma negatif dari ujaran tokoh tertentu, narasi media, serta kesengajaan agar kejadian ini diangkat dan menjadi isu liar.

Image by  johnhain on Pixabay


Hal-hal di atas sangat mengusik nurani, betapa mudahnya orang melakukan sesuatu yang tidak benar hanya karena sentimen pada orang lain yang berseberangan secara paham politik, menciptakan percikan-percikan yang mengganggu suasana yang kondusif, dengan membentur-benturkan kelompok-kelompok dan golongan.

Informasi yang demikian hanya menjadi “junk information” yang membuat kita “sakit” saat dicerna dikunyah dengan nalar. Gagal paham itu amat berbahaya. Menyikapi suatu kejadian tidak bisa hanya hitam dan putih. Tidak bisa hanya dengan sepotong teks atau secuplik video. Perlu pendalaman agar bisa memahami secara konteksnya sehingga kita tidak begitu saja mengikuti isu tanpa kejelasan kejadian yang sebenarnya.

Hoaks sebenarnya bukanlah perkara utama jika sebagian besar pengguna media sosial bisa menahan diri untuk tidak grasa grusu: membenarkan atau menolak setiap isu berita yang diterimanya. Bukankah agama juga mengajarkan untuk tidak menelan mentah-mentah isu berita sebelum melakukan validasi. Tidak menelan mentah-mentah berarti tidak menempatkannya sebagai berita yang benar dan juga bukan berita bohong. Kritis terhadap suatu isu, baik yang bermuatan positif atau negatif.

Selain adanya gagal paham, kekisruhan kerap juga disebabkan oleh pemantiknya yaitu orasi-orasi yang menciptakan polemik. Ujaran-ujaran yang menyinggung satu sama lain. Apalagi jika ujaran itu diucapkan oleh yang memiliki jabatan. Masing-masing kalangan seharusnya bisa menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang mengundang polemik.

Demokrasi memang akan selalu ribut karena yang diperjuangkan adalah suara rakyat. Namun tentunya bukan keributan liar tanpa argumen yang dipertontonkan, tapi debat dan keributan yang beradab. Bila tidak setuju, tidak perlu menyatakan ketidaksetujuan dengan aksi hadang menghadang, bahkan sampai mengancam. Ini merupakan kebiasaan buruk yang harus dihilangkan di alam demokrasi karena kita tidak hidup lagi di masa otoriter yang asal main gebuk atau unjuk kekuatan untuk menyatakan siapa yang paling hebat.

Komentar

  1. Hummm krna mrasa paling benar, kedamaian tergdaikan


    Btw template kita sama hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung + tanggapannya..

      Yap, asal dilakukan dengan cara yang benar (positif) & tidak menyinggung personal seharusnya tidak masalah..

      sama-sama pake emporio juga :

      Hapus
    2. Kamu dri Lampung juga kah??

      Iya harusnya gak saling menyinggung dan menjatuhkan


      Ntah namanya apa. Soalnya yg nyetting bukan aku jhehe. Tp admin ke1

      Hapus
    3. Iya Lampung..

      bameswara.site itu ada berapa adminnya ? dari Lampung jg ?

      Hapus
    4. Ada dua admin. Aku yg kedua. Tp yg sering aktf.

      Iya dri Lampung juga

      Hapus
    5. Bagus isi blognya, sukses terus..

      Hapus

Posting Komentar