Rehat

Jika ada musuh terbesar kita, itu bukanlah orang lain, atau siapa pun, melainkan diri kita sendiri khususnya pikiran kita. Ketika hati sedang tidak baik, pikiran memanggil kembali pola-pola lama yang mengendap dalam alam bawah sadar. Turut mempengaruhi semua pandangan dan penilaian kita terhadap situasi yang kita rasakan yang akhirnya akan berdampak pada bagaimana kita bereaksi. Reaksi yang fatal adalah bersikap destruktif, salah satunya adalah futur, menarik diri, mundur, berpikir negatif terhadap diri atau orang lain.

Image by pixel2013 on Pixabay

Di sinilah mengapa saat kita tidak merasa baik, hentikan aktifitas berpikir. Lekaslah cari penghiburan. Tenangkan diri. Carilah seseorang yang sekiranya tidak akan memberikan judge, atau nasihat-nasihat tanpa diminta yang justru kian menyudutkan hati, atau disuruh berpikir tentang benar dan salah, baik dan buruk sebagai "kuping" untuk mendengarkan cerita keluh kesah. Bagi saya pribadi jika mengalami masalah yang demikian, obat terbaiknya adalah melakukan disconnect . Maksudnya adalah mengalokasikan waktu untuk berada seorang diri di tempat yang minim gangguan interupsi. Tentu hal ini bergantung pada tipe kasusnya dan tipe pribadinya.

Entah mengapa, saya memang lebih akan bertenaga kembali jika saya sendirian. Hal ini akan memulihkan kembali mood dan melapangkan kembali jalan pikiran. Untuk orang lain mungkin akan berbeda. Bukankah tiap kebutuhan orang beda-beda? Lalu apakah dengan demikian, saya seorang anti sosial? Kesimpulan itu masih dangkal. Memiliki kebutuhan alokasi waktu untuk sendiri tak lantas menjadi  seorang anti sosial meskipun mungkin terkesan egois dan cuek, tapi sebenarnya punya kepedulian. Namun hal yang pasti, keramaian dan terlalu banyaknya interaksi yang dilakukan, bisa menyebabkan energi cepat terkuras. Lahiriahnya mungkin bisa ditenagai kembali dengan asupan makanan, tapi batinnya tetap kering. Butuh disconnect secara darurat, meski mungkin hanya semenit, dua menit, sebelum benar-benar ambruk: ditandai dengan perubahan mood yang turun drastis mengarah ke minus dan akhirnya menjadi unstable. Ibarat OS, saya perlu direstart.

Orang yang penat dengan pikiran, akan lari pada penghiburan yang ringan, yang sekiranya dapat men-distract pikirannya dari hal-hal yang penuh sesak, keluar sejenak dari pikiran untuk bernafas. Jika kita mengalami hal seperti ini, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah berdoa. Ambil wudhu, shalat. Ibadah adalah salah satu bentuk pertolongan pertama agar pikiran dan hati tidak semakin ngelantur parah. Rasa penat ini bisa berdampak pada rusaknya mood. Bagi orang yang peka sekali, sedikit saja terjadi perubahan mood, akan bisa mengubah skala emosionalnya. Shalat adalah disconnect dari duniawi ke ukhrawi. Mengubah orientasi perhatian dari hubungan manusia ke Tuhan. Membuat jiwa menjadi stabil. Masalahnya, tentu tidak segampang itu dilakukan. Pada praktiknya sulit jika kita tidak benar-benar menyiapkan batin dengan baik. Khusyu. Diawali dari langkah kaki ke tempat berwudhu.

Komentar