Roman dan Masa Depan

“Jika sedikit mengandai dengan panjangnya usia, 20 tahun lagi yakni 2039, usia saya sudah jelang tengah hari, dan 2089 sudah di ufuk barat. Ada 7 dekade lagi untuk melihat perkembangan dunia. Ada 14 pilpres yang akan diikuti sepanjang 7 dekade itu. Namun semua itu sirna, jika Izrail datang lebih cepat saat duhur, maka hanya tersisa 3 dekade saja. Dan jika Izrail datang semenit dari sekarang maka waktu saya hanya 59 detik saja. Tak cukup menyatakan perpisahan.”

gambar: pexels.com/@negativespace


Maut sejatinya kesedihan untuk si mati, sementara yang hidup mentafakkurinya untuk diri mereka bahwa suatu ketika mereka akan mengalami hal serupa. Mengapa si mati harus bersedih? Karena amaliahnya terputus apalagi bila ia tak sempat bercocok tanam ‘amal jariyah’. Terlebih lagi jika si mati memiliki banyak dosa, pantaslah bila saat nyawa meregang ia dirudung duka. Sebaliknya, apabila yang mati itu meninggalkan benih unggul untuk dunia, mewarisi ilmu untuk umat, atau menyiapkan anak-anak yang shalih tentu bahagia yang ia dapat, terbungkus kafan surga.

Orientasi hidup sudah seharusnya mengarah ke masa depan, dengan bertumpu pada masa sekarang. Lihatlah secara realita pada saat ini untuk mengambil jalan mana yang akan kita tempuh untuk menuju masa depan. Masa lalu jangan hanya tersimpan sebagai kenangan, tapi jadikan dia dorongan, kekuatan kapal untuk berlayar melayari samudera yang luas. Jika ada masa kelam yang kau alami, jangan jadikan itu trauma, tapi sebagai mata awas agar tak jatuh ke lubang yang sama.

Hidup terus melangkah maju, dan waktu tak pernah izinkan kita untuk kembali, meski kita menginginkannya hanya untuk memperbaiki sedikit saja sejarah. Cobalah kau bayangkan, seandai ada satu hal saja yang kau ubah dari rantai masa lalu, tak hanya jalinan masa lalumu yang bisa berubah, tapi juga seluruh rangkaian masa depan semua orang. Hanya untuk memperbaiki salahmu, kau mengorbankan suka cita manusia hari ini. Bukankah itu egois? Untunglah Allah tak mendesain waktu untuk bisa kembali, akan banyak kekacauan peristiwa yang terjadi. Daripada menyalahi masa lalu, lebih baik perbaiki masa depanmu, itu lebih baik. Waktu masih memungkinkan itu terjadi. Jadi jangan buang waktumu, rebutlah ‘emas’ di masa depan dengan waktumu hari ini.

Bicara soal masa lalu, tentu saya pun tak lepas dari itu. Bila ada rasa yang tak bisa terungkapkan dengan baik, kita akan memilih menyimpannya saja, dan menganggapnya bahwa kita sudah lupa, tapi sebenarnya tidak. Apa yang masih tersimpan, meski kita pendam, dia akan masih tetap ada, waktu tak bisa mengubahnya. Mungkin itu sudah hukum alam. Apapun yang sudah terjadi, mungkin banyak yang telah berubah, tapi secara fundamental, kita akan sama persis seperti dulu, dalam setiap kenangan kita. Ada kerinduan untuk kembali, tapi sudah tak mungkin lagi.

Cinta hanyalah sebongkah rasa. Ia butuh infrastruktur nyata untuk menjembataninya. Sebab sifat yang baik, ingin cinta itu tak hanya dimilikinya, tapi bagaimana menjadikannya tetap ada dalam bahagia. Realitanya mungkin sulit terwujud, sebab hidup penuh fluktuasi. Maka, cinta perlu ikatan yang kokoh, yaitu berdua terikat kepada-Nya. Mungkin ini terdengar idealis, tapi ya mungkin setiap orang berbeda-beda dalam memandang hubungan diantara dua manusia. Pastinya semua orang menginginkan cinta yang ada padanya adalah cinta yang terakhir. Satu komitmen dan satu janji yang tak akan saling menyalahi.

Cinta itu rumit dan kompleks jika dibawa turun karena tempatnya memang di atas langit dunia, di alam surgawi, di sisi-Nya, di sana cinta itu sempurna. Di Bumi? Cinta menjadi bergantung pada hati yang merasainya. Berbeda orang, berbeda pula sifatnya. Namun, semua bayangan akan rasa cinta manusia selalu berorientasi pada fiksi romansa. Saat engkau mencinta, jangan tutup mata pada realita, jangan buta karenanya, jangan tenggelam olehnya. Cinta dalam dunia realita yang praktis adalah sangat sederhana. Jika cinta, nyatakan dengan berani, dan milikilah ia dengan percaya diri. Namun, bagi seorang konseptualis, ia akan lebih mengedepankan pikiran daripada tindakan (meski bisa jadi sebenarnya mereka terlalu demam untuk berani terus terang, sering berkelit dari perasaan sebenarnya). Cinta bagi mereka adalah semesta kemisteriusan. Ia begitu dalam, luas, dan sulit dimengerti, sehingga bukan sesuatu yang mengherankan jika kebanyakan mereka berakhir dengan selibat atau melajang hingga tua. Lebih sibuk memikirkan teori daripada implementasi. Lebih sibuk mendekati cinta secara fiksi daripada yang dicinta secara realita.

Saya lupa berterima kasih pada satu momen indah yang pernah hadir di masa lalu sebagai basic pandangan tentang cinta meskipun itu bersifat subjektif. Cinta itu sendu namun hangat dirasa, mengingatnya seperti jatuh dalam udara, mengenangnya adalah campuran rasa berdebar dan kesedihan yang membuka pintu kontemplasi. Mungkin itu adalah cinta versi melankolis. Landscapenya akan berisikan nada-nada melodius yang merimakan setiap kata menjadi sajak. Mungkin saya sedang berhalusinasi dalam alam imajiner. Bisa jadi cinta yang saya miliki hanya bersifat konseptual yang sulit diimplementasikan mengingat belum terbangunnya dermaga untuk melabuhkan impian.

Bicara hal lain…

Kehidupan di masa 20 tahun mendatang mungkin saja sedikit meleset dari gambaran yang bisa dibayangkan. Bisa jadi akan ‘biasa-biasa’ saja dirasa untuk ukuran masa saat itu. Sama halnya dengan tahun 2019 jika dibayangkan sebelum tahun 2000. 2019 dianggap sebagai masa depan yang dibayangkan dengan kecanggihan teknologi yang sedikit dilebih-lebihkan. Nyatanya setelah tahun 2019 ini datang pada kita, rasanya biasa saja, walaupun teknologinya memang telah maju dibanding 20 tahun lalu. Tak ada kekagetan atau hal ketakjuban seperti melihat sesuatu yang mengagumkan sebab kita merasakan perkembangan itu semua dari tahun ke tahun secara bertahap.

Bila dianggap 2019 sebagai masa depan yang futuristik, itu memang masih jauh sekali dari ekspektasi tahun 90-an, hanya ‘sudah mengarah’ tapi ‘belum sampai’. Apapun yang kelak muncul dari hasil teknologi dengan paradigma saat ini bukan sesuatu yang mengherankan, namun akan mengherankan jika yang terjadi adalah sebaliknya. Misalnya, padamnya internet secara global, bisa menjadi hal yang mengagetkan atau gangguan satelit menyebabkan hubungan seluruh komunikasi terputus. Hal-hal seperti itu memang sangat dasar, lebih sangat fundamental dirasakan dari sekedar penemuan teknologi baru yang ada dalam radar eksprektasi manusia, kecuali penemuan yang membawa lompatan besar peradaban jauh ke depan.

Melewati tahun demi tahun, mengamati setiap pertumbuhan zaman rasanya memang menarik. Namun, ada isu yang sedikit luput dari perhatian kita, yaitu adanya kerusakan lingkungan. Padahal kita tahu, kehidupan manusia akan semakin rentan jika alam disakiti. Apakah kita pura-pura buta dan tuli dari setap anomali alam. Kerusakan demi kerusakan terjadi, dan akhirnya membunuh kita semua. Mungkin kita terlalu sibuk mengurus kemajuan infrastruktur dan industi, sehingga lupa bahwa alam juga perlu diperhatikan dan harus menjadi bagian dari kebijakan pemerintah, yaitu upaya pelestarian alam. Jangan menunggu alam untuk membunuh manusia lebih banyak lagi.

Masa depan memang masih dalam wacana imajiner. Namun, masa depan adalah kumpulan dari tindakan yang kita lakukan pada saat ini. Masa depan akan menjadi nyata sesuai dengan proyeksi bila kita mewujudkannya secara nyata terlepas berapa lama waktunya. Masa depan bukanlah persoalan, tapi persoalan sebenarnya adalah apa yang ada di waktu sekarang yang bisa mengancam kita di masa depan, maka perlu upaya antisipasi dengan tindakan-tindakan nyata.

Semoga saja kita bisa mengarungi waktu tanpa tenggelam di dalamnya hingga tiba pada masa depan kita dengan selamat. Masa depan di dunia sejatinya adalah liang lahat, dan masa depan selanjutnya adalah 'Tanah yang dijanjikan' yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, tempat kita memadu kasih cinta dengan sempurna, dengan yang didamba dalam bahagia yang abadi. Jagalah kuncinya, jangan hilang di tengah jalan, atau bersiaplah memasuki lembah penuh kemuraman, hitam-pekat-panas-membakar penuh dahaga dan kepedihan.

Wallahu a'lam bish shawab

Komentar