Untuk berada di udara, Garuda harus mengepakkan sayapnya

23 hari lagi Indonesia memilih Presiden dan Wakil Presiden, anggota DPR-RI, anggota DPRD Provinsi, anggota DPRD Kabupaten/Kota, dan anggota DPD RI untuk masa 2019-2024. Namun, perhatian publik pasti akan lebih tertuju pada pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Tak banyak atau sedikit yang peduli untuk memilih siapa yang akan mewakili mereka menjadi legislator (DPR) dan senator (DPD).

01 atau 02


Saya pun tidak terlalu memperhatikan sehingga belum mengantongi nama calon legislatif dan DPD yang akan saya pilih di bilik suara pada 17 April. Nampaknya mungkin akan sulit memilih dengan benar –hanya asal memilih—tanpa tahu visi misi mereka atau track record mereka karena kurangnya informasi, atau mungkin saya yang kudet dan tidak aktif mencari tahu. Menurut saya, Pemilu serentak dengan menggabungkan pilpres dan pileg (pusat, provinsi, kab/kota), serta DPD ini membuat kita sebagai pemilih justru merasa terbebani dan akhirnya tidak memilih secara optimal. Hanya fokus pada Pilpres saja, dan yang lainnya hanya asal memilih berdasarkan baju partainya, atau berdasarkan siapa yang paling mereka kenal sosoknya.

Kira-kira siapa yang akan saya pilih untuk Presiden dan Wakil Presiden, apakah Petahana atau Penantang? Ataukah golput?

Kita sudah mengetahui bahwa calon Presiden dan Wakil Presiden hanya ada 2 pasang saja, antara Petahana: Ir. H. Joko Widodo sebagai calon Presiden dan Prof. Dr. (HC). KH. Ma’ruf Amin sebagai calon Wakil Presiden dengan nomor urut pasangan calon (paslon) 01, dan Penantang: H. Prabowo Subianto sebagai calon Presiden dan Sandiaga Salahuddin Uno, MBA sebagai calon Wakil Presiden dengan nomor urut paslon 02.

Kubu paslon 01 diusung oleh 7 partai politik, yaitu: PKB, PKPI, PDIP, Nasdem, Hanura, PPP, dan Golkar; dan didukung 3 partai lain sebagai partai pendukung (bukan pengusung), yaitu: PBB, PSI, dan Partai Perindo. Sementara, Kubu paslon 02 diusung oleh  4 partai politik, yaitu: Demokrat, PKS, Gerindra, dan PAN; dan didukung oleh Partai Berkarya.

Bila dilihat dari jumlah pasang calon yang hanya ada 2: antara petahana dan penantang saja maka sebenarnya mudah untuk memilih. Simpelnya, jika merasa puas dengan program dan kinerja pemerintah saat ini silahkan pilih paslon 01, dan jika tidak puas, merasa kecewa, dan menginginkan perubahan dengan alternatif lain, pilihannya hanya ke paslon 02. Jika alternatif yang ditawarkan juga masih tak sesuai, mau pilih siapa lagi? Apakah harus golput?

Tunggu, bukankah sekarang golput dilarang?

Golput bukanlah hal yang salah sebagai pilihan pribadi seseorang. Golput dalam sejarah awalnya di Indonesia adalah bentuk protes yang dilakukan mahasiswa pada pelaksanaan Pemilu 1971 dengan mencoblos area putih pada kertas suara sehingga surat suara menjadi tidak sah. Golput saat itu bukanlah aksi diam dan pasif (tidak ikut mencoblos) dalam Pemilu dengan tidak datang ke TPS, hanya saja membuat suara menjadi tidak sah. Golput adalah gerakan moral berdasarkan memorandum yang berbunyi, “kalau ada yang merasa lebih baik tidak memilih daripada memilih, bertindaklah atas dasar keyakinan itu pula”.

Golput yang membengkak bisa menunjukkan rasa ketidakpuasan dalam proses pemilu yang diadakan, baik yang menyasar pada partai politik, pasangan calon, atau pelaksanaan pemilu itu sendiri. Sejatinya golput bukanlah ancaman untuk demokrasi, tapi ancaman untuk parpol dan paslon, serta pada penilaian penyelenggaraan pemilu. Golput yang berkesadaran adalah ekspresi dan kepeduliaan moral pada praktik politik dan proses pemilu, bukan gerakan apatisme yang cuek atau abai (kecuali jika memang tidak memiliki niat sama sekali untuk ikut serta dalam proses pemilu, ini lain hal dengan golput yang dimaksud) .

Meski bukan sesuatu yang salah, namun jika anda menyerukan (mengkampanyekan) atau mengajak masyarakat untuk golput dengan memberikan imbalan tertentu, Pasal 515 UU Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu bisa mempidanakan dengan ancaman kurungan 3 tahun penjara dan denda paling banyak 36 juta.
"Setiap orang yang dengan sengaja pada saat pemungutan suara menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainya kepada pemilih supaya tidak menggunakan hak pilihnya dengan cara tertentu sehingga surat suaranya tidak sah, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak 36 juta rupiah."

Dalam bunyi pasal tidak memuat kata "golput", namun teradapat bunyi".. sehingga surat suaranya tidak sah.." sudah merujuk pada makna golput. Golput tidak hanya berarti mereka yang tidak hadir di TPS karena alasan rasional politik (apatis)

Apakah saya akan memilih golput?

Banyak orang bilang, golput bukanlah solusi. Memang bukan solusi jika yang ditawarkan solusinya hanya ada dua: pilih Jokowi atau Prabowo. Tidak memilih, sama artinya dengan memberikan kemenangan pada satu paslon dan merugikan paslon lain. Masalahnya siapa yang menang dan kalah tidak diketahui hanya dari absennya suara kita.

Jika diamanatkan untuk memberikan suara, berikanlah suara yang terbaik. Pilihlah berdasarkan suara nurani dan kesadaran moral. Ketahui semua hal baik visi, misi, dan program kerja  paslon yang ingin dipilih. Jika tidak dapat memilih berdasarkan keunggulan karena dianggap kedua paslon tidak menjanjikan sesuatu yang bisa menjadi alasan kuat untuk memilih, cobalah pilih yang mudharatnya paling sedikit (meskipun bersifat subjektif). Setidaknya kita punya alasan untuk tidak memilih atau golput setelah menimbang mudharat dan manfaat dari kedua paslon.

Bagi yang sudah menentukan pilihan jauh-jauh hari saat nama paslon keluar, menunjukkan bahwa pilihan itu bersifat antipati pada satu paslon tertentu tanpa proses menimbang berdasarkan visi & misi yang ditawarkan. Hal ini bisa terjadi jika pemilih sudah hilang kepercayaan pada salah satu paslon yang menjadikan alasan untuk memilih paslon lain.

Salah satu cara lain yang bisa dilakukan dalam menentukan pilihan selain menyimak debat capres dan cawapres (tersisa dua debat lagi: 30 Maret & 13 April 2019) adalah dengan berkunjung ke situs ofisial capres dan cawapres masing-masing paslon. Situs Jokowi-Amin bisa diakses di jokowiamin.id dan situs Prabowo-Sandi di prabowo-sandi.com.

Kalau saya lihat, sebagai Petahana, paslon 01 lebih baik dalam menampilkan visi & misi di situs resmi mereka (apalagi ditambah dengan adanya program aksi), jika dibanding dengan Penantangnya: paslon 02, yang hanya menampilkan visi & misinya saja.

Secara substansi dari visi & misi, kedua paslon sama baiknya, sama-sama ingin membuat Indonesia maju dan lebih baik lagi di masa mendatang, hanya caranya yang berbeda. Cara manakah yang lebih disukai, cara paslon 01 atau 02?

Sayangnya, paslon 02 tidak menampilkan program aksinya -- seperti pada paslon 01--  sehingga kita sulit membayangkan apa saja yang akan mereka lakukan selama memerintah jika terpilih.  Namun, program aksi paslon 01 juga masih kurang detail, setidaknya yang mampu menggugah minat pemilih untuk memilih dengan alasan yang kuat. Visi, misi, dan program aksi di situs ofisial seperti hanya bersifat normatif, selebihnya yang justru menarik perhatian publik adalah apa yang ada di media dalam bentuk pernyataan, kampanye, yang tidak ada di situs ofisialnya. Padahal kedua paslon seharusnya bisa memanfaatkan dengan maksimal situs ofisialnya sebagai media informasi yang padat.

Bagi pemilih yang telah menentukan pilihan; visi-misi-program sepertinya akan diabaikan (tidak menjadi penentu) karena seperti yang saya bilang bahwa isinya hanya sekedar normatif/formalitas terkesan biasa --seperti kita menulis esai dan memasukkan hal-hal yang bagus di dalamnya-- meski arah kebijakannya katakanlah akan ke sana sesuai dengan apa yang dituliskan, tapi apakah itu benar-benar akan dilaksanakan? Jika dilaksanakan, kita tidak tahu dengan detail apa yang akan dilakukan. Semua kembali lagi pada kepercayaan publik pada kedua paslon tersebut. Manakah yang lebih punya kemampuan dalam memimpin dan komit pada urusan rakyat, serta yang tidak akan abai dalam persoalan bangsa.

Pada pemilu 2019 ini, sama seperti pada pemilu sebelumnya, saya tidak berencana golput. Golput mungkin terdengar idealis bagi yang tidak memiliki kepuasan dengan kedua paslon, tapi itu bukan cara yang baik dalam situasi seperti ini dimana negara membutuhkan suara kita untuk menentukan arah masa depan bangsa.

Siapakah  yang akan saya pilih, 01 atau 02?

Oleh karena Saya bukan relawan, bukan influencer. Saya orang biasa, rakyat akar rumput. Tak ada kapasitas untuk mempengaruhi seseorang atau siapapun. Jadi, apapun yang saya pilih tentu saja tidak akan berpengaruh banyak. Saya tidak ada beban dalam memilih atau menentukan pandangan. "Untuk berada di udara, Garuda harus mengepakkan sayapnya", itulah pilihan saya. Silakan terka paslon 01 atau 02 ..

Catatan: 

Semakin kita fanatik (dengan penilaian kita) terhadap seorang tokoh, kita akan semakin reaktif dan sensitif pada pandangan miring terhadap tokoh tersebut. Apalagi jika pandangan tersebut sangat berbau irasional atau sentimental.

Wallahu A'lam


sumber: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan 8

Update: 26 Maret 2019 22:57

Komentar

  1. Di keluargaku di larang golput dari zaman dulu karena ya itu tadi dengan golput kita itu sedang cuek atau apatis dengan negara kita sendiri. Meskipun hingga sekarang masih banyak orang mengatakan lebih baik golput toh nggak milih juga tetap bisa kerja. Tapi, it's a wrong thinking, menurutku.

    Golput justru memberi dampak yang luar biasa kepada kita semua, termasuk yang golput tadi. Apa dampaknya? Banyak sekali sebenarnya kalau didiskusikan. seperti yang disampaikan kakak, golput itu bisa mengurangi 1 suara suara untuk 1 paslon dan merugikan paslon lain.

    Namun, sampai saat ini masih banyak sekali orang-orang yang bertemu secara tidak sengaja atau sengaja pada saat di jalan. Seperti waktu naik taksi atau semacamnya, mereka terang-terangan golput dengan alasan sama saja.

    Semoga makin banyak orang yang mampir ke sini dan baca postingan ini, sehingga orang-orang bisa mensosialisasikan gerakan anti golput.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir dan memberi tanggapan..

      1 suara yang kita kasih adalah saham untuk perubahan negeri, pada setiap kebijakan orang-orang yang kita pilih di DPR, DPD, dan Presiden-Wakil Presiden ada turut andil kita di dalamnya.. kita harus menangkan orang-orang baik, jujur, berintegritas utk memimpin dan menjadi wakil rakyat di DPR, atau setidaknya mereka yang mudharatnya lbih kecil kalau susah menemukan orang-orang yang bisa dipercaya atau yang kita anggap ideal utk menggoes roda pemerintahan..

      Memberikan suara adalah bagian dari perjuangan, golput mungkin ideal kalau dilakukan dalam pemilu calon tunggal, kalau ada dua, menangkanlah salah satunya..

      Sepahit-pahitnya memilih, lebih baik daripada tidak memilih, setidaknya kita sudah mencoba berikhtiar memilih yang terbaik.. usaha bagian dari optimisme untuk mengubah keadaan..

      Semoga gak ada yang memilih golput, meski boleh (hak tidak memilih), tapi seharusnya bukan pilihan yang mudah untuk dipilih..

      Hapus

Posting Komentar