Menimbang Nilai

Memasuki bulan April 2019, 16 hari lagi Pesta rakyat digelar, dan 34 hari lagi Ramadhan 1440 H akan tiba.  Waktu terus bergulir cepat, meninggalkan sebagian waktu yang sudah terlipat menjadi kenangan-kenangan yang tersimpan di dalam memori. Diri kita menjadi kumpulan memori, menjadi bank amal, menjadikan kita sebagai wujud atas waktu yang pernah kita miliki.

menimbang nilai


Waktu yang di dalamnya pernah kita berbuat benar dan salah, baik dan buruk, pahala dan dosa, ingat dan lupa. Kita manusia biasa. Tak semua hal baik bisa kita lakukan, tak semua hal buruk bisa kita jauhi. Tak semua hal yang kita anggap baik itu baik, tak semua hal yang buruk itu ternyata buruk. Tak semua anggapan itu nyata, tak semua yang tak nyata itu tidak ada. Keyakinan adalah rel dari semua tindakan yang kita pilih. Mengantarkannya pada stasiun harapan di muka waktu saat ini.

Tindakan, hanya dengannya, yang bisa membawa perubahan. Namun, tindakan itu harus diisi terlebih dahulu dengan “arah” agar tindakan itu bertujuan dan terukur. Eksekusi pada satu aksi, harus mempunya gema, tak berhenti pada satu titik, dia harus merangkai pada satu titik-titik selanjutnya. Tindakan yang melahirkan tindakan.

Pikiran dan keyakinan adalah benih untuk berbuat, dan tindakan yang menumbuhkan ide dan keyakinan menjadi pohon, sebelum akhirnya berbuah pada musimnya. Pada musim itu, kita menikmatinya dengan memetik buah yang menjuntai sambil bersandar pada batang pohonnya.  Mungkin musim itu masih jauh, dan benih ini masih berupa benih.

Keyakinanlah yang memberi value "benar" dan "salah". Fakta apa pun tentang kebenaran yang diterima, jika tak meyakini, maka ditolak kebenarannya. Sesalah apa pun sesuatu yang kita yakini benar, tak akan mengubah penilaian tersebut. Benar dan salah bukan sesuatu yang mudah untuk kita bedakan, seperti halnya hitam dan putih, tanpa rumusan yang baku. Bahkan sekalipun tampak jelas hitam dan putih menurut mata kita, tapi bisa jadi berkebalikan menurut mata orang lain, seperti halnya warna invert. Maka meributkan sesuatu yang "berbeda" adalah sia-sia (kecuali untuk tujuan mencari kebenaran dengan hati dan pikiran yang terbuka)

Tugas kita bukanlah untuk “berdebat’ tentang benar dan salah, bukan untuk membenarkan yang benar, dan menyalahkan yang salah. Tugas kita adalah melakukan kebenaran itu. Menebarkan sebanyak-banyaknya kebenaran yang kita yakini tanpa meributkannya dengan mereka yang berbeda. Jika mereka menyalahkan kebenaran kita, jawablah dengan kebaikan.

Kebaikan adalah sentuhan awal dari kebenaran, meski tak semua kebaikan adalah kebenaran, tapi kebaikan adalah awalnya. Awal untuk membuka hati pada kebenaran yang sejati. Kebaikan seperti usapan pada hati, membersihkannya, melembutkannya. Hati yang sudah jatuh dalam kebaikan, maka ia akan mencari jalannya untuk mencapai kebenaran. Dan kebenaran yang berhasil tercapai dan terintegrasi dengan diri (bukan sebatas pada pikiran) akan membuatnya menjadi manusia yang baik secara menyeluruh. (Mampukah kita menjadi manusia yang demikian? tak hanya mampu berbuat baik di kala mudah, tapi di kala sulit. Tak hanya berbuat baik pada orang baik, tapi juga kepada orang yang tidak baik).

Tebarkanlah kebaikan yang bisa kamu lakukan, sekecil apa pun, sebab yang kecil itu apabila ikhlas, lebih berat dari amal sebanyak apa pun yang dilakukan hanya untuk riya dan tanpa ikhlas. Kebaikan yang kecil dan sepele itu, bila terus menerus dilakukan tentu menjadi sesuatu yang lebih mengesankan. Luput dari perhatian makhluk, tapi tidak dengan-Nya. Kebaikan kecilmu tetaplah berarti.

Kelemahan dan kekurangan bukan menjadi alasan untuk tidak berbuat (beramal). Sejatinya dalam kelemahan dan kekurangan ada beratnya timbangan amal. Orang yang tetap baik dalam kesulitan dirinya tentu tidak bisa disamakan dengan orang yang baik dalam keadaan dirinya sedang baik. Mereka yang lemah dalam berbuat tapi tetap berbuat lebih utama perbuatannya daripada mereka yang berbuat karena mereka bisa berbuat. Muslim yang taat di masjid tak sama nilainya dengan Muslim yang tetap taat di tempat yang memungkinkan dia jatuh dalam dosa. Bukan kebaikan itu yang menjadi tolak ukur, tapi keadaan diri kita saat kita melakukan kebaikan itu.

Waktu yang tak bisa diraba --akan membawa kita kemana-- menjadikan kita lebih bertumpu pada waktu saat ini, yang sedang kita miliki, dan pada kondisi saat ini yang sedang kita jalani, sembari tetap melihat ke arah “depan” pada waktu yang kelak kita hadapi.

Sisihkan sejenak waktu untuk masuk ke dalam hati, merasainya, dengan penuh rasa, dan kita tidak akan bisa melakukannya tanpa adanya perasaan yang kuat –sangat kuat-- untuk mendorong kita memasukinya. Di dalamnya, renggangkan pikiran yang terikat kencang pada rutinitas, dan pada pola-pola pikiran. Heningkan. Mulail sadari dan rasakan rasa yang ada.

"Bila kita bisa masuk ke dalam inti rasa, kita akan bisa merasai segala, di mana di dalamnya hilang kita, menjadi rasa yang tunggal.
Cinta mengajarkan sebagian dari sifat bijak manusia, yang hadir --sifat bijak tersebut-- meski hanya sebentar, sebelum kembali tersadar oleh realita, mengembalikannya pada ego pikiran."

Realita adalah permukaan diri kita, sebagaimana permukaan, ia hanya tampak di muka saja, tidak di bawahnya yang menyimpan sebagian besar diri kita yang tak mengemuka. Realita yang terlihat bisa saja penuh dengan rekayasa, pencitraan-pencitraan, atau gambaran yang terlukis oleh anggapan, atau adalah kenyataan apa adanya, kejujuran, kepolosan. Realita bukanlah segalanya melainkan yang tidak pernah kita tahu ada di bawahnya. Jadi jangan menganggap realita adalah kebenaran final, tanpa mencari tahu ada apa di baliknya. Di sinilah kita tak perlu menilai terlalu buruk pada orang lain, namun juga tidak berarti menilai terlalu baik pada orang lain. Jangan mengkultuskan seseorang hanya didasarkan pada kebaikannya, atau membenci seseorang terlalu dalam hanya pada keburukannya. Berlaku sahaja, proporsional dalam menyikapi sesuatu, sederhana, tidak berlebihan dalam melakukan penilaian, karena masih banyak hal yang tidak atau belum kita ketahui.

Begitu pun dengan tulisan ini, jangan percayai sebagai kebenaran-kebaikan. Tulisan ini hanyalah tulisan: bisa salah, bisa benar. Tak ada yang mutlak. Bila memang benar, bisa jadi benar. Bila memang salah, bisa jadi salah. Tentu ada alasan seseorang membenarkan, dan ada alasan pula orang menyalahkan. Bila lisan Nabi saja yang mutlak kebenarannya, masih banyak orang di kaumnya yang menyalahkan, apalagi kita orang biasa? Jika firman Allah yang mutlak benar saja, masih banyak manusia yang tak meyakini, apalagi kita yang hanya makhluk melata? Kebenaran universal hanya ada di wilayah abu-abu, wilayah yang dipertemukan oleh sebagian hitam dan putih. Wilayah yang menjalankan kebenaran sembari menolerir keburukan. Bepegang pada kebaikan ketika ada di wilayah pertemuan. Namun, akan mengangkat pedang, bertahan, tatkala diserang. Kebaikan ada batasnya, yaitu saat kebenaran terancam.

Tak semua hal buruk harus dibasmi habis, sebagaimana tak semua hal baik itu bisa dilakukan semua. Proporsional. Umat yang terbaik adalah yang berada di pertengahan dengan segala tafsirnya. Kita tidak perlu menang dengan cara mengalahkan, sementara kekalahan sejatinya adalah jatuh dalam keburukan, dan kemenangan sejatinya adalah tetap berpegang pada kebenaran. Selama kita konsisten pada kebenaran, selama itu kita disebut menang.

Wallahu A'lam

selepas rintik hujan...

note: Perselisihan akan selalu ada, tak ada satu ayat pun yang diturunkan lalu seluruh manusia tunduk mengikutinya, kecuali hanya mereka yang mengimani Yang menurunkan ayat itu sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Bahkan perselisihan terhadap satu ayat pun terkadang timbul saat ada perbedaan pendapat mengenai tafsiran. Dalam ruang lingkup kebenaran pun ada perbedaan, apalagi dalam ruang yang lebih luas dan kompleks.

Jadi jangan takut untuk menyuarakan kebenaran menurut keyakinan setelah menggunakan akal yang sehat untuk menimbang dan hati yang terbuka untuk peka merasa (katakan dengan baik: benar itu "benar!" dan salah itu "salah!").

Jangan takut untuk salah, selama kita berpegang pada-Nya, maka bila kita salah, Dia yang akan menjatuhkan, membimbing, lalu menggiring kita kembali ke tempat yang benar. Carilah kebenaran itu di balik pintu kebaikan. Kebaikan yang memberimu rasa damai dan tenang. Timbang-timbanglah dalam menilai.

Komentar

  1. Melakukan kebenaran dan menyebarkan kebenaran. Rasanya sudah cukup. Daripada terjebak kata atau penilian benar dan salah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar.. setelah menemukan kebenaran yang diyakini kemudian melakukannya sebanyak mungkin kebenaran itu, daripada sibuk berdebat dan beretorika tentang benar dan salah yang akhirnya saling ribut menyalahkan..

      Terima kasih sudah menanggapi, sukses selalu..

      Hapus
  2. Berusaha menjadi manusia yang baik dan lebih baik serta melakukan sesuatu yang benar menurut Norma Kehidupan & Agama, itu lebih dari cukup.

    Karena manusia pasti selalu ingin terus berusaha menjadi lebih baik dan lebih baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Idealnya demikian, meski baik dan buruk itu relatif, terkadang kita suka mempertengkarkan versi baik masing-masing yang justru itu membuat kita berlaku buruk..

      Terima kasih sudah mampir..

      Hapus
    2. Ah iya, sama seperti cantik. Cantik itu relatif.
      Baik dan buruk itu juga relatif.

      Tapi, sederhananya mari berusaha menjadi manusia yang lebih baik menurut versi masing-masing.

      Salam Kak.

      Hapus

Posting Komentar