Ambil Hikmah dari Waktu yang Terlipat

Pikiran bisa mewakili hati untuk berbunyi meski terkadang tak gamblang dalam mengungkapkan siratan rasa. Pikiran merupakan satu bagian dari entitas diri yang terefresh ulang setiap kali melakukan aktualisasi. Pikiran bila mengemuka dalam kata bisa berasa dengan rasa yang berbeda pada tiap-tiap mata. Bahkan dengan satu saja karakter, bisa menambah rasa, dan mengupdatenya dalam ingatan, memutar kembali memori.



Setiap dari kita punya cache atas waktu yang sudah berlalu, tersimpan terikat dalam rangkaian peristiwa. Pertemuan dan perpisahan. Adalah rangkaian yang telah digariskan jauh sebelum terjadi. Bila kita percaya akan Qalam yang telah menuliskannya di lauh-Nya. Tak ada sesal yang menenggelamkan diri atas apapun yang terlewati kecuali menjadi pelajaran di waktu kini untuk waktu yang akan datang. Sesal yang berlebih pada sesuatu sehingga memunculkan kata “andai”, itu adalah bagian dari angan, dan angan timbul dari adanya kelemahan.

Segala yang terjadi memiliki asbabnya maka pelajari bagaimana sesuatu itu bisa terjadi. Dan apakah kita akan menunggu sampai muncul sebab-sebab itu? Sampai waktu berakhir tanpa upaya menghadirkan daya untuk menggerakkan jarum jam perubahan? Dan jadilah kita bagian dari orang-orang yang merugi atas waktu yang sudah diberikan. Maka, kuatkanlah bila lemah dengan upaya. Upaya adalah menguatkan diri dalam tujuan.

Ada masa lain yang lebih panjang dan berat daripada masa saat ini. Dan masa saat itu sangat ditentukan keadaannya oleh masa saat ini. Masa lalu seperti lembaran buku yang bisa kita baca saban waktu dan simpan kembali di rak buku. Waktu lalu adalah khazanah, yang terkadang saat dibaca bisa memberi jalan baru menghadirkan visi dan inspirasi. Memperbaharui ulang diri, tak melulu ceritanya beroman senja. Tak selalu ada kesedihan seperti tatapan tua yang meratapi waktu yang telah terlipat. Sebab semua itu sudah “khatam sud”. Berakhir sedetik lalu. Sejatinya semua yang pernah terjadi di masa lalu bila dipetik kisahnya hari ini mempunyai hikmah dibaliknya. Masalahnya apakah kita mau mengambilnya menjadi sebuah pelajaran yang berharga untuk kita gunakan hikmahnya pada saat ini? Menjadi benih buah pikir untuk ditanam menjadi buah amal.

Dalam waktu yang berlalu itu, ada kita, kenangan, dan segala amalnya. Perbaharuilah semua itu sehingga tidak ada lagi kenangan dan amal buruk hanya ada kenangan dan amal baik. Hal paling berat dan menjerumuskan seseorang dalam lembah hitam duka tidak hanya di akherat akan tetapi langsung dirasakan di dunia adalah dosa horizontal, yaitu dosa pada sesama manusia. Hubungan-hubungan kita pada sesama manusia bila tidak dijaga baik maka akan terjadi permasalahan krusial yang secara langsung atau tidak langsung akan berdampak pada kehidupan diri yang bersangkutan. Minimalnya adalah terjadinya gejolak batin dan pikiran yang bergumul menghadirkan ketidaktenangan, kesempitan, dan rasa putus asa dari harapan. Tidak ada optimisme menatap masa depan, seolah segala ruang menyempit, dan segala pintu tertutup. Adanya kecenderungan untuk membawa diri ke tepi jurang dan melompat ke dalamnya. Mengharapkan binasa.

Dosa atau kesalahan yang tercipta akan menciptakan dosa-dosa yang baru, sebagaimana sebuah renteten peristiwa. Setan tidak akan pernah berhenti untuk menggoda, mungkin awalnya ringan saja saat perbuatan dosa itu dilakukan, namun lama-lama akan mengajak pada perbuatan yang lain dengan kadar dosa yang besar, atau masih sama sehingga menjadi koleksi amal buruk. Lama-lama, bila tidak dipertobati, dosa kecil remeh temeh itu menjadi lautan dosa yang menenggelamkan kita di dalamnya. Hal yang disadari saja masih banyak dari kita melakukan, terus terulang, bagaimana kiranya bila tidak disadari? Wallahu a’lam. Kita bukan hakim bagi yang lain. Namun, kita adalah pengingat bagi yang lain dengan mengingati diri kita sendiri.

Ada rahmat dalam air mata yang lahir dari rasa sesal. Dimanakah Rabb itu kini? Dia ada di dalam hati orang-orang yang menyesal. Menyesali setiap perbuatan lampaunya, yang bermuatan salah dan dosa. Salah dalam mengambil langkah. Rasa sesal yang menerbitkan keinginan berbenah, bukan rasa sesal yang kemudian bersikat lemah (futur). Obati sesal dengan berubah. Upgrade keburukan (bug) dengan kebaikan. Setiap ada keinginan yang baik, Allah datangkan jalan sebagai wasilah baginya dan kebaikan itu, meski itu butuh waktu. Buah perlu waktu untuk membuatnya menjadi harum karena ranum, namun bisa mengulat bila telat dipetik.

Boleh saja habiskan seluruh harapan, namun satu yang tidak boleh diluruhkan, yakni harapanmu pada-Nya. Pada akhirnya, hanya itu yang tersisa di ujung waktu yang kita punya.

Wallahu A’lam, tak ada kebenaran dalam tulisan dari hamba yang dhoif.

Catatan: { ... }

Comments