Benar atau Baik?

Benar belum tentu baik, dan baik belum tentu benar. Selama kebenaran dan kebaikan itu datangnya dari manusia, baik dan benar adalah relatif, bergantung pada situasi, kondisi, waktu, dan tempat. Orang baik pada dasarnya adalah orang yang lembut hatinya sehingga dengan kelembutan itu dia bisa berbuat baik. Kelembutan hati tanpa diimbangi dengan ketegasan bisa mudah dihack oleh keadaan dan orang lain.



Orang benar selalu memegang teguh prinsip yang diyakininya benar. Dia tidak memandang baik atau buruk karena selama itu benar maka itu baik menurutnya. Orang benar terkadang dianggap keras bahkan bisa dijauhi karena kebenarannya. Orang ini juga rentan dimusuhi dan mendapatkan banyak gangguan bilamana ada kepentingan pihak lain yang terusik. Namun, dibandingkan dengan orang baik yang benar, orang benar yang mengutamakan kebenaran akan lebih cocok berada di garda depan menghadapi kebatilan secara langsung. Head to Head.

Jadi, benar atau baik?

Bila memilih baik, jadilah orang baik, tapi belum tentu orang yang baik itu adalah orang yang benar jika dia tidak membawa kebenaran. Kebaikan yang berlebihan terkadang bisa membawa petaka bila dilakukan dengan tidak tepat sasaran.

Bila memilih yang benar, siap-siap saja, kebenaran itu akan mengasingkan diri dari keramaian. Hal negatifnya jika kebenaran itu terlalu berlebihan sehingga muncul perasaan merasa benar sendiri bisa berujung pada penyepelean dan penghakiman pada pendapat yang lain. Sikap membawa kebenaran yang berlebihan (keras) bisa melupakan seseorang untuk berbuat kebaikan dalam prosesnya meski tujuannya adalah untuk kebaikan.

Benar atau baik, bila dilakukan secara berlebihan bisa berdampak sama dengan salah dan buruk. Di sinilah perlu adanya keseimbangan yang menyeimbangkan keduanya.Kebenaran perlu adanya kebaikan sehingga kebenaran itu diterima oleh banyak orang, dan kebaikan perlu dilakukan dengan membawa kebenaran agar kebaikan itu menjadi lebih tepat. Jangan lupakan dan memisahkan keduanya.

Ada satu pesan yang terngiang dari seorang ulama yang dikenal moderat asal Mesir: Syekh DR. Yusuf Al-Qardhawi, beliau pernah berkata bahwa hendaknya mereka yang telah maju untuk mundur, dan yang tertinggal di belakang untuk bergerak maju. Makna dari pesan ini adalah persatuan (dalam satu shaf). Tidak saling meninggalkan atau mendahului, tidak saling membelakangi, dan membiarkan dirinya tertinggal dari yang lain sehingga tetap dalam satu kesatuan. Pesan ini juga bisa berarti agar memiliki sifat “pertengahan”: tidak terlalu keras dalam berpaham dan bersikap, namun juga tidak terlalu lembut dan berkasih sayang sehingga mengabaikan kebenaran karena lebih mengutamakan kebaikan.

Jangan lupa berbuat baik meski benar, dan janganlah lupakan kebenaran ketika berbuat kebaikan.

Comments