Semua Ini Tentang Rasa

Iman soal rasa, dan rasa yang menuntun kita mengikuti ajaran Allah tanpa meragukannya. Rasa itu tidak pernah tetap kecuali ditetapkan dengan menetapkannya. Ibadah adalah cara menetapkan iman di dalam hati. Ibadah yang mengendur mengakibatkan iman melemah. Imah yang lemah mengakibatkan ibadah semakin kendur sehingga lama-lama akan timbul kemalasan dan penundaan dalam melaksanakan ibadah. Saat iman lemah, hati akan mudah tergoda melakukan kemaksiatan dan dosa. Pikirannya akan menyelisihi kebenaran, menolerir kesalahan, dan keburukan.



Selain ibadah, iman bisa ditingkatkan dengan mempelajari agama atau semakin intens dekat dengan konten-konten agama. Berhubungan dengan orang-orang yang baik agamanya sehingga mereka bisa mengajak pada kebaikan dan memberi nasihat-nasihat yang baik. Carilah dengan apa hati bisa tersentuh sehingga pemahaman agama bisa terserap, menambah keyakinan akan agamanya dan bukan semata benar hanya di dalam pikiran sehingga jadilah kita sebagai orang-orang yang bersaksi bahwa benarlah Allah dan Rasul-Nya.

Setelah ibadah dan belajar agama, saatnya membumikannya. Mempraktikannya dalam kehidupan harian adalah cara menumbuhkan rasa itu agar semakin berakar dan menguat, tumbuh menjadi pohon yang menaungi hati dan memberi buah di dalam pikiran serta terang di dalam jiwa.

Iman pada-Nya yang membuat posisi hati berada di tempatnya, tidak terbalik. Bila hati sudah ditetapkan dalam iman, maka pancarannya memercik kepada akal pikiran. Akal mendapatkan tuntunan untuk mengikuti jalan yang lurus. Jalan yang benar. Iman melembutkan hati untuk menerima kebenaran dan menjalankannya.

Dekat-dekatlah dengan Allah, niscaya iman itu akan penuh, tercharger. Mendekati Allah adalah dengan ibadah dan turut peduli dengan agama Allah dan urusan kaum Muslimin sebagai satu saudara kandung di dalam iman. Tidak suka menyelisihi sesama Muslim meski berbeda paham, tetap mengutamakan kebaikan sebagai alat rangkul. Jika kita tidak bertemu di dalam paham, kita bertemu di dalam Islam.

Sesama Muslim telah diikat dalam tali persaudaraan di jalan Islam, sehingga tidak perlu untuk saling menyikut dan menjatuhkan hanya karena perbedaan paham. Bila ada cara terbaik dalam berselisih, mengapa harus menggunakan keburukan?  Selama ia Muslim, dahulukan perasangka yang baik. Sebagaimana kita mengutamakan saudara dan keluarga dibandingkan orang lain maka itu berlaku pula di dalam Islam. Utamakan agama di atas golongan. Islam di atas semua paham. Jangan turuti penyakit hati yang membuat kita saling berselisih.

Islam adalah agama yang benar bagi yang mengimani, dan agama yang baik bagi yang merasakan nikmatnya iman di dalam Islam. Nikmat yang tidak diberikan oleh dunia melalui fisik, melainkan dari Allah langsung ke hati manusia. Nikmat yang tidak mungkin dirasakan bagi mereka yang tidak beriman, atau hanya berislam tanpa mengimani dan menjalankan ajaran Tuhannya. Nikmat itu juga tidak dirasakan sepenuhnya bagi yang berislam hanya terlahir dari keluarga Muslim. Islam yang hanya dijalankan secara ritual: Sholat, Puasa, dan berlebaran. Namun, mengabaikan ajaran-Nya di dalam Islam –meliputi hakikat dan syariat.

Bagi pencari kebenaran, Islam sangat rasional, mudah dicerna akal. Bagi pencari kebaikan, Islam agama cinta, agama yang Tuhannya penuh kasih dan sayang. Islam universal, untuk semua umat manusia. Jika Islam itu kemudian dijelek-jelekkan hanya ada 2 sebab: hati yang menyimpan kedengkian pada Islam, atau pemahaman yang kurang terhadap Islam dan hanya melihat sebagian Muslim yang tidak mempresentasikan Islam dengan baik lalu menyimpulkan Islam itu agama yang tidak baik. Tentu yang menilai demikian secara terang-terangan sedikit orang, sisanya menilai positif terhadap Islam, namun hanya sedikit saja yang benar-benar menilai secara jujur.

Saya mungkin bukan orang yang tepat untuk mempresentasikan Islam dan bukan pula pantas menulis banyak tentang agama karena kefaqihan saya yang kurang, terlebih saya tidak bersertifikat dan tidak punya lisensi sehingga kapasitas saya meragukan, dan saya pun memang bukan bagian dari orang-orang yang faqih lagi hanif, hanya hamba yang dhoif. Jadi jangan ambil pendapat saya sebagai kebenaran tanpa adanya pembanding yang lebih baik, ini hanya opini pribadi. Namun, perihal kebenaran Islam itulah pendapat saya yang berani saya klaim sebagai kebenaran, tentu saja karena saya Muslim.

Tulisan ini dibuat untuk mengurai rasa, karena semua ini tentang rasa sebelum masuk ke dalam logika.

Wallahu A'lam, kebenaran hanya milik Allah semata.

Catatan tambahan:

Rasa tidak pernah berdusta, hanya tidak pernah tetap ada bila tidak dijaga. Namun, rasa bisa kuat dan lemah, bergantung pada pencecapnya. Bila sensitifitasnya berkurang, rasa yang dirasakan juga turut berkurang, tidak presisi lagi seperti sebelumnya. Kuat lemahnya rasa bergantung pada kita yang merasakannya. Bila rasa itu timbul dari keinginan, maka rasa itu bisa dipastikan akan berubah: muncul, dan hilang. Bila rasa itu berasal dari adanya keinginan yang kemudian seiring waktu terjaga terpelihara dengan baik sehingga menjadi suatu kebutuhan, menyatu bersama hasrat di dalam jiwa (namun bukan nafsu), akan memberi getaran pada hati dan pikiran. Rasa itu tidak akan mudah untuk berubah apalagi terganti. Maka itulah Iman, dimana hati akan bergetar bila nama-Nya disebutkan dan didengar, dan apa yang kita rasakan di dalam iman, dirasakan pula di dalam cinta, karena iman dan cinta adalah rasa, yang hanya bisa dicecap di dalam hati manusia, dan urusan hati adalah urusan Allah. Allah yang membolak-balikan hati, menetapkannya, menerangkannya dengan hidayah, menggelapkannya dengan bintik-bintik dosa, memberi nikmat dan siksa.

Comments