Catatanku: Tulisanku Darimu

Memahami akan sesuatu membuatku terdiam. Tidak mampu menuliskannya. Hanya bisa dirasakan. Tidak semua rasa memang bisa diungkapkan, dan tidak semuanya juga harus diutarakan. Menyerahkan semua pada mekanisme takdir Tuhan melalui waktu yang mengalir, membiarkan semua terjadi. Mungkin saja, pena-Nya telah menuliskan demikian. Yang tertulis untukku: aku harus diam. Atau mungkin, aku bisa memilih: diam dan menyiakan kesempatan dalam berbuat, atau berbuat untuk mengambil tempat di dalam catatan-Nya.



Jika aku salah maka inilah aku yang sebenarnya: bodoh dan lemah. Jika aku dianggap benar maka mereka telah salah (yang menilaiku benar) dan mereka telah benar (yang menilaiku salah). Bagaimanapun aku tetap salah (mutlak) dalam pandangan manusia. Masalahnya, apakah ingin dipandang manusia atau Dia? Mencari perhatian-Nya atau hanya dia, atau mereka yang serupa sebagai makhluk-Nya?

Aku bukan Fatoni. Fatoni, tidak pernah ada dalam hari ini. Ia telah hilang. Dan aku yang menuliskan tulisan ini bukanlah dia, melainkan kamu. Kamu yang membaca tulisan ini, siapa pun kamu menganggap dirimu siapa.

Aku memang kamu. Kamu yang membaca tulisan ini. Anggap ini catatanmu. Jika kamu merasa tidak pernah menuliskannya, mungkin diri kamu yang lain, yang menuliskannya. Diri yang dunianya tidak pernah kau alami dan rasakan sendiri.

Anggap ini hanya cerita untuk disimpan dalam catatan-Nya yang menuliskan tentang kita. Kelak catatan itu akan diberikannya, “Bacalah,” perintah-Nya. Cukup dirimu yang  menjadi saksi untuk dirimu di hadapan-Nya.

Note:

Sungguh penaku lebih kecil dari pena-Nya. Penaku sedebu atom bahkan sejuta kali lebih kecil lagi di semesta-Nya. Penaku hanya sanggup menuliskan sebagian kecil atas diriku dan pengetahuan yang remeh temeh (bahkan aku belum terlalu benar dalam menggenggam penaku sendiri). Sementara pena-Nya menuliskan tentang segala-galanya, melampaui semua yang tidak akan pernah sanggup ada dalam pikiran manusia kecuali hanya sebagian kecil saja yang bila diumpamakan seperti setetes air di samudera.



Maka sembahlah Dia, Allah-mu saja, jangan ada ilah-ilah lainnya. Dia yang Satu dan menjadikan dirimu sebagai kamu (siapa pun kamu menganggap siapa). Jangan tentang ayat-ayat-Nya, bacalah dengan kelembutan qalbu, sambil bertafakkur. Di dalamnya ada petunjuk untuk hati yang mau mengambilnya dan untuk akal yang mau memikirkannya.

Bila hatimu menolak, mintalah pada Tuhan yang kau percaya untuk memberi hati yang mau menerima kalam-Nya dengan ketundukkan. Bila pikiranmu menentangnya, mungkin akalmu belum mencari-Nya, sehingga belum tiba di Kaki-Nya (merasakan kekuasaan-Nya) yang membuatmu ingin bersimpuh pada-Nya, meletakkan akal (pikiran manusiamu yang lemah) dan memuliakan-Nya di dalam qalbu di mana Allah telah membukanya (memberi hidayah) untuk diletakkan iman di dalamnya.

Bersyukurlah. Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah, yang telah memberi apa yang dicari bagi sebagaian besar manusia yang mengharapinya, yaitu bisa memiliki iman itu. Namun, tidak semua manusia Allah beri, termasuk diri ini yang belum sepenuhnya totalitas dalam keimanan pada-Nya.

Wallahu A'lam

Comments