Nama


Saya tidak ingin dikenal melebihi nama. 

Kata orang, nama adalah doa, maka orang selalu pasti memiliki nama yang bermakna atau nama yang mempunyai hubungan dengan sesuatu hal yang berarti. Para orang tua tidak mungkin mencetuskan nama begitu saja tanpa mengasosiasikannya dengan sesuatu hal di dalam benak atau pikirannya. Pikiran itulah yang kemudian memberi “arti” di dalam setiap huruf-hurufnya, yang kemungkinan bisa saja terjadi perbedaan antara makna nama yang sebenarnya (definisi yang diterima secara umum) dengan makna nama yang diberikan (secara khusus). Sehingga apalah arti sebuah nama, karena makna nama bergantung pada yang mengucapkannya –seperti itu pula dengan simbol yang bergantung pada mata yang melihatnya bagaimana mengartikannya.

Sebuah nama memiliki arti lebih luas dari definisi baik secara umum yang diketahui (kata dan arti) maupun yang khusus (dimana hanya para orang tua yang mengetahui maknanya). Bersyukurlah, apapun namamu pastilah itu hal yang positif meski kamu tidak tahu arti namamu. Menjadi doa dan harapan yang baik untukmu dalam hidup dari siapa pun yang menyebutmu, memanggilmu dengan namamu, bahkan bila itu hanya ada di dalam pikiran dan hati manusia lainnya.

Saya tidak ingin dikenal melebih nama. Nama dan saya adalah dua hal yang berbeda. Nama saya bukanlah saya, dan saya bukanlah nama saya. Antara saya dan nama diikat oleh pikiran orang lain dan pikiran saya sendiri. Pikiran saat nama disebutkan merujuk pada eksistensi sesuatu, jika eksistensi itu adalah saya, maka nama itu menjadi saya. Jika bukan, itu bisa berarti yang lain. Terlebih bila nama itu banyak berjuta orang memilikinya di seluruh dunia. Bagaimana kita tahu bahwa nama yang kita sebut merujuk pada satu orang tertentu? Pikiran, yang dengan cepatnya mengunggah satu sosok yang pernah dilihat, didengar, dirasakan, dan didefinisikan saat huruf pertamanya terucapkan. Semua itu didahului oleh “maksud”, bukan pada kata. Didahului oleh “bayangan” benak, sebelum muncul menjadi bentuk.

Blog ini diberi nama “Fatoni”, pemiliknya bisa saja orang lain karena nama itu dimiliki banyak sekali orang. Saya pun hilang di antara kerumunan orang dengan nama itu. Nama adalah tanda, tapi saya bukanlah tanda itu. Bukan berarti saya. Namun, perlu diakui kaitan nama dengan satu entitas menjadi kata kunci untuk mengekstrak memori tentang entitas itu. Selama itu ada dalam pikiran kita, maka kita tidak akan pernah kehilangannya. Begitu pun saat saya menyebutkan satu buah nama.

Comments