Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Al-Aqsha dan Bisunya Dunia


Ketidakadilan itu nyata dengan jelas di depan mata saat serdadu ke sekian kalinya menyerbu masuk ke tempat suci, memukuli, menangkapi, sementara dunia bisu melihatnya. Tak bersuara dan memberi sanksi apapun. Tak seperti saat negeri beruang menerkam negeri dengan lambang trisula itu, yang membuat dunia mengutuk, mengecam, memberi sanksi, bahkan seluruh platform digital menyuarakan untuk menghentikan perang dan akan memberi warning pada mereka yang mendukung agresi.

Bukan hal yang mengherankan mengingat dominasi dunia berada dalam kendali kelompok siapa. Banyak alasan mereka katakan untuk membenarkan kekerasan pada kelompok yang berjuang demi kemerdekaan. Tak pantaskah negeri yang teraniaya itu mendapatkan pembelaan yang sama seperti negeri yang dibela itu?

Tanahnya diduduki, penduduknya dizalimi, sudah lama kebebasan direnggut paksa dari mereka. Apa bedanya saat negeri trisula digempur beruang? Bukankah seharusnya sama? Sama-sama mengalami penyerbuan. Bahkan negeri dengan tanah suci tiga agama itu lebih parah dari negeri trisula. Penderitaan panjang telah mereka alami selama puluhan tahun. Hanya mereka yang tunduk pada kaki-kaki penjajah yang mampu merasakan nafas yang lebih panjang.

Maka jangan salahkan bila banyak yang lebih mendukung negeri tsar ketimbang harus bersimpati pada negeri yang mendukung pendudukan bintang dawud atas tanah suci meski dalam kondisi yang memprihatinkan dengan banyaknya kehancuran dan pengungsian yang belum pernah di alami di benua biru paska 1945.

Apa yang bisa mendamaikan dunia ini? Walau tak ingin ada yang lebih parah dari peristiwa dulu yang melahirkan negeri adidaya saat ini. Namun, bila itu jalan satu-satunya, semoga Tuhan lekas mengabulkan. Semoga perdamaian dunia segera terwujud walaupun kita tahu ada harga yang harus dibayar untuk itu.

Posting Komentar untuk "Al-Aqsha dan Bisunya Dunia"