Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puasa dan Revolusi


Ramadan bulan perjuangan. Bulan ghirrah kembali pada ketaatan. Allah memanggil orang-orang beriman untuk berpuasa. Mengajak mereka semua pada takwa. Tiada yang terpanggil oleh seruan-Nya, selain mereka yang di dalam hatinya ada iman walau hanya sebiji sawi. Bila hidayah telah tiba pada mereka yang dikehendaki menjadi gerak yang menghembuskan bola-bola untuk menggelinding di atas permukaan. Kehendak beriak menjadi ombak mengiris karang keras diri yang beku membatu oleh dinginnya rasa.

Orang-orang yang telah jatuh dalam kefasikan, kemunafikan, dan kemusyrikan akan sulit menuju pada takwa dengan taat mengikuti keimanan melalui puasa dengan sebaik-baiknya puasa. Tidak hanya memuasakan perut dan apa yang ada di bawah perut tetapi juga memuasakan semua pintu-pintunya masuk ke dalam hati dan pikiran, yaitu panca indera. Menahan diri dari luapan reaksi dan aksi yang membutakan.

Mereka yang terpanggil berpuasa adalah mereka yang beriman. Melanjutkan hidayah yang mereka terima sebagai gerak iman. Tak sebatas pada ingin tetapi menjadikannya sebagai ritme. Pembiasaan selama sebulan penuh. Meniadakan “berhala” di hatinya dan gantungan yang membuatnya terikat. Puasa yang mencari keridhoan membebaskan diri dari belenggu dengan mengikat liarnya syahwat. 

Apa yang didapat dari puasa di bulan Ramadan? Perubahan. Perubahan memang sebuah keniscayaan tetapi perubahan yang mengarah kepada keridhoan Allah hingga sampai pada pintu gerbang surga adalah sebuah kemenangan paripurna. Kemenangan itu sebagai hasil perjalanan revolusi seorang muslim dari mukmin menjadi muttaqin. Sebulan adalah masa yang singkat tetapi menjaga hasil sebulan sepanjang hidup adalah hal yang sulit. Untunglah Ramadan tidak datang sekali tetapi berkali-kali. Namun, apakah kita terlambat menyadari, bila seandai Ramadan ini akan menjadi Ramadan terakhir kita? Apakah kita akan menyia-nyiakannya? Satu kesempatan yang belum tentu datang kembali di tahun depan. 

Muslim yang diajak pada takwa dimulai dari menjadi seorang mukmin. Mereka yang tidak mengharap balasan iman itu dari Dunia. Meyakini tak ada satu pun yang dapat memberi manfaat dan mudarat pada mereka sekecil apapun, kecuali atas izin-Nya. Dia yang menutupi segala aib mereka dengan rapat dan menutupi kejahatan diri dengan adanya lemah dan kurang yang banyak. Marabahaya tidak akan memberi rasa takut pada mereka karena dengan iman itu memberi hati yang aman bagi mereka yang percaya kepada Tuhannya. Sebaliknya, meski ada dalam perlindungan penguasa hebat, tak akan didapati rasa aman itu bila waktunya tiba ketika ketakutan datang menjerat pada hati yang jauh dari iman. Dunia tidak menjanjikan apa-apa pada kita, rasa aman dan takutnya hanya kepalsuan yang dihadirkan oleh keadaan yang nisbi dan semu, yang membangkitkan nafsu merajai tubuh-tubuh yang tidak pernah terbiasa untuk mengekangnya. Lewat puasa tubuh-tubuh itu akhirnya bisa memisahkan antara kenyataan dan kepalsuan. Antara nikmat senang dan nikmat tenang. Bilai tirai-tirai kenikmatan dunia disibak, yang terlihat di dalamnya hanya seonggok kesia-siaan, kecuali di dalamnya kita sebut nama-Nya. Maka nikmat haram tidaklah menjadi pilihan hati. Jiwa akan mencari dan merindukan ketenangan melalui kenikmatan yang halal walau sedikit tetapi di baliknya ada balasan yang besar dari-Nya di tempat yang kekal dan sempurna.

Ucapan keimanan mudah untuk diucapkan tetapi akan ada ujiannya untuk lisan yang mengatakannya dan tangan yang menuliskannya, serta pikiran yang memikirkannya, dan hati yang merasainya. Keimanan diuji untuk memberi bekas dan menancapkannya lebih dalam. Para hamba-hamba-Nya lebih senang hati mendapatkan ujian dan cobaan daripada kenikmatan. Menjauhi keamanan dan kenyamanan, dan mendekati marabahaya dan kesukaran sebab dari semua itu mereka mendapatkan keterjagaan. Karena keamanan yang sebenarnya tidak datang dari apapun, melainkan ketika seseorang itu berada dekat dengan-Nya.

Tidaklah pedang itu tajam karena dari awalnya tajam, tapi karena terus dalam penempaan secara berulang-ulang. 

Posting Komentar untuk "Puasa dan Revolusi"