Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Usia Ada Masanya


Masa lalu, berpuluh tahun lalu lamanya, hanya bisa dilihat dalam kenang, menghadirkan rasa yang ingin kembali, tetapi tidak bisa. Sehingga hanya cukup dirasakan sebagai nostalgia. Merasakannya dalam diam dengan nunsa hitam putih. Damai tenang terasa, serasa ingin jatuh lelap dalam tidur. Kini dunia terasa asing rasanya bagi yang telah hidup di berbagai transisi zaman. Masa ini akan cepat berganti usang menjadi lalu. Kenangan apa hari ini yang akan kita tinggalkan untuk masa depan? 

Bayangkan bila nanti sudah tua, sudah lapuk digerogoti zaman. Akan terlalu renta mengikuti roda-roda waktu yang berputar cepat. Harapan-harapan yang dibangun di kala muda mulai memudar. Tak sadar usia sudah ke sekian. Sementara si diri masih sendiri. Belum temukan teman “kasih” setia untuk dibawa menua bersama. Senja sudah diambang mata untuk berkelana mencari diri tentang “jati”-nya. Walaupun dalam ukuran umur, saya masih disebut muda, tetapi dalam satu hal saya merasa sudah “tua” dan dalam satu hal lainnya mentalitas yang dimiliki seperti anak-anak.

Mungkin benar orang bilang, tua muda bukan ukuran usia, tetapi spirit, ghirrah, dan harapan (impian/cita-cita) yang terbentang oleh kesempatan yang datang atau ditemukan. Pondasi yang terlambat dibangun mungkin bisa menjadi penyebab yang merapuhkan sebuah struktur. Usia ada masa-masanya, dan masa-masa ada usianya. Hiduplah sesui zaman dan berlakulah sesuai waktunya. Jangan mendahului di satu sisi tetapi mengabaikan sebagian sisi lainnya untuk ditumbuhkan terutama sisi-sisi yang akan menjadi penopang struktur utama di hidupnya. 


Posting Komentar untuk "Usia Ada Masanya"